Showing posts with label Bab X. Show all posts
Showing posts with label Bab X. Show all posts

Thursday, February 6, 2014

Lahirnya The Crime Buster BAB 14

BAB  14

Di tempat lain di jalan tol, pak Anto bersama istrinya yang akan menuju Diamond Tapanuli Hoteldengan mengendari Kijang Jantan untuk menemui direktur untuk memperbaharui instalasi listrik hotel.

Mengingat dirinya sudah terlambat, Pak Anto mengendari mobilnya dengan kencang, sehingga tanpa disadari bahwa di depannya adalah merupakan tikungan untuk belok ke kiri. Akhirnya dia terpaksa menginjak rem namun rem mobil blong. Pak Anto resah dan mencoba membantu stirnya ke kiri namun terlambat. Mobil pun menabrak gerbang pembatas jalan tol dan jatuh. Pak Anto dan istri panik, mereka berteriak dan tutup mata.

“BRMMMM…..”.

“BRAK……!!!”

Mobil pun jatuh dari jalan tol, namun E-Man sedang melayang-layang di langit melihat kejadian tersebut dari segara menolong. Bak Superman, E-Man menangkap moncong mobil Kijang tersebut.

Semua orang yang di sekitar jalan tol dan juga di bawah tol takjub melihat E-Man menangkap mobil tersebut. Sebenarnya E-Man sangat keberatan mengangkat mobil tersebut karena kekuatannya tidak sehebat Superman. Namun dengan penuh perjuangan E-Man akhirnya berhasil mendaratkan mobil tersebut ke tanah.

Pak Anto dan istrinya seolah bermimpi di siang bolong, yang sempat merasakan bahwa mereka tidak akan selamat. Pak Anto teringat akan mimpinya bahwa ia akan diselamatkan oleh E-Man dan juga teringat akan kostum yang dipakainya.

“Hore….! Plok…plok…plok”, semua orang kagum dan bertepuk tangan.

Pak Anto dan istrinya membuka pintu mobil dan keluar untuk menemui E-Man, sedangkan orang-orang di sekiar TKP langsung mengabadikan momen tersebut. Ada yang memakai seluler yang berkamera dan juga dengan kamera digital.

“Oh…, E-Man…! Electric-Man”, ucapnya pak Anto dengan kuat. “Terima kasih atas pertolonganmu…”.


“E-Man…! Electric-Man…!!!”

Orang-orang yang kagum itu pun ikut mengucapkan nama E-Man.


“Iya, kalau tidak karena engkau kami tidak akan selamat…”, sambung istri pak Anto dengan mata berbinar-binar.

“Terima kasih kembali pak, itu semua adalah pertolongan dari Tuhan…”, balas E-Man.

“JEPREET…!”

“JEPRET…!”


Orang-orang di lokasi kejadian sibuk mengambil foto E-Man dengan mengambil berbagai macam sudut.

“Bapak dan ibu hendak ke mana…”, tanya E-Man kepada pasutri tersebut.

“Kami mau ke Diamond Tapanuli Hotel, E-Man”, jawab pak Anto.

“Jangan ke sana, pak….”, larang seseorang pria berkemeja putih. “Hotel Diamond lagi dikuasai para teroris.”

“Hahhh…”, E-Man terkejut.

“Iya, pak. Polisi, dan tentara serta PIN sudah ada di sana…”, sambung pria yang lain yang berpakai kaos oblong warna merah. “Sebaiknya E-Man harus ke sana, karena sampai sekarang hotel tersebut belum berhasil diamankan.”

E-Man tersadar, dia teringat Roselina dan teman-temannya menuju hotel tersebut. Ia sempat melihat mereka dari langit. Tanpa pamit E-Man langsung terbang menuju angkasa biru.

“Whuuuussss…..!”

“Wowww….!!!”

Orang-orang sekitarnya termasuk pak Anto dan istri terheran-heran dan kagum melihat E-Man terbang melambung tinggi ke langit.

Di tempat yang berbeda di Tarutung Plaza Center yang tidak jauh dari lokasi, Christine mencoba mengambil selulernya untuk menghubungi Rogan, kekasihnya. Namun seluler Rogan tidak aktif. Dengan penuh sabar Christine kembali menghubungi kekasihnya, tetapi sulelur yang dihubungi “tulalit”. Christine pun kesal.

“Ukhh, dasar cowo…”, Christine kesal.

“Kenapa saat dibutuhkan hpnya tak aktif”, gumamnya dengan kesal. “Kalau hpku tak aktif dia suka-sukanya marah samaku.”

“Gagal dech recanaku belanja…”, gumamnya kembali. “Hmmm, aku coba aja menelepon Mario, siapa tahu dia bisa menemaniku belanja…”, Christine teringat Mario bagaikan dapat ide cemerlang.

Christine membuka nomor kontak selulernya dan mencari nama Mario, namun tak jadi dihubunginya sebab ia disapa seorang perempuan cantik yang berpakain seksi dengan memakai lensa.

“Tin….! Christine…!”

“Hei, Eva…”, balas Christine.

Mereka berpelukan sambil cium pipi kiri dan kanan seolah-olah lama tak bersua.

“Apa kabar tin…”, tanya Eva.

“Baik, va…”, Jawabnya.

“Mana Rogan…”, tanya Eva kembali.

“Udah ah! Nggak usah dibahas. Dia nggak pernah ada di saat aku butuh”, jawab Christine kesal.

“Sabar tin…, mungkin dia lagi ada kerjaan”, hibur Eva.

“Makasih eva…”, balas Christine.

“Oh ya, apa kamu tidak tahu bahwa Diamond Tapanuli Hotel telah dibajak teroris…”, kata Eva memberi informasi terbaru.

“Apa…? Dibajak…”, Christine spontan panik.

“Kenapa, va…”, tanya Eva penasaran.

“Pamanku ada di sana…”, jawab Christine gusar. “Oh my God…”, Eva kaget.

“Kapan dibajak…”, tanya Christien sambil mencari nomor-nomor keluarga di selulernya.

“Tadi pagi, tin”, jawab Eva.

“Ohhh, aku harus menghubungi ayah, bibi dan keluarga lain…”, Christine segera menghubungi ayah dan keluarganya yang lain.

Satu per satu keluarga yang dihubungi oleh Christine spontan kaget, dan mereka akan segera ke tempat kejadian.

“Oke va, kita ke sana aja, plis…”, pinta Christine sambil selulernya ke tas jinjingnya.

“Yup, dari tadi itu mau kubilang samamu…”, pungkas Eva.

Mereka berdua pun segera berangkat ke lokasi hotel tersebut, sementara para pasukan Tim KOPASUS TNI-AD dan PIN sibuk mengatur situasi, serta komandan mencoba memberi perintah kepada teroris dengan menggunakan Toa pengeras suara.

“Kami pasukan TNI-AD dan PIN telah mengepung anda semua, harap menyerah sebelum kami memaksa”, perintah komandan KOPASUS.

“Hahahahahahaha….”, di lantai 10 Jarot tertawa keras dan menarik seorang sandera, pria yang memakai jas warna abu-abu menuju jendela hotel, namun sebelumnya dia memanggil anak buahnya.

“Rogan…”, panggilnya.

“Siap, bos…”, jawab Rogan sambil mendatangi Jarot.

“Ambil HT…”, perintah Jarot.

Rogan pun mengambil HT dan memberikannya kepada Jarot, lalu Jarot mencari sinyal radio HT para pasukan KOPASUS dan PIN.

“Srrrr….”, Jarot melacak sinyal.

“Semua tim, apakah sudah dapat titik lemahnya…”, tanya komandan KOPASUS yang ternyata telah berhasil dilacak Jarot.

“Halo semuanya, apa kabar…”, Jarot berbicara.

“Hahhh…”, Komandan KOPASUS tersontak kaget, termasuk komandan PIN dan semua pasukan yang ada di lokasi kejadian.

Lahirnya The Crime Buster BAB 11

BAB 11

Seketika itu juga ruang sistem keamanan dipenuhi para opsir yang menjaga hotel. Dan Kapten Rian menunjukkan sebuah bungkusan serta memberi penjelasan.

“Oke, para anak buahku…! Ini ada bungkusan berisi duit sebesar seratus juta lebih yang diberikan oleh Letnan Parto kepada kita atas ucapan terima kasihnya kepada kita yang telah menyelamatkan nyawa pada waktu operasi penyelidikan sindikat penyelundupan. Masing-masing dapat empat juta…”, jelas Pak Kapten.

“Empat juta…??? Horee….”, merasa heran dan bersorak-sorak dengan girang. Maklum saja, gaji mereka tidak ada sampai segitu.

Pak Kapten mulai membagi-bagi uang tersebut sementara Parto melangkah pela-pelan menuju Komputer sistem keamanan dengan pura-pura mendekati operator dan menyalami komputer.

“Thanks, Letnan…”, ucap salah satu opsir polisi yang menjadi operator.

“Sama-sama…”, balas Parto berpura-pura senyum.

Di saat operator lengah dan yang lainnya sibuk dengan menghitung-hitung uang, Parto langsung menekan beberapa tombol khusus tanpa diketahui. Dia berhasil melumpuhkan sistem keamanan dengan dengan cara tetap menampilkan gambar luar dan dalam hotel pada monitor, namun itu hanya gambar mati.

Parto mangambil seluler-nya dari saku kiri celananya, lalu segera meng-SMS Jarot : Sistem Keamanan Lumpuh…! Segera Menyerang. Tapi, ia bingung menekan tombol OKE.

Sebenarnya Parto tidak berniat untuk melakukan hal itu dan tidak tega melihat orang-orang hotel dianiaya. Ternyata Parto masih memiliki hati yang baik dan mau menolong orang. Ia bingung, ibarat sebuah malakama yang diperhadapkan di antara dua pilihan yang harus dipilihnya. Ia ingin menyelamatkan nyawa orang, namun ia juga harus membalas jasa-jasa Jarot terhadapnya. Akhirnya….

“Tuhan, maafkan aku….”, terpaksa Parto menekan tombol OKE, dan SMS pun terkirim.


Seluler Jarot bergetar tanpa suara, dan ia melihat pesan masuk serta langsung memberikan perintah.

“Rogan, pimpin serangan….”, perintahnya.


“Oke bos….”, jawabnya. “Oke, ayo semua bergerak”.

Tepat pada pukul 10.00 WIB, para gerombolan keluar dari mobil dan berlari-lari menuju Hotel.

Orang-orang sekitar tidak terkejut, tapi terkagum-kagum. Mereka tidak curiga karena gaya mereka mirip dengan pasukan polisi khusus.

Di saat Rogan masuk pintu tiba-tiba alram berbunyi. Rogan tiba-tiba terkejut. Dia segera mencari tahu siapa yang melakukan itu. Ternyata seorang satpam yang akan siap-siap menembak karena curiga melihat kedatangan dan tampang mereka. Sebab setahu dia bahwa polisi yang ditugaskan di hotel tidaklah berperalatan sangat lengkap.

Di saat sang satpam ingin menembak, namun ia lebih dahulu ditembak Rogan sebanyak tiga kali.

“Dor…!!! Dor…!!! Dor…!!!”

“Akhh…”, sang Satpam tersungkur bersimbah darah di dada dan kepalanya.

Suara Alram membuat para polisi yang ada di dalam hotel terkejut. Termasuk juga para tamu. Apalagi suara tembakan membuat orang-orang di dalam hotel panik seketika dan berlari kucar-kacir mencari tempat berlindung.

Kapten Rian, Letnan Dido dan yang lainnya segera menuju lokasi kejadian penembakan. Parto juga bergerak ke tempat. Ia heran. Koq bisa alaram bunyi. Ia tidak sempat menyelediki hal tersebut karena memang tidak sampai kepikirannya.

Di saat para polisi melihat mereka, langsung para gerombolan itu menembaki para polisi tersebut. Susana semakin memanas dan hampir semua benda-benda yang ada di dalam ruangan hancur berantakan. Orang-orang yang masih ada di lokasi hanya bisa merunduk dan berteriak histeris.

“Hei…, kalian cepat cari tempat perlindungan…”, teriak Dido kepada mereka yang berada di tengah-tengah lokasi kejadian.

Suasana kembali hening, melihat ada kejadian yang tidak beres, sang ketua, Jarot langsung bergerak menuju hotel dengan mengeluarkan Pistolnya dari balik baju.

Sambil merunduk, dia mendekati tempat perlindungan Rogan.

“Koq kalian menembak tanpa kuperintahkan…”, tanya Jarot

“Maaf bos, tiba-tiba satpam menekan tombol aalram…dan akan menembak kami. Ya terpaksa aku tembak…”, jelas Rogan dengan merunduk.

Letnan Dido mulai panas, lalu ditembaknya ke arah gerombolan tersebut sekalipun tidak kena. Dia mencoba menggertak dengan cara menembak.

Jarot segera mencari siasat untuk menyerang. Dia menyuruh Janus dan lainnya menyerang lewat pintu belakang hotel.

“Nus…, kamu lewat dari belakang”, perintahnya. “Bawa temanmu…”.

“Oke bos…, hei kalian berlima ikut aku…”, segera mememinta teman-temannya ikut dia.

Janus dan teman-temannya, namun hal itu terlihat oleh Parto dan membiarkan mereka masuk lewat tangga luar yang ada di belakang hotel.

“Eh, Parto…”, kata Janus. “Kamu koq di situ aja, bantu kami dong…”. Ajaknya sambil berlari menuju belakang Letnan Dido dan teman-temannya.

Para polisi itu hampir terkepung dan beberapa anggota polisi terkena tembakan dari belakang tanpa diduga.

Ternyata sifat kemanusiaan Parto masih ada, dia tidak tega melihat rekan-rekannya mati konyol.

Kapten Rian sudah tidak punya tempat perlindungan, dan Rogan telah bersiap-siap untuk menembak Rian dengan Magazine-nya, begitu juga dengan teman-teman yang lainnya.

Untuk menjaga dan melindungi diri, Kapten Rian hanya bisa menembakkan senjatanya ke arah Janus dan teman-temannya.

Janus dan beberapa temannya terkena peluru panas. Janus dan yang lainnya terjatuh, namun kembali bangkit berdiri. Kapten Rian terkejut.

“Ha…? Mereka pake rompi anti peluru…”, gumamnya.

Dido dan yang lain mencoba untuk melindung Rian, namun tak bisa karena mereka juga harus berusaha untuk melindungi diri dari tembakan para anak buah Jarot.

Setelah bangkit berdiri, Janus dan yang lainnya mengacungkan senjatanya ke arah Kapten Rian. Dan siap untuk menembak. Melihat kejadian tersebut, Parto segera berlari untuk melindungi Kapten Rian dengan memeluk tubuhnya sembari membelakangi mereka yang mereka. Peluru pun dimuntahkan….!

“Dor…! Dor..! Dor…!”

“Dor…! Dor…! Dor…!”

“Dor…!”

“Akh….”,

“Gedebugh….!!!”


Parto berhasil melindungi Kapten Rian, meski ia memeluknya sampai terjatuh. Namun naas bagi Letnan Parto. Punggungnya telah berlumuran darah oleh beberapa besi panas yang telah menembus tubuhnya. Tak pelak, ia akhirnya tersungkur namun masih tetap memeluk tubuh sang kapten.

Kapten Rian terkejut, dan segera berteriak. Ia tidak perduli dengan yang lain.

“Parto, kau tidak boleh mati…”, ucapnya dengan mata berair.

“Letnan….”, teriak Letnan Dido seraya meraya menuju Kapten Rian untuk menghindari tembakan.

Tidak hanya Letnan Dido dan teman-temannya yang terkejut, tapi Janus dan yang lainnya ikut terkejut.

Sebenarnya Janus dan teman-temannya tidak panik, namun terkejut setelah punggung Parto berlumuran darah.

“Hahh, setahuku si Parto tadi pake rompi anti peluru”, gumamnya perasaan. “Tapi tubuhnya koq berlumuran darah…! Ide apalagi ini…”, semakin gusar.

Sementara waktu hening seketika….

Lahirnya The Crime Buster BAB 10

BAB 10

Sekitar pukul 9.30 WIB Roselina, Roy, Ricky, dan teman-teman yang lainnya sudah sarapan dan berencana akan berangkat ke kota.

Roy kembali tidak tenang akan kepergian Mario begitu saja, dan Roselina semakin merasa aneh setelah Mario pergi tanpa pemberitahuan.


“Ladys and gentlemen, we go on now….”, peritah Roy sebagai ketua rombongan kepada rombongannya.

Mereka pun menuju bus yang telah dipersiapkan sebelumnya, dan bus tersebut merupakan bus yang mereka pakai kemarin.

Setelah mereka masuk, bus melaju dengan dengan santai ke tujuannya. Di dalam, semua rombongan penuh keceriaan, apalagi Ricky yang duduk di samping Roselina. Ia merasa berhasil menguasai orang yang dia cintai.

Di tempat lain, mobil gerombolan Rojan Gan’k telah berada di lokasi yang sedikit agak jauh dariDiamond Tapanuli Hotel. Sengaja diparkir agak jauh agar tidak dicurigai dan diketahui oleh para tim Keamanan dari Kepolisian yang sedang berjaga-jaga di sekitar Diamond Tapanuli Hotel tersebut.

Semua gerombolon telah siap untuk menyerang yang telah lengkap dengan persenjataan dan alat komunikasi. Tanpa basa-basi, Jarot sang Ketua geng memerintahkan Parto untuk beraksi terlebih dahulu.

“To, segera kamu selesaikan para penjaga yang ada di sekitar hotel”, perintahnya.


“Oke, bos…”, balasnya sambil membuka pintu samping kiri untuk keluar dari mobil.


“Tunggu dulu, kamu harus ingat mematikan kamera sistem keamanan…”, perintah Jarot kembali.

“Oke, bos…”, lalu Parto segera keluar dan pergi mendekati hotel serta tidak lupa memakai tanda pengenal kepolisian pada jas di dada kirinya.

Setiba di depan pintu, ia langsung diberi hormat oleh para opsir polisi yang menjaga pintu hotel. Dan ia membalas penghormatan mereka.

“Eh, kalian semua…”, panggil Parto.

“Siap Letnan..”.

“Tolong datang ke ruang sistem keamanan…”.

“Ngapain Letnan…”.

“Ada sedikit tips dari aku…”.

“Tapi kami harus berjaga-jaga di sini, Letnan…”.

“Kalian ga’ mau, ya sudah…”, Parto pura-pura buka pintu hotel untuk masuk.

“Eh, tunggu Letnan…”.

“Good, panggil teman-teman kalian…, dan suruh datang ke ruang sistem keamanan, oke…”, perintahnya lalu masuk ke hotel.

“Oke, Letnan…”.

Letnan Parto, anggota Satuan Intel Polisi Wilayah Kota Tarutung menuju lift dan segera ke ruang khusus sistem keamanan.

Parto mengetuk pintu ruang sistem keamanan. Pintu dibuka lalu Parto masuk.

“Pagi semuanya…”, sapanya

“Pagi…”, balas para opsir tim sistem keamanan.

“Eh, Pak Kapten Rian…, maaf saya terlambat…”, ucapnya pada Pak Kapten Rian.


“Ga’ apa-apa, tapi ngomong-ngomong koq kamu panggil para anak buahku masuk ke hotel. Aku lihat di kamera…”, balas Pak Kapten sambil bertanya dengan penasaran.


“O…itu…”, Parto langsung mengambil sebuah bungkusan yang tidak begitu besar dari kantong kiri jasnya.

“Apa itu…”, tanya Pak Kapten Rian.


“Ini, ada sedikit hadiah berupa uang untuk bapak dan kawan di sini…”, jawabnya.


“Untuk apa, dan dari mana duit itu…”, tanyanya kembali.


“Begini, aku sangat bersyukur atas bantuan bapak dan kawan-kawan. Duit ini saya dapat ketika saya mengikuti pemutaran undian rekening nasabah di Medan. Jadi saya dapat mobil Mitsubishi type Land Cruiser seharga lima ratus juta rupiah lebih, lalu saya jual…”, jelasnya secara detil.

“Wah, koq kamu jual….”, kata Pak Kapten.


“Ya saya jual, kan saya sudah mobil Misubishi Land Cruiser dan juga sudah punya Mobil Nissan. Mubazir saya punya mobil banyak. Apalagi aku sangat ingin berterima kasih sama rekan-rekan dan bapak”, jelasnya kembali.

“Emang, apa yang telah kami perbuat…”, tanya Letnan Dido.


“Masih ingat ga’ waktu kita mengadakan operasi penyelidikan sindikat penyelundupan perempuan di wilayah perbatasan Tapanuli Utara dengan Tapanuli Tengah yang akan di bawa ke Singapura…”, tanya Parto.

“Iya, aku ingat…, emang kenapa…”, tanya Letnan Dido kembali.


“Waktu itu aku terlalu ambisius maju ke depan tanpa mendengar perintah Pak Kapten, ya…aku malah tertembak…! Kalau ga’ ada kalian, wah aku sudah mati…”, jelas Parto.

“O…, karena itu kamu bawa duit ini…! Koq malah repot-repot…”, Pak Kapten merasa terharu atas perbuatan Parto.

Memang ada sedikit hubungannya dengan uang yang dibawa Parto terhadap kebaikan mereka kepada Parto di samping sebagai alat untuk melumpuhkan sistem keamanan hotel, yang pada waktu operasi pertamanya di wilayah Tapanuli Utara ia tertembak karena terlalu ambisius. Sebenarnya pada operasi itu ia ingin membalaskan dendam ayah angkatnya, si Jarot, yang telah membunuh beberapa anak buah Jarot demi memperebutkan wilayah kekuasaan.


“To, kamu ga’ usah repot-repot…, sesama teman harus saling tolong-menolong apalagi dalam tugas…”, jelas Dido sedikit agak menolak karena menganggap Parto sebagai sahabat.

“Aku mohon, terimalah pemberianku…! Aku ikhlas koq…! Habis aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk kalian. Hanya ini yang bisa saya lakukan”, kata Parto sedikit memohon.


“Baiklah, aku terima…”, jawab Dido

“Aku juga…”, sambung Kapten Rian.

Sebelum Parto memberikan bungkusan tersebut, pintu diketuk dari luar ruangan.

“Masuk…”, kata Pak Kapten.


“Lapor…! Kami diperintahkan Letnan Parto datang ke sini…”, salah satu polisi penjaga pintu melapor kepada Kapten Rian setelah mereka masuk.

“Oke, sini semuanya…”, Parto langsung memanggil mereka.


“Nih Bungkusan berisi duit sebesar seratus juta lebih… aku berikan kepada Pak kapten Rian agar dibagi rata ke semua anggota Polisi yang ada di sekitar Hotel…”, Parto memberikan penjelasan.

“Eh, tolong panggil pak, para sniper dan yang lainnya yang belum ada di ruang ini…”, tiba-tiba ia teringat para sniper yang ada di lantai hotel paling teratas. Sebab itu juga bisa mengagalkan rencana mereka.

“Koq harus, kan bisa nanti atau besok aku kasi…”, Kapten Rian heran dengan permintaan Parto.“Kita, kan lagi situasi pengamanan…di dalam hotel ini banyak para tamu-tamu negara….”.

“Aku tau pak! Tapi, apa salahnya dipanggil…kan, hanya sebentarnya…! Ntar, nanti kelupaan…”, jawab Parto tidak kalah.

“Iya juga ya…”, Kapten Rian membenarkan Parto. “Oke, semua tim unit, tolong datang segera datang ke ruang sistem keamananan…”, Perintahnya melalui HT.