Showing posts with label Bab VI. Show all posts
Showing posts with label Bab VI. Show all posts

Thursday, February 6, 2014

Lahirnya the Cime Buster BAB 16

BAB 16

“Dor…dor..dor…!”

E-Man pun tak ingin diserang terus, maka sambil berkelit di udara sambil menghindari tembakan ia pun mencampakan bola listrik ke semua para teroris yang menembakinya.

“Hiaaaat…! Rasakan ini..!”

“Zrreeettt….zreet…”

“Whuss…whuusss…”

“Zret…zret…zret…zret…!”


“Arghhhhkkk…!”

“Akhhh…!”

“Aghhhhkk….!”


Semua para anggota Rojan Gan’k yang menembak E-Man terlempar ke belakang dan meringis kesakitan, termasuk Jarot, Janus dan Rogan.

Penyerangan yang dilakukan oleh E-Man dianggap Komandan KOPASUS dan PIN sebagai kesempatan untuk masuk ke dalam hotel. Mereka pun sepakat untuk menyerang dari pintu masuk, dan segara memerintahkan pasukan masing-masing.

Di saat para pasukan pengamanan masuk, mereka ditembaki oleh para anggota geng.

“Dor…dor…dor…!”

“Oh…”, Komandan KOPASUS tersontak kaget.

“Mundur semua…”, perintahnya segera.

Pasukan KOPASUS dan PIN itu pun mundur sambil menghidari peluru-peluru para geng tersebut, yang diduga tidak dijaga namun ternyata sebaliknya.

Dua orang anggota geng yang berada di ruang monitor sistem keamanan melihat aksi E-Man dan segera memberi kode ke semua anggota geng untuk menyerangnya. Dari segala sudut, seluruh anggota pun segera melaksanakan kode tersebut.

Dengan gesit, E-Man pun masuk ke hotel melalui jendela yang terbuka, namun di saat bersamaan para anggota geng yang sudah mendengar kode tersebut langsung menembaki E-Man secara bertubi-tubi. Tembakan pun tidak dapat dielakkan oleh E-Man.

“Dor…dor..dor…!”

“Dreeet…drreet…!”

“Argghhh….”, E-Man tertembak sebanyak lima kali, satu di bagian dada, dua di bagian perut, dan tiga di bagian punggung.

Alhasil E-Man terjatuh ke luar dari jendela hotel dan menabrak bagian atas mobil sedan.

“Braaak…!”

“Gedebukkk…!”

“Akhhhh…”, E-Man kesakitan.

E-Man jatuh menabrak mobil begitu keras sehingga, dan terpental ke jalan raya. Orang-orang sekitar hotel pun terkejut melihat E-Man jatuh dari ketinggian lantai 10.

Sekitar 30 detik, sambil menahan kesakitan E-Man pun kembali bangkit untuk berdiri. Peluru-peluru itu tidak masuk ke tubuhnya, hanya menembus sedikit kulit tubuhnya, sehingga peluru yang lengket dapat dilihat dari bagian luar tubuhnya. E-Man pun merenggangkan dan menggoyang tubuhnya, dan saat itu juga peluru lengket di tubuhnya berjatuhan, tubuhnya sedikit terluka dan berdarah namun tidak parah.

Sementara, para anggota geng yang telah menembaki E-Man mencoba menyadarkan dan membangkitkan ketua geng dan yang lainnya. Di saat itu juga E-Man langsung kembali terbang ke lantai 10 dan masuk melalui jendela.

“Wussshhh….!”

“Wow! Hebat sekali…”, gumam Christine setelah melihat E-Man berhasil bangkit kembali masuk ke hotel, begitu juga dengan yang lainnya.

“Plok…plok…plok…!”

“Hebat…! Tembakan kalian cukup membuatk jatuh dan kesakitan…”, puji E-Man setelah berada di depan para anggota geng dan sandera.

“Hahhh….”, mereka benar-benar terkejut, tak terkecuali Roselina dan yang lainnya.

Tanpa basa-basi mereka langsung menembak E-Man, kecuali Jarot, Rogan dan beberapa anggota lainnya masih menahan sakit akibat sengatan bola listrik dari E-Man.

“Dor..dor..dor…!”

“Dreeet…dreeet…!”

“Whusss…whuss…whuss…!

“Dor…dorrr…dorr….!”


E-Man berkelit dengan gesit menghidari peluru-peluru yang mengarah ke padanya, dan dia pun membalas serangan mereka, kali ini dengan cambuk listrik.

“Zrrrrreeeet…..!”

“Tasshhh….tash…!”

“Whuuisssh….!”


Bagaikan seorang Matador, E-Man pun mencambuk mereka satu per satu dengan begitu cepat.

“Zrrrrreeet…..starhhh…!”

“Akh…!”

“Zrrrrreeeet…..!”

“Tasshhh….tash…!”

“Whuuisssh….!”

“Starss…tarss…tarssh…!”

“Auughhh…..”, mereka tidak menghidar dan satu per satu pun langsung roboh.

Suasana ruangan pun benar-benar berubah berantakan akibat tekanan cambuk listrik dari E-Man, namun ada juga akibat dari tembakan para anggota geng tesebut.

E-Man berjalan menuju Jarot dan mengambil HT-nya dan berbicara kepada mereka, para pengaman yang ada di lokasi hotel.

“Saya E-Man, hotel sudah aman dan terkendali. Segeralah mengamankan para sandera…”, ucap E-Man lewat HT.

Mendengar berita baik tersebut, komandan KOPASUS dan PIN segera memerintahkan pasukannya untuk masuk ke hotel. Kedua komandan tersebut pun ikut masuk, serta diikuti oleh pak walikota.

E-Man meletakkan HT di samping Jarot yang masih sedang kesakitan, dan berjalan menuju Roselina yang berdekatan dengan Ricky dan sandera lainnya.

“Apa kalian tidak apa-apa…”, tanya E-Man.

“Iya, terima kasih ya…”, balas Roselina dengan lega.

“Iya, terima kasih E….”, sambung Ricky merasa cemburu namun perkataannya putus yang ternyata tidak tahu sambungan “E”, karna hanya melihat gambar “E” di dada E-Man sebagai logonya.

“E-Man, atau Electric-Man…”, kata E-Man melengkapi ucapan Ricky.

“E-Man…”, Ricky merasa agak heran mendengar nama itu, Roy dan yang lainnya pun ikut merasa heran.

Tanpa disadari E-Man, Jarot telah pulih kembali dan menarik lengan kanan Roselina sambil menodongkan pistol ke kepalanya.

“Aaaa…”, Roselina terkejut.

“Jangan ada yang bergerak…”, perintah Jarot keras sambil mengacungkan pistolnya ke arah E-Man dan para sandera.

Rogan pun telah pulih dan diam-diam mengisi peluru bazooka.

“Kaboom…”, sebuah peluru bazooka melasat ke arah E-Man, yang ditembakkan oleh Rogan setelah pulih dari rasa sakitnya.

E-Man sebenarnya masih bisa menghindar namun ia tetap pada posisinya karena para sandera masih berada di dekatnya, dan dengan cepat serta sekuat tenaga mendorong semua para sandera. Peluru pun tak terhindar dan mengenai dirinya, kali ini dia malah menangkap dan memeluk peluru supaya ruangan tidak ikut meledak.

“Duarrr…!”

“Aghhhh…”, E-Man roboh dan tersungkur di lantai hotel, dan kesakitan.

Ruangan pun penuh asap, dan tubuh E-Man dipenuhi bekas-bekas ledakan bazooka, di saat itu jugalah pak walikota, komandan KOPASUS dan PIN beserta pasukan pengaman masuk ke ruangan tersebut.

“Haaah…”, pak walikota terkejut melihat Jarot menahan Roselina sambil menodongkan pistol ke kepala Roselina dan juga terkejut melihat E-Man tergeletak di depannya.

“Maaf, pak. Tolong turunkan senjata kalian berdua”, perintah komandan KOPASUS kepada Jarot dan Rogan.

“Jarot…! Oh, Jarot…”, komandan PIN lebih terkejut lagi melihat Jarot yang ternyata masih sepupunya.

Lahirnya The Cime Buster BAB 15

BAB 15

“Hehehe, kaget ya…”, dengan tertawa sinis Jarot mengejek.

“Apa maumu…”, bentak Komandan KOPASUS.

“Lepaskan para sandera…”, teriak komandan PIN lewat HT.

Kolonel Yanto tak mau kalah, langsung ditariknya HT dari tangan komandan KOPASUS TNI-AD.

“Apa-apan ini…”, teriaknya dengan kesal.

“Hei kamu, menyerahlah. Lepaskan para sandera…”, teriak Yanto ke HT dengan penuh kemarahan.

“Sabar, sabar. Satu-satu dong ngomongnya…”, jawab jarot dengan santai. “Perhatikan baik-baik ke jendela hotel lantai 10, ya. Hehehe…”. Sambunganya dengan santai sambil berjalan menuju jendela dengan menarik lengan kanan sandera sambil menodongkan pistol 45 Mm ke kepalanya.

Tanpa diperintah, Rogan dan Janus membuka jendela yang berkaca. Komandan KOPASUS segera melihat ke jendela hotel di lantai 10.

“Sial…! Semua anggota Tim Jangan ada yang menembak…”, perintahnya kepada semua pasukan pengaman lokasi. “Dia mengancam kita dengan menodongkan pistol ke sandera, yang penting tetap pada posisi”, sambung komandan KOPASUS.

Akhirnya walikota meminta HT dari komandan KOPASUS tersebut dan komandan tersebut memberikan HT-nya.

“Saudaraku, saya walikota Tarutung akan mengabulkan apa yang saudara inginkan asalkan anda lepaskan para sandera”, melalui HT pak walikota memohon dengan sangat kepada Jarot.

Komandan KOPASUS, PIN dan Yanto kaget mendengar permohonan sang walikota. Aksi itu direkam para juru kamera TV, namun dilarang para anggota PIN.

“Oh ya…”, jawab Jarot tersenyum sinis.

“Iya…”, sambung walikota.

“Hmmm, apa bapak bisa mengabulkan permintaanku. Kalau tidak akan kubunuh satu-satu per satu para sandera yang di hotel ini”, ancaman Jarot, sementara sandera yang di sampingnya gemetaran.

“Kumohon, pak. Lepaskan aku. Istri dan anak-anakku masih membutuhkanku…”, pinta sandera dengan memelas.

“Plak..!!!”

“Akhh…!”

“Diam kau…”, bentak Rogan setelah menendang kaki sandera.

Sandera diam seribu bahasa dengan menahan sakit di kakinya, sementara Jarot memandang walikota dari hotel.

“Apa yang kau mau, katakanlah..”, tanya walikota dengan memelas.

“Apa kamu bisa menyediakan uang sebanyak 100 miliyar rupiah…”, jawab Jarot kurang yakin terhadap pernyataan walikota.

“100 miliyar rupiah…!!!”

Walikota dan yang lainnya kaget mendengar permintaan Jarot, dan walikota membalas permintaannya :“Itu terlalu banyak. Apa tidak bisa dikurangi?”

“Dikurangi??? Enak saja. Emang ini jualan ya? Pake menawar segala…”, balas Jarot menolak dengan keras.

“Tolonglah…”, walikota kembali memelas.

“Baiklah, akan kuberi pelajaran pertama untuk kalian semua…”, tanpa basa-basi Jarot menjatuhkan sandera dari jendela hotel lantai 10.


“Eh…, jangan…”, walikota berteriak melihat Jarot menjatuhkan sandera, namun apa hendak dikata, sandera sudah keburu dijatuhkan.

Sandera hanya bisa berteriak keras dan berdoa kepada Tuhan supaya dia mendapat keajaiban.

Pak walikota beserta yang lainnya hanya bisa pasrah dan berharap terjadi suatu keajaiban.

“Whuuussss…..”, tiba-tiba dari langit E-Man melesat begitu cepat menyelamatkan sandera dan membawanya ke darat tepat di lokasi bapak walikota berdiri.

“Anda tidak apa-apa…”, tanya E-Man kepada sandera setalah mendarat.

“Eeee, iiiya….”, sandera menjawab dengan seolah-olah dia baru saja mendapat keajaiban dari langit.

Sekita suasana berubah menjadi bahagia melihat seorang penyelamat berhasil menolong sandera. Yanto, walikota, dan yang lainnya mendekat ke arah E-Man.

“Terima kasih, anda telah menyalahkan sandera”, ucap walikota sambil menyalam E-Man.

“Sama-sama, pak…”, balasnya dengan menyalam. “Maaf, aku harus ke atas…”, sambungnya, langsung terbang dan berdiri di atas udara sekitar 10 meter jaraknya dari jendela hotel lantai 10.

Christine dan Eva juga terpana melihat kejadian tersebut yang sudah dari tadi berada agak jauh di belakang lokasi kejadian, di luar batas garis polisi. Sama halnya dengan ayah Christine, keluarganya yang lain beserta pak Anto dan isrinya. Mereka benar-benar terpana melihat kehebatan E-Man.

“Boss…”, panggil Rogan dengan menyadarkan Jarot yang sedari tadi tersontak kaget dan terpana melihat E-Man menyelamatkan sandera yang dia jatuhkan barusan.


“Ukhhh…”, Jarot langsung sadar.

“Bahaya boss…! Ada superman yang akan menyerang kita…”, teriak Janus gemetaran.

“Superman…”, gumam Roselina dalam hati dengan penuh penasaran, demikian juga Ricky, teman-teman mereka, dan para sandera yang lainnya ikut penasaran. Mereka sepertinya mulai lega melihat para teroris tersebut agak gemetaran.

“Janus! Rogan! Siap-siap dalam posisi untuk menembak makhluk aneh yang satu ini…”, perintah Jarot kepada anak buah.

Janus dan rogan segera mengajak anggota komplotan yang lain menembak E-Man dan sisanya 2 orang lagi menjaga para sandera.

“E-Man…! Selamatkan para sandera…”, teriak pak Anto dengan gembira.

“E-Man…”, ujar Kolonel Yanto, sama halnya dengan walikota dan yang lainnya.

E-Man mendengar hal itu, walau jarak jauh karena dia memiliki kemampuan mendengar jarak jauh.

Akibat teriakan pak Anto, para wartawan dan anggota pers lainnya langsung mewawancarai pak Anto. Pak walikota dan yang lainnya tak mau kalah, langsung menerobos kerumunan para wartawan.

“Apa E-Man…”, tanya walikota.

“Bukan apa, tapi siapa…”, pak Anto memperbaiki pertanyaan walikota.

“E-Man, katanya Electric-Man…ee….”, jawab istri pak Anto namun terputus karena lupa arti E-Man.

“Electric-Man adalah manusia listrik…”, sambung pak Anto memperbaiki jawaban istrinya.

“Euy…! Manusia listrik…”, semua orang yang di sekitar pak Anto terheran-heran mendengar penjelasan pak Anto.

Para komplotan teroris itu sudah berada di posisi yang tepat untuk menembak E-Man. Ada dua orang teroris penembak jitu di lantai terakhir (lantai 11). Jarot, Janus, Rogan dan 5 anggota Rojan Gan’k yang lainnya berada di lantai 10 dekat jendela. Satu di antara 5 anggota Rojan Gan’k tersebut menggunakan bazooka. Walau demikian, 10 orang anggotanya menjaga lantai satu dari berbagai posisi supaya para tim pengaman tidak bisa masuk.

“Hmmm, benar-benar penjagaan ketat. Bagiku tidak…”, gumam E-Man yang ternyata sudah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Rojan Gan’k.

“Tembaak…..”, perintah Jarot dengan berteriak keras.

“Dor…dor..dor…!”

“Kaboom…!”

“Drrrrrrreeet…!”


“Whusss….whuss…!” E-Man langsung berkelit di udara menghindari tembakan bagaikan pemain akrobat saja. Dan E-Man pun segera mengeluarkan sinar listrik dari tangan kanannya untuk mengahancurkan peluru bazooka supaya tidak mengenai para warga yang sedang melihat kejadian.


“Duarrrr….!”


Peluru bazooka pun hancur, dan orang-orang yang melihat pun langsung takjub, namun tembakan tidak berhenti di situ saja.

Lahirnya The Crime Buster BAB 9

BAB 9

Suara keras dari Ricky membuat para rombongan tergugah dan segera berlari ke tempatnya.

“Ricky…Mario…, ada apa ini…? Kalian bertengkar ya…”, tanya Roy dengan keras.

“Aku sendiri juga heran…, tiba-tiba Ricky menyerangku…”, jawab Mario merasa memang tidak tahu kenapa Ricky menyerangnya.

“Hei…kalian semua…! Ini urusanku dengan dia, jadi jangan ikut campur…”, dengan keras ia meminta mereka untuk tidak ikut campur.

“Ricky…! Apa-apaan ini…! Kamu kenapa…”, hati Roselina berubah jadi panas melihat sifat Ricky yang semakin menjadi-jadi.

“Frend…, sebenarnya aku tidak suka berkelahi, tapi kalau kamu memaksa aku ladeni dengan baik…”¸ ujarnya pada Ricky.

“Aku cinta atau tidak sama Rose…sama sekali aku tidak menyatakannya. Tapi kamu terlalu cepat berprasangka buruk bahwa hubungan kami sudah dekat…”, Mario menjelaskan kembali dengan perasaan gundah.

“O…jadi kamu cemburu ya karena kami berduaan…”, Roselina sadar akan apa yang disembunyikan Ricky.

“Eh…, maaf. Memang aku cemburu…tapi Mario telah menghalang-halangi niatku”, jawab Ricky dengan mengkambinghitamkan Mario.

“Hei…! Sejak kapan aku menghalang-halangi kamu”, Hati Mario menjadi mendidih 100 derajat celcius panasnya. “Kau ingin kuberi pelajaran, ya…”, Mario telah mengepalkan tangannya untuk mendaratkan pukulannya ke wajah Ricky.

Ricky sudah tahu apa yang akan direncanakan Mario sebab Ricky sudah paham betul dengan serangan diam-diam. Maklum saja dia itu atlit bela diri Kempo.

“Silahkan aja menyerang…”, Ricky memanas-manasi Mario.

“Tahan…pukulanku…”, Mario menyerang secapat kilat.

“Wushhh..! Bugh…! Degh…! Sregh…”

“Aaaakh…”.

Tak pelak lagi pukulan tangan kanan Mario mendarat di pipi Ricky, dan tendangannya mengenai perutnya. Ricky memang tahu apa yang akan menyerang dirinya, tetapi dia tidak bisa dengan cepat menahan serangan secepat kilat itu, sehingga dirinya terpaksa terlontar jauh dan mengena ke sebuah pohon. Ricky meringis kesakitan.

Setelah melihat kejadian itu semua rombongan terkejut, termasuk Roselina. Roy bertanya-tanya dalam hati : “Sejak kapan Mario jago dalam beladiri…?”.

Roselina memang terkejut tetapi bukan takjub, sebab hatinya terkonsentrasi pada sifat Mario yang tiba-tiba menyerang Ricky.

“Mario….”, serunya penuh dengan amarah.

“Ya…”, jawab Mario mendekat.

“Plak…”.

“Bah…”, Roy dan kawan-kawan terperanjat melihat kejadian itu.

Roselina menampar pipinya meski merasa berat dilakukan, tetapi itu dilakukan karena perubahan sifat Mario. Sebenarnya Mario bisa melihat gerakan tangan Roselina, tetapi ia membiarkan tangan Roselina mendarat di pipinya.


“Aku pikir kamu tetap baik seperti dulu, tetapi kamu jauh beda dengan yang kukenal dulu…”, Roselina berkata-kata dengan nada marah sambil memandang Mario dengan mata menyipit dan sinis, tetapi matanya berkaca-kaca.

Roselina segera menjauh darinya dan berjalan ke arah Ricky yang masih terkapar di atas tanah. Dia mencoba membantu Ricky untuk berdiri.

“Uh…, kenapa jadi begini”, Mario bertanya dalam hati, sadar apa yang telah dilakukannya.

Dengan penuh penyesalan, Mario mendekat ke arah Roselina dan Ricky.

“Rose…, Rick…! Maafkan aku…”, ucapnya merasa bersalah.

Roselina dan Ricky mendengar permohonan maaf Mario namun tak sempat membalas ucapannya karena Mario langsung pergi jauh.

“Eh…, Mario…! Tunggu dulu…”, Rio mengejar Mario tetapi terhenti karena Mario sudah jauh dari pandangannya.

Memang tidak diduga dan tanpa terlihat, setelah jauh berjalan, Mario langsung lari secepat kilat dan tiba di rumah Roselina. Ia segera masuk ke dalam rumah, membenahi segala perlengkapannya.

Dia pun menemui orang tua Roselina di beranda belakang rumah yang sedang duduk-duduk santai.

“Bu…, pak…! Saya permisi dulu…”, Mario mohon pamit.

“Lho, mau ke mana kau, nak…”, tanya ayah Roselina penasaran.

“Tiba-tiba saya ada kerjaan pak, baru aja dihubungi”, dia berbohong.

“Apa kamu sudah permisi kepada teman-temanmu…”, tanya ayah Roselina kembali.

“Nggak sempat pak, nanti saya hubungi mereka…”, jawab Mario dengan tenang.

“Okelah kalau begitu, hati-hati ya…”, balas Ibu Roselina.

“Salam sama rekan-rekan sekerja dan pimpinanmu di sana, ya…”, sambung ayah Roselina.

“Oke, pak…bu…! Terima kasih atas penyambutan bapak dan ibu. Selamat tinggal, bu…pak….”, kembali berkata-kata pamit.

“Ya…, nak! Selamat jalan…”, balas ayah dan Ibu Roselina serentak.

Setelah mohon pamit ia ke luar dari rumah melalui pintu depan dan segera mencari tempat yang tidak dapat dilihat orang lain kecuali dia. Beberapa detik kemudian dia sudah berubah menjadi E-Man dan terbang secepatnya seolah-olah diburu waktu.

“Akh…..”, E-Man beteriak sekeras-keras dengan hati panas dan kesal.

“Duar….duar….!!!”


Teriakan E-Man menghasilkan suara petir yang membahana dan menggelegar membuat orang-orang di bumi terkejut setengah mati.

“Bos….! Perasaanku tidak enak hari ini…, gimana kalau kita gagalkan saja rencana ini”, kata Janus kepada Jarot dengan merinding.

“Ha…, kamu takut ya…”, bentak Jarot.

Suara itu pun juga kedengaran sewaktu Roy dan teman-temannya sedang kembali ke rumah.


“Perasaanku ga’ enak hari ini…”, tukas Roselina kepada Ricky.

“Ah…, itu perasaanmu saja…”, jawab Ricky berusaha menghibur Roselina yang sedang memperhatikan angkasa biru.

Tidak hanya Roselina, semua rombongan juga melihat ke atas dengan penuh keheranan. Roy sendiri keheranan dan bergumam.

“Wah…, suara aneh…! Apa yang akan terjadi nanti…”.

Seantero bumi Tapanuli Utara juga lengang, dan sempat berhenti beraktivitas setelah mendengar suara gelegar tersebut karena jauh berbeda dari suara halilintar yang biasa didengar oleh manusia.

Lahirnya The Crime Buster BAB 7

BAB 7

Roselina merasa senang atas kehadiran Mario duduk di sampingya, dan ia pun merebahkan kepalanya ke bahu kanan Mario yang semakin lama semakin menjadi-jadi, jantungnya berdebar-debar keras. Mario pun mencoba menenangkan dirinya dengan membelai rambut Roselina.

“Oh…Tuhan, inikah gadis yang Engkau tunjukkan padaku…”, bisiknya dalam hati, dan Roselina mulai tertidur karena belaian tangannya.

“E-hem, e-hem…”, Roy datang mendekat.

Seketika itu juga mereka berdua nyaris terkejut dan bergegas melepaskan rangkulannya masing-masing.

“Maaf, mengganggu…, apa kalian belum tidur”, tanya Roy sambil menggaruk-garuk kepala, pura-pura tidak tahu apa yang ia lihat.

“E…, sebentar lagi kami akan tidur”, jawab Mario dengan ragu.

“Emang uda jam berapa ni…”, Roselina malah bertanya.

“Jam satu non…”, jawab Roy

“Jam satu…”, keduanya serentak terkejut.

Mario kemudian mengajak Roselina untuk beristirahat, dan ketiganya pun masuk ke dalam rumah. Mario dan Roy tidur di ruang tamu yang sudah berisi dengan laki-laki yang telah pulas tidur. Sedangkan Roselina bergabung dengan wanita lainnya di kamar sebelah yang agak luas.

Suasana pun hening, tak satu pun suara manusia yang terdengar kecuali dengkur ayah Roselina, Andi dan suara-suara binatang malam.

Namun di tempat lain yang agak jauh dari kampung halaman Roselina, yang berada di pinggir Kota Tarutung terdapat sepuluh orang dari beberapa golongan usia, berjenis kelamin pria sedang mengadakan sebuah rencana besar. Semuanya rata-rata mengunakan jaket hitam.

Mereka duduk di kursi mengitari meja panjang segi empat, yang telah berisi berbagai kulit kacang, minuman alkohol, rokok dan lain sebagainya.

“Para anak buahku sekalian, maaf aku terlambat karena aku tadi ada urusan dengan pimpinan mafia dari Malaysia”, katanya yang baru saja datang dan duduk di kursi di lebaran meja segi empat tersebut.

“Kita punya rencana besok, maksudku nanti pagi”, sambungnya dengan meralat ucapannya sambil menghidupkan sigaret kreteknya.

“Omong-omong apa rencana kita nanti bos”, tanya anak buah yang paling muda.

“Kami jadi penasaran…bos”, sambung temannya.

“Kalian belum tahu ya…! Begini, Diamond Tapanuli Hotel tidak memberikan setoran kepada kita”, papar pimpinan mafia tersebut. “Hanya hotel itulah yang belum memberikan upeti kepada kita”, lanjutnya sambil menikmati sigaretnya.

“Jadi, apa yang harus kami lakukan…”, tanya anak buahnya yang lebih dekat duduknya.

“Buat kerusuhan di sana….”, kata si pimpinan dengan membayangkan Diamond Tapanuli Hotelhancur porak poranda.

“Caranya gimana, bos…”.

“Iya, apalagi hotel itu banyak dijaga polisi”, sambung yang paling muda.

“Saya sebagai Jarot pimpinan Rojan Gan’k harus bisa membuat hancur hotel itu, kalau tidak jangan anggap kalian Jarot sebagai bos dan bersiap-siaplah untuk mendapatkan hadiah yang menyakitkan dariku. Bagaimana menurut kalian…”, paparnya sambil berdiri dengan memegang sisi meja sambil memandang anak buahnya satu per satu.

Semuanya tertunduk dan terdiam. Jantung mereka berdegup keras dan tak tahan membalas pandangan bosnya, si Jarot yang penuh dengan kebengisan dan kebencian.

“Rogan…”, panggil Jarot dengan keras.

“Ya…, bos…”, anak buahnya yang paling muda bernama Rogan tersentak kaget dan semakin menunduk.

“Kamu saya tugaskan memimpin misi ini…”.

“Siap, bos. Tapi, gimana dengan polisinya”, jawabnya dengan ketakutan.

“Goblok banget..”, Jarot marah membuat yang lainnya tersentak. “‘Kan ada Letnan Parto yang akan mem-backing kalian…”, ia menunjuk salah satu anak buahnya yang duduk dekat dengannya yang juga seorang perwira polisi.

“Parto…! Bagaimana dengan kamu”, Jarot bertanya pada perwira tersebut. “Apa kamu bisa ikut ambil bagian”, sambungnya kembali dan juga kembali duduk.

“Saya bisa melakukan itu bos. Jangan khawatir, akan saya lakukan semaksimal mungkin”, jawabnya dengan mencoba menenangkan dirinya.

Parto memang satu-satunya polisi yang menjadi anggota Rojan Gan’k. Sejak kecil ia sudah yatim piatu. Entah kenapa Jarot berbaik hati membesarkannya sampai ia bisa mengikuti pendidikan perwira kepolisian. Aneh, penjahat melahirkan polisi yang akhirnya menjadi polisi yang berjiwa penjahat.

“Bagus…”, pujinya. “Sekarang kita ke mobil…”, perintahnya kepada anak buahnya.

“Baik bos…”, jawab anak buahnya serentak.

Pimpinan mafia dan anak buahnya keluar dari ruangan menuju mobil colt diesel berwarna hitam yang mirip dengan model Suzuki APV. Mereka berhenti setiba di samping kiri mobil hitam tersebut.

“Janus…, buka pintu”, perintah Jarot, lalu Janus membuka pintu. “Beritahu apa-apa saja yang akan dipakai untuk melakukan misi ini”, sambungnya kembali.

Lalu Janus mengeluarkan kotak besar dan panjang berbentuk balok dibantu oleh dua orang temannya. Kemudian ia mengambil tas rangsel dan meletakkannya di tanah.

Tampaknya Janus sangat lihai dengan alat-alat tersebut. Maklum saja, ia sudah lama berkecimpung di Kepolisian bidang perlengkapan dan peralatan keamanan, yang akhirnya mengundurkan diri karena menurutnya bawah gajinya tidak sesuai dengan keinginannya.

“Ini namanya MM 45. Cara pakenya begini…”, Janus memperagakan senjata berwarna silver agak kecil.

“Yang ini namanya AK-47, caranya begini…”, sambungnya dengan membidikkan senapan otomatis berlaras panjang ke arah lain.

“Kalau yang ini, apa…”, tanya Rogan dengan mengambil senjata yang mirip dipakai polisi biasanya.

“Ini namanya Pistol Revolver. Cara memakainya sama dengan pistol Baretta”, papar Parto dengan memberi perbandingan pada pistol yang berukuran lebih kecil lagi. Maklum saja, ia sudah paham dengan hal tersebut karena dia adalah perwira polisi yang sudah pernah mencobanya.

“Lha, yang satu ini untuk apa…”, tanya anak buah yang satu dengan logat jawa sembari menunjukkan tas rangsel tadi.

“O…, ini topeng untuk menutup kedok kita”, Janus kembali memberi penjelasan sambil menunjukkan topeng dari rangsel.

Hampir tiga jam Janus memperkenalkan peralatan yang akan dipakai. Berbagai macam senjata ditunjukkan sampai ke Bazooka dan Granade.

“Oke, pilih saja senjata yang kalian sukai dan segeralah istirahat. Kira-kira jam sembilan pagi kita berangkat…”, si komandan memberi perintah.

Tanpa diperintah dua kali, masing-masing anak buah Jarot memilih senjata yang mereka sukai dan kemudian mereka istirahat.

Mentari mulai mengintip di balik gunung, segala jenis unggas yang ada di kampung halaman Roselina menyambut kedatangannya. Aktivitas pun mulai dilakukan oleh para penduduk di seantero desa tersebut.

Semua teman-teman Roy sudah bangun dan segera bergegas. Roselina pun mengajak mereka ke telaga untuk menikmati hangatnya air telaga, sekaligus menghangatkan tubuh dari rasa dingin yang menyelimuti tubuh mereka.

Mereka berangkat ke telaga dengan membawa segala perlengkapan mandi. Roselina merasa Mario sudah ikut. Namun sebaliknya Mario masih tergolek-golek tidur di tikar yang ada dalam ruang tamu.

Mereka berjalan kaki ke telaga. Ricky berusaha mendekatinya agar bisa berdampingan berjalan. Namun hati Roselina merasa ada yang kurang. Dia tanya satu per satu di mana posisi Mario.

“Aduh, nona cantik…! Kamu nggak usah khawatir dengan Mario. Dia mungkin sedang ngopi ama mertuanya, hi…hi…hi…”, Jenny berusaha melucu untuk menghibur Roselina.

“Ah…, kamu ini…”, Roselina mencoba tenang melihat gelagat Ricky yang mulai aneh.

Lahirnya The Crime Buster BAB 6

BAB 6

Hati Pak Anto sedikit agak lega, ternyata patungnya diganti dengan uang sebesar seratus lima puluh ribu rupiah.

“Sudah…sudah, kita tidak perlu lagi membahas itu. Ternyata dia menggantinya dengan duit sebesar seratus lima puluh ribu rupiah…”, seru Pak Anto kepada orang-orang sambil menunjukkan uang.

“Dia memang sudah minta maaf, tapi dia hanya menulis E-Man atau Electric-Man alias Manusia Listrik…”, sambung Bapak kepala Desa.

“Aha…, aku baru ingat. Kemarin aku bermimpi ada orang memakai kostum patungku. Dia menyelamatkan aku. Ia memiliki kekuatan listrik dan bisa terbang”, Pak Anto menceritakan mimpinya kemarin.

“Ah…, ada-ada aja bapak ini…”, celetuk istrinya kepada Pak Anto.

“Bisa jadi, tapi apa bapak ingat wajah si E-Man dalam mimpi bapak”, tanya Bapak Kepala Desa seolah-olah ia peramal mimpi.

“Tidak, pak…! Soalnya dalam mimpiku dia sudah memakai topeng dan kostum patungku…”, jawab Pak Anto.

“Apa bapak masih mempersoalkan patung itu lagi…”, Bapak kepala Desa mencoba menggubris patung yang sudah hilang tersebut.

“Sudahlah pak, nggak usah dipikirin. Dia sudah minta maaf dan sudah menggantinya. Mana tahu mimpiku bisa kenyataan…”, katanya dengan hati senang.

“Baik…, para warga sekalian, kita bubar dan kembali ke rumah masing…”, Bapak Kepala Desa memberi perintah bubar kepada warganya.

Seketika itu juga mereka bubar dan masuk ke rumah masing-masing. Tempat itu pun kembali sunyi dan hening seperti semula.

Di tempat lain, Mario sedang mengudara di melewati awan-awan dingin menuju kampung halaman Roselina.

“Pas banget topeng ini. Bajunya apalagi…! He…he…he…”, gumamnya dengan hati senang.“Yuhhuuu….”, E-Man alias Electric-Man, si Manusia Listrik melaju kecepatan terbangnya.

Sekitar jam 00.30 WIB E-Man tiba di permukaan rumah Roselina. Sambil melayang-layang ia melihat teman-temannya di bawah sedang bernyanyi-nyanyi mengitari api unggun. Tak luput dari perhatiannya, ia melihat Roselina sedang duduk bersama Ricky sambil berpegangan tangan. Mario cemburu karena Ricky tidak hanya duduk bersama saja tapi dia menggandeng Roselina.

“Oh…sial…”, E-Man alias Mario menggerutu.

Dia memperhatikan daratan sambil mencari tempat yang aman untuk mendarat agar tidak mengejutkan mereka. Pendaratan pun berjalan dengan mulus tanpa ada yang melihat. Ia bisa menapakkan kakinya di tanah yang tidak terlalu jauh dari kawasan rumah Roselina. Lalu ia menukarkan pakaiannya dengan sekejap. Beberapa menit kemudian ia berjalan menuju pelataran rumah Roselina.

“Hai kawan-kawan semuanya…, saya datang ni”, sapa Mario kepada teman-temannya.

“Mario…”, semua orang di sekitar tempat itu terkejut termasuk Roy dan Roselina.

Roy segera mendekati Mario dan Roselina melepaskan tangan Ricky dan melangkah menuju Mario.

“Hey…, friend! Aku pikir kamu nggak datang”, sambut Roy dengan menyalaminya dan menepuk-nepuk punggung Mario.

“Thanks God, ternyata Mario datang juga…”, Roselina juga menyambutnya dengan menyalaminya dan menggaet tangannya sehingga Ricky menjadi geram dan cemburu.


“Dari mana aja kamu…, sampe-sampe Roy resah…”, tanya Andi.

“Roselina juga memikirkanmu lho…”, sambung Ani memancing Roselina.

“Plok…plok…plok…”, semua serentak bertepuk tangan dengan riuh..

“Ah…, kamu ini…”, wajah Roselina berwarna merah jambu.

Dari dalam rumah Ayah dan Ibu Roselina keluar, seketika itu juga Roselina memperkenalkan Mario kepada kedua orang tuanya.

“Mario, kenalkan! Ini orang tuaku”.

“Oh…saya Mario, pak…bu…”, Mario pun menyalami kedua orang tua Roselina.

“Lha…, kamu koq belakangan datangnya, nak Mario”, tanya Ayah Roselina.

“Ada kerjaan, ya…”, sambung Ibu Roselina bertanya.

“Iya…bu. Jadi merepotkan teman-teman”, jawab Mario malu-malu karena temannya di belakang membisikkan bahwa orang tua Roselina sebagai calon mertuanya.

“Oh, anak-anak sekalian…kami duluan tidur ya…”, Ayah Roselina mohon pamit untuk istirahat.

“Iya, soalnya nggak enak rasanya kalau nggak permisi dulu untuk tidur…”, sambung Ibu Roselina. “Maklumlah, udah tua”.

“Nggak apa-apa, bu…pa…! ‘Kan, kami masih muda nih”, pungkas Boby.

“Nanti kalau kami sudah letih kami akan beristrihat…”, sambung Roy.

“Jangan khawatir ma…, kami bisa koq menjaga suasana”, kata Roselina sembari mendekati Ibunya dan merangkul tangan kanannya.

“Baiklah…, kami tidur dulu ya…”, Pinta Ayah Roselina kembali.

“Ya…pak…”, teman-teman Roselina serentak menjawab.

Kedua orang tua Roselina akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu depan rumah, dan semua teman-teman Roselina kembali mengitari api unggun, kecuali Mario, Roselina dan Ricky.

Kemudian Ricky mendekati Roselina, akan tetapi Roselina lebih dulu menggandeng Mario dan mengajaknya ke pinggir kolam ikan yang berada tidak jauh dari api unggun. Kelihatannya Roselina tidak peduli dengan Ricky. Ricky pun kesal, cemburu, lalu pergi menuju api unggun.

Kedua pasangan itu pun duduk di bangku panjang di tepi kolam ikan sambil bercerita-cerita dengan santainya.

“Ros…, tumben kamu ngajak aku berduaan. Ada apa”, bisiknya pada Roselina dengan hati yang tak karuan.

“Emang kenapa? Ngakk bisa…”, hati Roselina tergugah dengan pertanyaan Mario dan melepaskan rangkulan tangannya dari lengan kanan Mario.

“Bukan nggak bisa, tapi nggak biasanya kamu seperti ini…”, jelas Mario mencoba untuk melegakan hatinya. “Malah aku berterima kasih kepadamu karena kamu telah mengajak aku ke sini…”.


“Ah…, kamu ini…! Kirain nggak mau, tau-taunya mau…”, Hatinya Roselina pun kembali dan tersenyum sambil mencubit tangan kanan Mario.

“Aduh…, sakit…”.

“Masa segitu aja dibilang sakit, padahal pengen”.

“Tau aja…., hehehe…”, Mario merasa bahagia.

Ternyata adegan ini yang kelihatan mesra, dan terlihat oleh Ricky dari api unggun Hal membuat hatinya semakin panas dan benci kepada Mario.

“Mario, kurang ajar kau…”, gumam Ricky dalam hati dengan kesal bercampur kecewa. Ia mulai merencanakan sesuatu agar bisa mendapatkan Roselina.

Tak terasa waktu pun menunjukkan pukul 01.13 WIB, sementara teman-teman Roselina bergegas untuk istirahat, sedangkan Mario dan Roselina masih bercerita tentang masa lalu mereka ketika mereka masih duduk di bangku SD.