Thursday, October 24, 2013

Penyebab Keguguran


Pastinya para ibu hamil sangatlah takut pada yang namanya "Keguguran" iya kan? kecuali para ibu ibu yang tidak bertanggung jawab dan ingin sekali anak yang di kandungnya tersebut tidak hidup atau menggugurkannya, wah itu sangat kejam dan dilarang oleh agama. pastinya pembaca setia blog cepat hamil tidak seperti itu. memang keguguran paling di takuti oleh para ibu apalagi yang baru saja menikah dan menginginkan buah hati, jadi artikel ini di buat bertujuan supaya angka keguguran di dunia ini semakin berkurang.

Meskipun setiap wanita berisiko keguguran, namun akan lebih besar risikonya kepada seseorang yang memiliki kecenderungan seperti berikut:
1.  Usia: wanita dengan usia yang lebih tua berisiko mengandung bayi dengan kelainan kromosom dan besar kemungkinannya untuk keguguran. Wanita yang hamil saat usia 40 tahun berisiko keguguran dua kali lipat dibanding wanita berusia 20 tahun.

2. Riwayat keguguran: wanita yang memiliki dua atau lebih riwayat keguguran secara berturut-turut lebih mungkin dibandingkan wanita lain untuk keguguran lagi.

3. Penyakit kronis: diabetes tidak terkontrol dan kelainan darah tertentu yang diwariskan, gangguan autoimun (seperti sindrom antifosfolipid atau lupus), dan gangguan hormonal (seperti sindrom ovarium polikistik) adalah beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko keguguran.

4. Masalah rahim atau serviks: memiliki kelainan tertentu pada rahim bawaan, kondisi rahim yang parah (pita jaringan parut), atau leher rahim yang lemah atau tidak normal (dikenal sebagai insufisiensi serviks) adalah peluang untuk keguguran. Hubungan antara fibroid rahim dan keguguran masih kontroversial, namun kebanyakan fibroid tidak menimbulkan masalah.

5. Riwayat cacat lahir atau masalah genetik: jika Anda, pasangan, atau anggota keluarga Anda memiliki kelainan genetik, pernah diidentifikasi punya masalah genetik pada kehamilan sebelumnya, atau pernah melahirkan anak dengan cacat lahir, Anda akan berisiko lebih tinggi untuk keguguran pada kehamilan selanjutnya.

6. Infeksi: penelitian telah menunjukkan risiko yang paling tinggi untuk keguguran jika Anda memiliki listeria, gondok, rubella, campak, cytomegalovirus, parvovirus, gonorrhea, HIV, dan infeksi tertentu lainnya.

7. Merokok, minum alkohol, dan menggunakan narkoba: merokok, minum alkohol, dan menggunakan obat-obatan seperti kokain dan MDMA (ekstasi) selama kehamilan dapat meningkatkan risiko keguguran. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tingginya tingkat mengonsumsi kafein dan peningkatan risiko keguguran.

8. Obat: terdapat beberapa obat yang jika dikonsumsi dapat meningkatkan risiko keguguran. Penting bagi Anda untuk meminta penjelasan kepada dokter jika diberikan beberapa obat untuk diminum saat hamil. Hal ini juga berlaku untuk obat resep, termasuk obat nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) seperti ibuprofen dan aspirin.

9. Racun lingkungan: faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang berisiko keguguran adalah racun yang ada di lingkungan. Beberapa bahan kimia seperti formaldehid, benzena, dan etilen oksida, dan dosis besar radiasi atau gas anestesi dianggap berbahaya.

10. Faktor Paternal: kondisi ayah juga berkontribusi terhadap risiko keguguran. Para peneliti sedang mempelajari sejauh mana sperma dapat rusak oleh racun lingkungan tapi masih memungkinkan untuk membuahi sel telur. Beberapa studi telah menemukan risiko yang lebih besar untuk mengalami keguguran ketika ayah telah terkena merkuri, timbal, dan beberapa bahan kimia industri dan pestisida.

11. Obesitas: beberapa studi menunjukkan adanya hubungan antara obesitas dan keguguran.

12. Prosedur Diagnostik: ada kemungkinan kecil terhadap risiko keguguran setelah chorionic villus sampling (diagnosa yang dilakukan pada jaringan plasenta) dan amniosentesis (suatu pemeriksaan diagnostik menggunakan cairan ketuban, untuk mengetahui kemungkinan kelainan pada janin).

13. Risiko keguguran juga akan tinggi jika Anda hamil kembali dalam waktu tiga bulan setelah melahirkan.

Demikian Beberapa Penyebab Keguguran semoga bermanfaat.

Mitos Kehamilan

Saat sedang hamil, biasanya wanita selalu mencari tahu apa saja yang boleh atau tidak boleh dilakukan karena takut akan berpengaruh kepada si jabang bayi. Bahkan banyak cerita dari orang-orang terdahulu atau mitos-mitos yang sampai sekarang masih dipercaya oleh para calon ibu. Menurut Everyday Family, ada 5 mitos yang tidak perlu Anda percaya saat sedang hamil.

1. Perut condong ke arah bawah = mengandung anak laki-laki
Tidak jarang orang-orang, terutama wanita yang pernah hamil, akan memberikan komentar bahwa Anda hamil anak laki-laki ketika melihat perut yang condong ke arah bawah. Memang selama ini banyak wanita percaya perut yang membesar ke arah bawah, berarti janin yang dikandung jenis kelaminnya laki-laki. Namun anggap itu tidak benar. Yang benar adalah tidak semua wanita memiliki jenis kandungan yang sama, termasuk hamil dengan perut condong ke arah bawah. Posisi bayi dalam kandungan tidak menentukan jenis kelaminnya.

Bentuk perut saat hamil bisa dipengaruhi oleh berat badan, tinggi badan dan faktor genetika Anda. Jika ingin mengetahui jenis kelamin bayi Anda, dapat meminta bantuan dokter melalui USG. Hanya saja memang beberapa pasangan ada yang lebih senang menebak jenis kelamin sang janin.

2. Denyut jantung cepat = mengandung bayi perempuan
Mitos kedua ini juga tidak benar. Ketika janin mulai memiliki denyut jantung, ia akan berdetak dengan sangat cepat. Mitos tersebut lahir dari fakta bahwa wanita memang memiliki detak jantung yang lebih tinggi daripada pria. Namun, hal itu bukan hal yang tepat untuk dijadikan prediksi jenis kelamin bayi.

3. Mengangkat lengan lebih dari tinggi kepala akan menyebabkan bayi terlilit tali pusar dan akan keguguran
Mitos ini tentu saja tidak benar. Tidak ada korelasi antara mengangkat atau meletakkan sesuatu yang lebih tinggi dari kepala akan menyebabkan bayi terlilit tali pusar. Tali pusar yang kusut terjadi karena gerakan janin, bukan karena gerakan ibu. Hal tersebut umum terjadi pada bayi. Selama kandungan belum mendekati tanggal perkiraan kelahiran, pergerakan bayi yang menyebabkan tali pusar melilit ini masih bisa berubah.

Hanya saja memang untuk hamil sebaiknya lebih berhati-hati saat bergerak terutama jika kondisi kehamilan sudah memasuki trimester akhir. Apabila Anda harus mengambil atau meletakkan sesuatu di tempat yang lebih tinggi dari kepala, mintalah seseorang untuk melakukannya.

4. Seks ketika hamil akan menyakiti bayi
Mitos keempat ini tidak benar! Alasannya adalah pertama, Mr. Happy tidak akan menembus rongga rahim tempat bayi bersembunyi. Kedua, hubungan suami istri dapat dilakukan apabila memang kehamilan yang dijalani tidak bermasalah. Beberapa wanita tidak bisa merasakan seks ketika sedang hamil, namun beberapa wanita lainnya justru merasa lebih mersa karena terjadi lonjakan yang sangat tinggi pada hormon dan sensasi di area Miss V mereka. Banyak wanita mengaku mengalami orgasme untuk pertama kalinya saat sedang hamil. Untuk seks saat hamil ini, jangan malu untuk mengonsultasikannya pada dokter kandungan Anda.

5. Sering merasakan heartburn = bayi punya rambut yang tebal
Heartburn merupakan suatu kondisi ketika asam lambung meningkat. Baru-baru ini, New York Times melakukan studi untuk membuktikan benar atau tidaknya mitos tersebut. Hasilnya, hanya ada 28 peserta responden dalam studi tersebut yang memang merasakan heartburn dan kemudian melahirkan bayi dengan lebih banyak bulu.

Meski begitu tetap saja, banyak orang percaya bahwa jika Anda merasakan heartburn saat sedang hamil, artinya Anda akan melahirkan bayi dengan rambut cukup tebal. 71% dari semua wanita mengalami heartburn saat hamil karena keluarnya hormon-hormon yang mengendurkan otot sfingter. Dan banyak dari wanita tersebut melahirkan bayi dengan rambut tidak terlalu tebal.

Kesalahan Merawat Kulit Ketika Berjerawat.

Setiap perempuan mendambakan kulit sempurna. Untuk mencapai kesempurnaan, perempuan sering membuat kesalahan dalam perawatannya dan cenderung mengabaikan informasi akurat dari dampaknya terhadap kesehatan. Berikut

1. Memencet Jerawat
Saat jerawat meradang, memencetnya dengan alat apapun sangat tidak dianjurkan. Selain membuat jerawat infeksi, juga bisa meninggalkan noda dan jaringan parut setelah sembuh nanti. Memencet jerawat, apalagi menggunakan tangan yang tidak higienis justru membuat bakteri lebih cepat menyebar dan jerawat pun bertambah banyak.

Atasi jerawat meradang dengan baluran es batu, lalu oleskan spot gel atau gel penghilang jerawat secara teratur. Bila jerawat sudah sangat parah, sebaiknya minta bantuan dokter kulit.

2. Menggunakan Berbagai Produk Perawatan
Biasanya demi menyembuhkan jerawat dengan cepat, kita cenderung mencoba berbagai macam produk. Saat produk yang sudah dibeli tak kunjung menunjukkan hasil, kita pun akan beralih ke produk lain dan seterusnya, dan seterusnya.

Perlu diingat, menghilangkan jerawat sampai tuntas perlu kesabaran dan ketelatenan. Jerawat tidak hilang hanya dalam satu atau dua bulan. Sering berganti-ganti produk karena tidak puas dengan produk sebelumnya, bisa berbahaya bagi kulit.

Kulit perlu waktu beradaptasi dengan bahan-bahan dari produk yang digunakan. Mengganti produk terlalu sering, akan membuat kulit kesulitan beradaptasi dengan formula produk yang baru sehingga jerawat justru bertambah parah.

Untuk mendapatkan produk yang tepat, kenali dengan benar jenis kulit, kemungkinan alergi dan reaksi terhadap bahan tertentu. Akan lebih baik bila Anda berkonsultasi dulu dengan dokter spesialis kulit.

3. Terlalu Sering Mencuci Muka
Banyak produk permbersih khusus kulit berjerawat yang menjanjikan bisa membantu menghilangkan jerawat. Hal ini menyebabkan para konsumen membersihkan wajah mereka lebih sering, dengan harapan jerawatnya bisa cepat hilang.

Tindakan ini jelas salah. Jerawat sebenarnya tidak hanya disebabkan oleh debu dan kotoran. Melainkan hormon atau penggunaan produk yang tidak tepat. Jadi, mencuci muka terlalu sering tidak banyak membantu pembersihan jerawat. Sebaliknya, membersihkan wajah secara berlebihan hanya akan membuat jerawat makin parah.

Bersihkan wajah dengan facial foam berformula lembut, maksimal tiga kali sehari. Jangan lupa oleskan pelembab setelahnya.

4. Tidak Tahu Kandungan Produk Perawatan
Salah satu kesalahan merawat kulit berjerawat, kita cenderung hanya melihat 'janji' yang tertulis di bagian kemasan produk tanpa memerhatikan bahan-bahannya. Jenis dan karakter kulit berbeda-beda. Untuk dapatkan produk yang tepat, Anda harus tahu jenis kulit baru menentukan produk yang benar.