Showing posts with label Bab XI. Show all posts
Showing posts with label Bab XI. Show all posts

Thursday, February 6, 2014

Lahirnya the Cime Buster BAB 16

BAB 16

“Dor…dor..dor…!”

E-Man pun tak ingin diserang terus, maka sambil berkelit di udara sambil menghindari tembakan ia pun mencampakan bola listrik ke semua para teroris yang menembakinya.

“Hiaaaat…! Rasakan ini..!”

“Zrreeettt….zreet…”

“Whuss…whuusss…”

“Zret…zret…zret…zret…!”


“Arghhhhkkk…!”

“Akhhh…!”

“Aghhhhkk….!”


Semua para anggota Rojan Gan’k yang menembak E-Man terlempar ke belakang dan meringis kesakitan, termasuk Jarot, Janus dan Rogan.

Penyerangan yang dilakukan oleh E-Man dianggap Komandan KOPASUS dan PIN sebagai kesempatan untuk masuk ke dalam hotel. Mereka pun sepakat untuk menyerang dari pintu masuk, dan segara memerintahkan pasukan masing-masing.

Di saat para pasukan pengamanan masuk, mereka ditembaki oleh para anggota geng.

“Dor…dor…dor…!”

“Oh…”, Komandan KOPASUS tersontak kaget.

“Mundur semua…”, perintahnya segera.

Pasukan KOPASUS dan PIN itu pun mundur sambil menghidari peluru-peluru para geng tersebut, yang diduga tidak dijaga namun ternyata sebaliknya.

Dua orang anggota geng yang berada di ruang monitor sistem keamanan melihat aksi E-Man dan segera memberi kode ke semua anggota geng untuk menyerangnya. Dari segala sudut, seluruh anggota pun segera melaksanakan kode tersebut.

Dengan gesit, E-Man pun masuk ke hotel melalui jendela yang terbuka, namun di saat bersamaan para anggota geng yang sudah mendengar kode tersebut langsung menembaki E-Man secara bertubi-tubi. Tembakan pun tidak dapat dielakkan oleh E-Man.

“Dor…dor..dor…!”

“Dreeet…drreet…!”

“Argghhh….”, E-Man tertembak sebanyak lima kali, satu di bagian dada, dua di bagian perut, dan tiga di bagian punggung.

Alhasil E-Man terjatuh ke luar dari jendela hotel dan menabrak bagian atas mobil sedan.

“Braaak…!”

“Gedebukkk…!”

“Akhhhh…”, E-Man kesakitan.

E-Man jatuh menabrak mobil begitu keras sehingga, dan terpental ke jalan raya. Orang-orang sekitar hotel pun terkejut melihat E-Man jatuh dari ketinggian lantai 10.

Sekitar 30 detik, sambil menahan kesakitan E-Man pun kembali bangkit untuk berdiri. Peluru-peluru itu tidak masuk ke tubuhnya, hanya menembus sedikit kulit tubuhnya, sehingga peluru yang lengket dapat dilihat dari bagian luar tubuhnya. E-Man pun merenggangkan dan menggoyang tubuhnya, dan saat itu juga peluru lengket di tubuhnya berjatuhan, tubuhnya sedikit terluka dan berdarah namun tidak parah.

Sementara, para anggota geng yang telah menembaki E-Man mencoba menyadarkan dan membangkitkan ketua geng dan yang lainnya. Di saat itu juga E-Man langsung kembali terbang ke lantai 10 dan masuk melalui jendela.

“Wussshhh….!”

“Wow! Hebat sekali…”, gumam Christine setelah melihat E-Man berhasil bangkit kembali masuk ke hotel, begitu juga dengan yang lainnya.

“Plok…plok…plok…!”

“Hebat…! Tembakan kalian cukup membuatk jatuh dan kesakitan…”, puji E-Man setelah berada di depan para anggota geng dan sandera.

“Hahhh….”, mereka benar-benar terkejut, tak terkecuali Roselina dan yang lainnya.

Tanpa basa-basi mereka langsung menembak E-Man, kecuali Jarot, Rogan dan beberapa anggota lainnya masih menahan sakit akibat sengatan bola listrik dari E-Man.

“Dor..dor..dor…!”

“Dreeet…dreeet…!”

“Whusss…whuss…whuss…!

“Dor…dorrr…dorr….!”


E-Man berkelit dengan gesit menghidari peluru-peluru yang mengarah ke padanya, dan dia pun membalas serangan mereka, kali ini dengan cambuk listrik.

“Zrrrrreeeet…..!”

“Tasshhh….tash…!”

“Whuuisssh….!”


Bagaikan seorang Matador, E-Man pun mencambuk mereka satu per satu dengan begitu cepat.

“Zrrrrreeet…..starhhh…!”

“Akh…!”

“Zrrrrreeeet…..!”

“Tasshhh….tash…!”

“Whuuisssh….!”

“Starss…tarss…tarssh…!”

“Auughhh…..”, mereka tidak menghidar dan satu per satu pun langsung roboh.

Suasana ruangan pun benar-benar berubah berantakan akibat tekanan cambuk listrik dari E-Man, namun ada juga akibat dari tembakan para anggota geng tesebut.

E-Man berjalan menuju Jarot dan mengambil HT-nya dan berbicara kepada mereka, para pengaman yang ada di lokasi hotel.

“Saya E-Man, hotel sudah aman dan terkendali. Segeralah mengamankan para sandera…”, ucap E-Man lewat HT.

Mendengar berita baik tersebut, komandan KOPASUS dan PIN segera memerintahkan pasukannya untuk masuk ke hotel. Kedua komandan tersebut pun ikut masuk, serta diikuti oleh pak walikota.

E-Man meletakkan HT di samping Jarot yang masih sedang kesakitan, dan berjalan menuju Roselina yang berdekatan dengan Ricky dan sandera lainnya.

“Apa kalian tidak apa-apa…”, tanya E-Man.

“Iya, terima kasih ya…”, balas Roselina dengan lega.

“Iya, terima kasih E….”, sambung Ricky merasa cemburu namun perkataannya putus yang ternyata tidak tahu sambungan “E”, karna hanya melihat gambar “E” di dada E-Man sebagai logonya.

“E-Man, atau Electric-Man…”, kata E-Man melengkapi ucapan Ricky.

“E-Man…”, Ricky merasa agak heran mendengar nama itu, Roy dan yang lainnya pun ikut merasa heran.

Tanpa disadari E-Man, Jarot telah pulih kembali dan menarik lengan kanan Roselina sambil menodongkan pistol ke kepalanya.

“Aaaa…”, Roselina terkejut.

“Jangan ada yang bergerak…”, perintah Jarot keras sambil mengacungkan pistolnya ke arah E-Man dan para sandera.

Rogan pun telah pulih dan diam-diam mengisi peluru bazooka.

“Kaboom…”, sebuah peluru bazooka melasat ke arah E-Man, yang ditembakkan oleh Rogan setelah pulih dari rasa sakitnya.

E-Man sebenarnya masih bisa menghindar namun ia tetap pada posisinya karena para sandera masih berada di dekatnya, dan dengan cepat serta sekuat tenaga mendorong semua para sandera. Peluru pun tak terhindar dan mengenai dirinya, kali ini dia malah menangkap dan memeluk peluru supaya ruangan tidak ikut meledak.

“Duarrr…!”

“Aghhhh…”, E-Man roboh dan tersungkur di lantai hotel, dan kesakitan.

Ruangan pun penuh asap, dan tubuh E-Man dipenuhi bekas-bekas ledakan bazooka, di saat itu jugalah pak walikota, komandan KOPASUS dan PIN beserta pasukan pengaman masuk ke ruangan tersebut.

“Haaah…”, pak walikota terkejut melihat Jarot menahan Roselina sambil menodongkan pistol ke kepala Roselina dan juga terkejut melihat E-Man tergeletak di depannya.

“Maaf, pak. Tolong turunkan senjata kalian berdua”, perintah komandan KOPASUS kepada Jarot dan Rogan.

“Jarot…! Oh, Jarot…”, komandan PIN lebih terkejut lagi melihat Jarot yang ternyata masih sepupunya.

Lahirnya The Crime Buster BAB 12

BAB 12

Tiba Jarot dan yang lainnya segera menuju suara teriakan Kapten Rian tadi. Ia terkejut melihat Letnan Parto berlumuran darah yang masih dirangkul Kapten Rian sembari menangis. Tubuhnya pun bersimbah darah.

Dido dan yang lainnya berusaha untuk meninggalkan tempat melihat kedatangan Jarot, namun mereka dihadang oleh Janus dan teman-temannya.

“Hei, mau ke mana”, ancam Janus dengan pistolnya.

“Semuanya, jatuhkan senjata kalian masing-masing dan angkat tangan…”, Rogan juga ikut mengancam dan memerintahkan mereka agar meletakkan senjata mereka.

Dido dan rekan-rekannya meletakkan senjata ke lantai dan segera angkat tahan. Para anak buah Jarot yang lainnya tidak tinggal diam. Mereka segara mengambil senjata-senjata yang telah dilantai.

Lain hal dengan Jarot. Dia melangkahkan kakinya menuju Parto, dan menendang Kapten Rian.

“Minggir sana…”.

“Dugh….”,

“Akh…”.

Rangkulan Kapten Rian terlepas, dan iapun tersungkur jauh ke belakang. Janus langsung mengacungkan pistolnya ke arah Rian dan menyuruhnya angkat tangan.

Sementara Jarot merangkul tubuh Parto dan mengusap-usap wajahnya.

“To…! Mengapa kau lakukan ini…”, teriaknya dengan keras.

Parto tidak menjawab apa-apa, dia diam saja. Apalagi tubuhnya sudah terbujur kaku dan terasa dingin bila disentuh.

“Andai tak kau lakukan ini, kau tidak akan seperti ini…”, ucapnya kembali sembari meletakkan tubuh Parto ke lantai dengan perlahan-lahan.

Bos Rojan Gan’k pun menyelimutinya dengan taplak meja yang ada di dekatnya. Sedangkan Rian, Dido, dan yang lainnya merasa heran melihat kesedihan Jarot.

“Bah, ternyata dia kenal Parto…”, gumam Rian penasaran. “Tapi, Parto koq melindungi saya…”.

“Ada hubungan apa dia dengan Bos Mafia itu…”, tanya Dido berbisik kepada rekannya.

“Mungkin entah bapaknya, tulangnya, atau saudaranya kali…”, jawab rekannya.

“Tapi, dia koq melindungi Kapten…”, Dido bertanya kembali.

“Mana aku tahu…”, sanggahnya.


“Mungkin Parto satu keluarga dengan Dia, tetapi kepribadiannya tidak sama dengan Bos Mafai itu…”, bisik Dido.

“Mungkin juga…”.

Jarot berdiri dan memerintahkan para anak buahnya untuk mengumpulkan dan menyatukan para sandera.

“Hei, Nus… Rogan….! Satukan para sandera dan bawa mereka ke lantai lima”.

“Satu lagi…! Cari orang-orang yang masih bersembunyi…, termasuk si empunya hotel ini…”, perintahnya kembali sambil melihat-lihat di mana bersembunyi sang pemilik hotel.


“Di mana si Jacob itu bersembunyi…”, gumamnya.

Janus dan Rogan pun membagi tugas. Janus membawa para sandera ke lantai lima melalui tangga sedangkan Rogan mencari orang-orang yang masih bersembunyi. Alhasil, Rogan juga menemukan beberapa pria dan wanita dari persembunyian. Yakni para karyawan dan tamu, termasuk Direktur sekaligus pemilik Diamond Tapanuli Hotel.

Rogan dan teman-temanya pun membawa para sandera ke lantai lima. Namun dia menyuruh beberapa orang temannya tinggal untuk mengamankan pintu utama dan belakang serta menjaga keseluruhan lantai satu.

Di lantai lima, Jarot memerintahkan anak buahnya untuk memonitor keamanan hotel melalui komputer yang ada di ruang sistem keamanan.

Lalu dua orang anak buahnya pun pergi menuju ruang sistem keamanan. Kedua orang tersebut ahli dalam komputer. Baik software maupun hardware.

Sekitar 10.30 WIB bus yang berisikan rombongan Roy dan teman-temannya tiba di depan Diamond Tapanuli Hotel. Sebelumnya mereka telah shopping ke mall. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam hotel karena suara tembakan sudah tidak ada.

Roselina dan teman-temannya pun masuk ke dalam hotel. Dan seketika itu juga mereka terkejut melihat ruang chek in berantakan dan disertai beberapa bekas-bekas tembakan yang di dinding, lantai, maupun barang-barang yang ada di dalamnya.

Melihat hal itu, beberapa anak buah Jarot yang sedang berjaga-jaga di lokasi tersebut segara mengacungkan senjata ke arah rombongan Roy.

“Jangan bergerak…”

“Angkat tangan…”.

Mereka terkejut melihat kedatangan para anak buah Jarot sambil mengacungkan senjata ke arah meraka. Apa boleh buat, Roy dan teman-temannya terpaksa mengangkat tangan.

Ricky tak tahan melihat situasi tersebut, apalagi gadis yang dicintainya didorong-dorong tubuhnya. Dengan hati geram dia langsung melompat menuju orang tersebut.

“Hiaat…”, Ricky menyerang dengan tendangan ke arah orang yang telah mendorong Roselina.

“Dugh…”.

“Akh…”, terlempar ke arah meja ruang chek in.

Melihat hal itu para anak buah Jarot yang ada dilokasi segera mencoba untuk menembak Ricky. Namun Ricky ternyata cukup lihai. Dia mengagalkan mereka yang akan menembak sambil menendang benda-benda yang ada di sekitarnya ke berbagai posisi para anak buah Jarot.

“Pakh…, pakh…, pakh…”.

“Akh…”.

“Hekh….”

“Aukh…”.

Tendangan Ricky memang sangat kuat, sehingga meja, kursi, dan yang lain begitu keras menghantam para penjahat tersebut.

Rupanya hal itu sudah terlihat oleh Janus di ruang sistem keamanan. Sehingga dia segera ke lantai bawah untuk melihat situasi serta mengamankannya.

Ricky dan dan teman-temannya aman sementara. Roselina pun mendekati dan memeluknya.

“Ternyata kamu hebat juga Rick…”, bisik Roselina seraya mencium pipinya. “Cup…”.

Jantung Ricky berdegup kencang karena dia baru saja merasakan ciuman seorang gadis ke pipinya. Dia merasa gembira karena memang baru kali itu dia dicium seorang gadis yang sangat cantik.

“Wow, kamu memang hebat frend…”, puji Roy sambil menepuk punggung Ricky. Seketika itu juga Roselina melepaskan rangkulannya dengan wajah malu.

Teman-teman yang lain pun ikut memujinya. Namun keadaan seperti itu tidak berlangsung lama karena Janus sendiri datang dengan membawa senjata yang lebih hebat lagi.

“Hebat…”, ucap Janus dengan sinis sambil mengarahkan senjatanya ke arah Ricky.

Roselina dan yang lainnya kembali ketakutan. Dan ternyata Si Jarot dan beberapa anak buahnya yang telah mengikuti Rogan tanpa sepengetahuannya. Jarot tahu karena telah diberitahukan oleh salah satu anak buahnya yang sedang memonitor di ruang sistem keamanan. Namun Jarot dan yang lainnya tidak menampakkan diri. Dia ingin melihat sampai di mana kehebatan anak muda tersebut melawan Rogan. Sekaligus juga menguji kehebatan Rogan anak buahnya.

“Trims…! Tapi bagaimana dengan kamu sendiri…”, sambut Ricky juga dengan sinis sambil menunjukkan senjata yang diarahkan Janus kepadanya. “Aku pikir pria itu lebih hebat bila bertarung tanpa senjata, ya…, kan…”, mencoba memancing Janus agar bertarung dengannya tanpa senjata.

“Oh, ya…! Siapa takut…”, Janus terpancing, dan meletakkan senjatanya ke lantai. “Oke, serang aku…”, Janus menyuruh Ricky untuk menyerangnya seraya memberi kode untuk menyerang dengan tangannya.

“Oke…man…”, Ricky mengepalkan tangannya dan menyerang. “Hiiiaat…”.