Showing posts with label Bab II. Show all posts
Showing posts with label Bab II. Show all posts

Thursday, February 6, 2014

Lahirnya The Cream Buster BAB 18

BAB 18

Christine menceritakan semua kesedihan kepada Roselina dan menyatakan bahwa kekasihnya Rogan adalah penjahat atau anggota teroris. Roselina hanya bisa menghibur hati Christine. Ayahnya pun ikut menghibur putrinya.

Saat Roselina hendak berjalan menuju bus mereka Ricky dan yang lainnya mendekat dan menyalaminya.

“Rose, kau tak apa-apa, kan”, tanya Ricky.

“Hmmm…, aku baik-baik saja…”, jawab Roselina cuek.

“Oooiii…, semuanya…”, sorak Mario yang baru saja keluar dari persembunyiannya. “Apa yang terjadi di sini”, tanya Mario pura-pura tidak tahu.

“Panjang ceritanya…”, jawab Roselina setengah senang dan setengah cuek.

“Kau dari mana saja, Mario”, tanya Roy.

“Ada panggilan dari kantor, tadi…”, jawab Mario berbohong.

“Eh, Mario…”, Christine merasa senang atas kehadiran Mario.

“Eh, Chris…”, menoleh ke arah Chirstine dan langsung menyalamnya.

Akibat tindakan Mario, Roselina jadi cemburu karena di hatinya masih rasa terhadap Mario meski pun hatinya mulai terpaut kepada E-Man. Roselina pura-pura tak acuh, dan mengajak teman-temannya masuk ke bus. Mario merasa sedikit kesal atas tindakan Roselina yang tidak perduli padanya.

“Teman-teman, kita balik saja…”, ajaknya kepada Roy dan teman-temannya.


“Mario, apa kamu tidak ikut…”, tanya Roy setelah dia berada di pintu kedua bus.

“Oh…! Maaf, aku harus ke kampung karena ada yang harus kukerjakan…”, jawab Mario berbohong namun sedikit kesal.

“Okelah kalau begitu…”, balas Roy agak kesal dengan jawaban Mario.

Mereka pun akhirnya masuk ke bus, dan bus meninggalkan lokasi hotel. Namun kekesalan Mario juga belum hilang karena Roselina tidak perduli dengannya. Sementar Christine dan ayahnya senang bertemu kembali dengan Mario.

Di dalam bus, Roselina dibayang-banyangi oleh E-Man yang telah menyelamatkannya, namun dia juga dibayangi oleh Mario.

“Ukhhh…, kenapa wajah Mario ikut membayangi pikiranku…”, gumamnya dengan resah. “E-Man…! Mario…! Keduanya berbeda…! E-Man! Ya, dia lebih baik”, sambungnya dalam hati dengan membandingkan E-Man dengan Mario.

Christine juga dibayangi oleh E-Man dan melihat wajah Mario. Dia juga membandingkan keduanya, namun dia ternyata lebih memilih Mario.

“Rose…, andai kau tahu bahwa akulah E-Man, kurasa dirimu akan tergila-gila padaku”, gumam Mario kesal. “Tapi aku tidak mau membongkar jati diri E-Man kepadamu. Aku tak mau dirimu menjadi korban kejahatan untuk mengalahkanku”, sambungnya dalam hati.

Mario sadar bahwa dirinya dipandang-pandangi terus oleh Christine. Mario jadi kikuk.

“Eee…, koq kamu memandangi aku terus…”, tanya Mario agak grogi.

“Aku suka, kenapa…”, jawabnya dengan membalas pertanyaan Mario sambil tersenyum.

“Hehehe, tidak apa-apa…! Jadi malu aja…”, jawab Mario malu-malu kucing.

“Aku suka E-Man, tapi aku lebih menyukaimu…”, tiba-tiba Christine mengungkap isi hatinya.

Ayahnya malah tersenyum-senyum mendengar ucapan Christine, sementara jantung Mario semakin berdetak keras, tapi dia belum bisa pastikan apakah ungkapan Christine itu benar atau tidak.

“Andai bang Mario adalah E-Man, aku akan semakin sangat suka kepada abang…”, sambung Christine, kali cukup menggetarkan hati Mario.

“Ukhh…”, hati Mario sedikit tersentak.

“Ehem-ehem….! Sudah sudah, ajak pamanmu supaya kita pulang…”, kata Ayah Christine pura-pura tidak tahu situasi yang dialami oleh Mario dan Putrinya.

“Kami pulang dulu, nak…”.

“Kami pulang, bang…”, sambung Christine.

“Iya, silahkan…”.

“Iya…! Aku adalah E-Man…”, ujar Mario dalam hati sambil melihat Christine dan ayahnya menemui paman Christine (adik istri ayahnya) dan masuk ke dalam mobil.

Waktu menunjukkan pukul 20.15 WIB, Mario sedang duduk sambil menim kopi di sebuah kedai di desa Hutagalung. Sambil minum kopi atau teh, para tamu yang ada ada warung serius menonton berita. Sementara Mario sedang melamun.

“Selamat malam! Kami akan menyampaikan berita terkini melalui layar kaca pemirsa yang ada di rumah. Sekitar pukul 10.00 WIB, tadi pagi, para geromboloan teroris atau organisasi yang bernama Rojan Gan’k telah membajak Diamond Tapanuli Hotel. Hal itu dibenarkan Kepala Polisi Kepala Kepolisian Wilayah Kota Tarutung, dan juga Bapak Walikota Tarutung. Komandan KOPASUS TNI-AD dan PIN juga ikut membenarkan peristiwa naas tersebut, yang saat itu beserta pasukannya segera mengamankan TKP. Para teroris menyandera direktur beserta anak buahnya dan juga para tamu yang ada di hotel. Pimpinan teroris sempat meminta tebusan sebanyak 100 miliyar rupiah. Situasi akhir terkendali setelah E-Man atau Electric-Man alias Manusia datang menyelamatkan para sandera dan merobohkan semua para teroris. Perincian korban, satu orang tewas tertembak yang bernama Letnan Parto anggota Polwil. Kota Tarutung, dua orang anggota polisi luka-luka ringan. Sedangkan dari pihak teroris, dua orang tewas yakni Rogan dan Janus, satu orang luka-luka berat yakni Jarot pimpinan teroris, dan beberapa anggota geng sedikit luka-luka berat. Semua itu dilakukan oleh E-Man, kecuali Janus yang ditembak oleh Bapak Kol. Yanto, Kepala Kepolisian Wilayah Kota Tarutung. Sementara para sandera baik-baik saja kecuali satu orang yang bernama Ricky, mendapat luka-luka ringan. Tidak diketahui secara pasti bagaimana para teroris bisa masuk, sebab pemangamanan di hotel sangat ketat. Namun direktur beserta karyawannya mengucapkan terima kasih sedalam-dalam kepada E-Man. Yang menjadi pertanyaan utama, siapakah E-Man? Kemungkinan anda yang sedang menonton berita ini. Kami belum dapat mengungkapkan siapa E-Man yang sebenarnya. Saya Meliyanti dari studio Tarutung TV, melaporkan. Sekian dan terima kasih!”

Para tamu warung terheran-heran dan membicarakan berita yang baru saja mereka tonton. Salah satu pun meminta sang pemilik warung untuk mengganti saluran, dan ternyata berita itu juga yang disiarkan dari saluran yang berbeda. Mereka tidak sadar E-Man ada di antara mereka.

“Rose…”, Mario teringat Roselina kembali. “Aku masih mencintaimu. Tapi Christine juga aku cintai…”.

“Oh tidak…! Aku mencintai dua wanita…”, dia sadar bahwa mencintai dua hati adalah salah. “Tidak, aku tidak akan memilih satu pun…”, ia membuat keputusan bulat.

Lahirnya The Cime Buster BAB 15

BAB 15

“Hehehe, kaget ya…”, dengan tertawa sinis Jarot mengejek.

“Apa maumu…”, bentak Komandan KOPASUS.

“Lepaskan para sandera…”, teriak komandan PIN lewat HT.

Kolonel Yanto tak mau kalah, langsung ditariknya HT dari tangan komandan KOPASUS TNI-AD.

“Apa-apan ini…”, teriaknya dengan kesal.

“Hei kamu, menyerahlah. Lepaskan para sandera…”, teriak Yanto ke HT dengan penuh kemarahan.

“Sabar, sabar. Satu-satu dong ngomongnya…”, jawab jarot dengan santai. “Perhatikan baik-baik ke jendela hotel lantai 10, ya. Hehehe…”. Sambunganya dengan santai sambil berjalan menuju jendela dengan menarik lengan kanan sandera sambil menodongkan pistol 45 Mm ke kepalanya.

Tanpa diperintah, Rogan dan Janus membuka jendela yang berkaca. Komandan KOPASUS segera melihat ke jendela hotel di lantai 10.

“Sial…! Semua anggota Tim Jangan ada yang menembak…”, perintahnya kepada semua pasukan pengaman lokasi. “Dia mengancam kita dengan menodongkan pistol ke sandera, yang penting tetap pada posisi”, sambung komandan KOPASUS.

Akhirnya walikota meminta HT dari komandan KOPASUS tersebut dan komandan tersebut memberikan HT-nya.

“Saudaraku, saya walikota Tarutung akan mengabulkan apa yang saudara inginkan asalkan anda lepaskan para sandera”, melalui HT pak walikota memohon dengan sangat kepada Jarot.

Komandan KOPASUS, PIN dan Yanto kaget mendengar permohonan sang walikota. Aksi itu direkam para juru kamera TV, namun dilarang para anggota PIN.

“Oh ya…”, jawab Jarot tersenyum sinis.

“Iya…”, sambung walikota.

“Hmmm, apa bapak bisa mengabulkan permintaanku. Kalau tidak akan kubunuh satu-satu per satu para sandera yang di hotel ini”, ancaman Jarot, sementara sandera yang di sampingnya gemetaran.

“Kumohon, pak. Lepaskan aku. Istri dan anak-anakku masih membutuhkanku…”, pinta sandera dengan memelas.

“Plak..!!!”

“Akhh…!”

“Diam kau…”, bentak Rogan setelah menendang kaki sandera.

Sandera diam seribu bahasa dengan menahan sakit di kakinya, sementara Jarot memandang walikota dari hotel.

“Apa yang kau mau, katakanlah..”, tanya walikota dengan memelas.

“Apa kamu bisa menyediakan uang sebanyak 100 miliyar rupiah…”, jawab Jarot kurang yakin terhadap pernyataan walikota.

“100 miliyar rupiah…!!!”

Walikota dan yang lainnya kaget mendengar permintaan Jarot, dan walikota membalas permintaannya :“Itu terlalu banyak. Apa tidak bisa dikurangi?”

“Dikurangi??? Enak saja. Emang ini jualan ya? Pake menawar segala…”, balas Jarot menolak dengan keras.

“Tolonglah…”, walikota kembali memelas.

“Baiklah, akan kuberi pelajaran pertama untuk kalian semua…”, tanpa basa-basi Jarot menjatuhkan sandera dari jendela hotel lantai 10.


“Eh…, jangan…”, walikota berteriak melihat Jarot menjatuhkan sandera, namun apa hendak dikata, sandera sudah keburu dijatuhkan.

Sandera hanya bisa berteriak keras dan berdoa kepada Tuhan supaya dia mendapat keajaiban.

Pak walikota beserta yang lainnya hanya bisa pasrah dan berharap terjadi suatu keajaiban.

“Whuuussss…..”, tiba-tiba dari langit E-Man melesat begitu cepat menyelamatkan sandera dan membawanya ke darat tepat di lokasi bapak walikota berdiri.

“Anda tidak apa-apa…”, tanya E-Man kepada sandera setalah mendarat.

“Eeee, iiiya….”, sandera menjawab dengan seolah-olah dia baru saja mendapat keajaiban dari langit.

Sekita suasana berubah menjadi bahagia melihat seorang penyelamat berhasil menolong sandera. Yanto, walikota, dan yang lainnya mendekat ke arah E-Man.

“Terima kasih, anda telah menyalahkan sandera”, ucap walikota sambil menyalam E-Man.

“Sama-sama, pak…”, balasnya dengan menyalam. “Maaf, aku harus ke atas…”, sambungnya, langsung terbang dan berdiri di atas udara sekitar 10 meter jaraknya dari jendela hotel lantai 10.

Christine dan Eva juga terpana melihat kejadian tersebut yang sudah dari tadi berada agak jauh di belakang lokasi kejadian, di luar batas garis polisi. Sama halnya dengan ayah Christine, keluarganya yang lain beserta pak Anto dan isrinya. Mereka benar-benar terpana melihat kehebatan E-Man.

“Boss…”, panggil Rogan dengan menyadarkan Jarot yang sedari tadi tersontak kaget dan terpana melihat E-Man menyelamatkan sandera yang dia jatuhkan barusan.


“Ukhhh…”, Jarot langsung sadar.

“Bahaya boss…! Ada superman yang akan menyerang kita…”, teriak Janus gemetaran.

“Superman…”, gumam Roselina dalam hati dengan penuh penasaran, demikian juga Ricky, teman-teman mereka, dan para sandera yang lainnya ikut penasaran. Mereka sepertinya mulai lega melihat para teroris tersebut agak gemetaran.

“Janus! Rogan! Siap-siap dalam posisi untuk menembak makhluk aneh yang satu ini…”, perintah Jarot kepada anak buah.

Janus dan rogan segera mengajak anggota komplotan yang lain menembak E-Man dan sisanya 2 orang lagi menjaga para sandera.

“E-Man…! Selamatkan para sandera…”, teriak pak Anto dengan gembira.

“E-Man…”, ujar Kolonel Yanto, sama halnya dengan walikota dan yang lainnya.

E-Man mendengar hal itu, walau jarak jauh karena dia memiliki kemampuan mendengar jarak jauh.

Akibat teriakan pak Anto, para wartawan dan anggota pers lainnya langsung mewawancarai pak Anto. Pak walikota dan yang lainnya tak mau kalah, langsung menerobos kerumunan para wartawan.

“Apa E-Man…”, tanya walikota.

“Bukan apa, tapi siapa…”, pak Anto memperbaiki pertanyaan walikota.

“E-Man, katanya Electric-Man…ee….”, jawab istri pak Anto namun terputus karena lupa arti E-Man.

“Electric-Man adalah manusia listrik…”, sambung pak Anto memperbaiki jawaban istrinya.

“Euy…! Manusia listrik…”, semua orang yang di sekitar pak Anto terheran-heran mendengar penjelasan pak Anto.

Para komplotan teroris itu sudah berada di posisi yang tepat untuk menembak E-Man. Ada dua orang teroris penembak jitu di lantai terakhir (lantai 11). Jarot, Janus, Rogan dan 5 anggota Rojan Gan’k yang lainnya berada di lantai 10 dekat jendela. Satu di antara 5 anggota Rojan Gan’k tersebut menggunakan bazooka. Walau demikian, 10 orang anggotanya menjaga lantai satu dari berbagai posisi supaya para tim pengaman tidak bisa masuk.

“Hmmm, benar-benar penjagaan ketat. Bagiku tidak…”, gumam E-Man yang ternyata sudah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Rojan Gan’k.

“Tembaak…..”, perintah Jarot dengan berteriak keras.

“Dor…dor..dor…!”

“Kaboom…!”

“Drrrrrrreeet…!”


“Whusss….whuss…!” E-Man langsung berkelit di udara menghindari tembakan bagaikan pemain akrobat saja. Dan E-Man pun segera mengeluarkan sinar listrik dari tangan kanannya untuk mengahancurkan peluru bazooka supaya tidak mengenai para warga yang sedang melihat kejadian.


“Duarrrr….!”


Peluru bazooka pun hancur, dan orang-orang yang melihat pun langsung takjub, namun tembakan tidak berhenti di situ saja.

Lahirnya The Crime Buster BAB 8

BAB  8 

Di rumah Roselina, Mario dibangunkan oleh Ibu Roselina.

“Nak…, bangun…! Kamu nggak ikut sama mereka ke telaga…”, Ibu Roselina menepuk-menepuk Mario agar bangun.

“Aduh…! Maaf, bu…! Jadi merepotkan…”, Mario terbangun dan mengucek-ngucek matanya merasa masih ngantuk.

“Nggak apa-apa koq, nak…”, kata Ibu Roselina.

“Eh…, mana mereka bu…”, Mario tekejut melihat situasi tidak ada orang kecuali Orang tua Roselina.

“Mereka lagi ke telaga..! Sruuup…! Ah….”, jawab Ayah Roselina sambil minum kopi.

“Aduh…, aku koq ditinggalin…”, gumamnya kesal. “Maaf…, bu! Aku ke sana dulu ya…”, Ia langsung membuka tas rangselnya lalu mengambil perlengkapan.

“Permisi, bu…pak….”, Mario mohon pamit.

“Ya…”, balas mereka serentak.

Ia segara keluar dari rumah dan menuju semak-semak sambil melihat-lihat sekitarnya. Lalu ia melambung tinggi. Kali ini ia terbang tanpa kostum. Selama terbang ia berusah terbang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah agar tidak dilihat orang-orang.

Dari kejauhan Mario melihat rombongan Roy masih berjalan menuju telaga.

“Wah…, mereka belum sampe…”, ujarnya dalam hati. “Aku lebih dulu, ah…”.

Mario melejit menuju telaga mendahului mereka dan mencoba memperhatikan dari atas apakah ada orang yang mandi. Ternyata tempat itu belum didatangi masyarakat. Ia segera mendarat dan menikmati hangatnya telaga tersebut.

“Masih mencari Mario…”, Ricky mencoba membuka pembicaraan.

“Mmm…, aku rasa di nggak ke mana-mana…”, jawabnya santai.

Di saat berjalan Roselina tidak sengaja memijak batu yang tidak begitu besar. Dia tersandung dan terjatu ke selokan kecil dan tidak terlalu tinggi.

“Aduh…, sakiit”, Roselina meringis kesakitan.

Semua terkejut, Roy ingin mencoba menolong namun terhenti karena di atas kepala Roselina ada ular sawah yang sedang bersiap-siap untuk menggigit Roselina.

“Ros…, harap kamu tenang…! Ada ular di atas kepalamu…”, Boby berusaha menenangkannya agar ular itu tidak menerkamnya.

Mengetahui hal itu Roselina ketakuatan, dan bingung apa yang harus dilakukan.

“Ini kesempatan bagiku….”, Ricky tersenyum. “Jangan khawatir Roselina…! Aku akan menyelamatkanmu…”.

“Eh, apa kamu bisa melakukannya seperti pawang…”, tanya Jenny.

Dia tidak perduli dengan pertanyaan Jenny, ia segara turun ke selokan kecil itu lalu berbicara dengan ular itu.

“Halo…ular manis…! Sssssss….! Sini…, ayo datang ke sini…”, Ia mencoba mengalihkan perhatian sambil mendesis persis seperti ular.

“Hei..! Apa yang kau lakukan? Bunuh diri, ya…”, teriak Roy.

Alhasil ular pun mendekat ke arah Ricky. Mereka terkejut melihat ular tersebut sebab ular itu bukan malah menerkamnya. Sebaliknya ular itu tertunduk di saat Ricky menyentuh kepalanya.

Sebenarnya Ricky masih ketakutan mencoba ilmu yang dipelajarinya dari ayahnya yang adalah seorang pawang ular. Apa salahnya ia mencoba meski masih pemula. Karena merasa masih memiliki ketakutan maka ia memegang kepala dan ekornya. Lalu ia meletakkannya jauh dari jalan setapak.

Ricky kembali datang mendekati Roselina dan membantunya untuk berdiri. Roy dan yang lainnya masih keheranan.

“Terima kasih, Rick…”, pujinya kepada Ricky.

“Ah…, itu belum seberapa…”, balasnya dengan merasa sedikit tenang apalagi tangannya merangkul bahu Roselina.

“Wah…, kamu hebat, Rick…”, Roy jadi penasaran.

“Ah…, sejujurnya aku ketakukan juga lho…, cuma karena teman kita dalam bahaya, ya…spontan aku beranikan diri untuk menolong sekali pun membahayakan diriku…”, paparnya dengan tidak memberitahukan ilmu yang dipelajarinya.

“Iya, ya…”, Roy pun paham. “Oke…, kita ke telaga lagi…”. Pintanya kepada teman-teman.

Mereka pun kembali berjalan menuju telaga.

“Hmmm…., hebat juga dia ya…! Punya keberanian…”, gumamnya terkagum-kagum. “Gimana dengan Mario, ya? Apakah dia punya keberanian”, tertegun sejenak sambil berjalan.

Sebenarnya sudah ada benih cinta dalam Roselina terhadap Mario, tapi dia belum bisa mengungkapnya. Dia ingin mengetahui apa kelebihan Mario. Dia memang sudah mengetahui sifat Mario tetapi dia masih sulit mencari apakah Mario bisa melindunginya.

“Kamu kenapa…”, Ricky bertanya karena melihatnya melamun.

“Nggak kenapa-kenapa…, cuma aku merasa sukacita setelah kamu menolong aku…”, mencoba untuk menyembunyikan hayalannya.

“Eh…, terima kasih…”, Ricky jadi grogi mendengar pujian Roselina.

Akhirnya mereka sampai ke tujuan. Mereka semua terkejut, ternyata Mario sudah lebih dulu mendatangi telaga. Malah dilihatnya Mario sudah berenang-renang di tengah telaga.

“Busyeet…., kapan kau di sini, bro….”, tanya Roy sambil meletakkan perlengkapan mandinya.

Yang lain juga meletakkan perlengkapannya lalu memakai basahan apa adanya, lalu masuk dalam telaga.

“Dua puluh menit yang lalu….”, jawab Mario dengan berteriak sembari menyelam.

“Mario…”, panggil Roselina sambil berusaha berjalan sendiri tanpa bantuan Ricky

“Ya…, ada apa”, balas Mario sambil merapat ke tepi telaga, lalu ia duduk.

“Koq kamu bisa duluan ke sini…”, tanya Roselina sambil membuka bajunya, yang di dalamnya sudah ditutupi basahan.

“Apa kamu terbang…”, tanyanya kembali sembari masuk ke dalam telaga.

“Mungkin….”, jawab Mario apa adanya karena merasa cemburu melihat Ricky berjalan bersamanya.

“Jangan ngawur kamu…”, celetuk Roselina sambil menikmati kehangatan telaga.

“Wow…! Lumayan juga bodynya…”, Mario kagum melihat postur tubuh Roselina yang berbentuk akibat air yang membasahi basahannya.

Tak terkecuali Ricky, dia juga kagum melihat body Roselina.

“Hoii…, kamu ngapain sih memandangi aku terus…”, Roselina jadi merasa tidak enak dipandang-pandangi. Dia menutupi badannya dengan masuk lebih dalam lagi ke tengah telaga.

“Ups…! Apa yang kulakukan…”, gumam Mario merasa bersalah. Ia langsung menjauh dari lokasi telaga.

“Mario…, kamu mau kemana”, Roselina memanggil merasa dirinya telah membuat hati Mario tersinggung.

Memang Mario terseinggung, tapi dia menjauh karena memang merasa bersalah.

“Saatnya membalas sakit hatiku”, bisik hati Ricky.

Ricky ke luar dari telaga, lalu memakai kaos oblongnya. Ia mendekatinya Mario yang masih berada di depan yang semakin lama semakin jauh melangkah. Tanpa pemberitahuan Ricky berlari ke arah Mario dengan menyiapkan tinjunya.

Mario tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, akan tetapi pendengaran Mario alias E-Man sangat tajam sehingga ia bisa mengelak dengan cepat sekali.

“Hiaat…”, tangan kanan Ricky hampir mendarat dengan keras. “Grusak…grusak…”, Namun sebaliknya, Ricky malah meninju angin dan terjerembap ke semak-semak.

“Ukh…, sial…”, Ricky kesal dan meringis kesakitan.

“Kamu, kenapa…”, tanya Mario pura-pura tidak tahu.

Ricky berdiri dan mendekat ke arah Mario sembari berkata dan menuding Mario dengan jari telunjuknya :“Hei Mario…! Jangan sekali-sekali kamu dekati Roselina karena kamu tidak berhak jadi kekasihnya…!”

Lahirnya The Crime Buster BAB 7

BAB 7

Roselina merasa senang atas kehadiran Mario duduk di sampingya, dan ia pun merebahkan kepalanya ke bahu kanan Mario yang semakin lama semakin menjadi-jadi, jantungnya berdebar-debar keras. Mario pun mencoba menenangkan dirinya dengan membelai rambut Roselina.

“Oh…Tuhan, inikah gadis yang Engkau tunjukkan padaku…”, bisiknya dalam hati, dan Roselina mulai tertidur karena belaian tangannya.

“E-hem, e-hem…”, Roy datang mendekat.

Seketika itu juga mereka berdua nyaris terkejut dan bergegas melepaskan rangkulannya masing-masing.

“Maaf, mengganggu…, apa kalian belum tidur”, tanya Roy sambil menggaruk-garuk kepala, pura-pura tidak tahu apa yang ia lihat.

“E…, sebentar lagi kami akan tidur”, jawab Mario dengan ragu.

“Emang uda jam berapa ni…”, Roselina malah bertanya.

“Jam satu non…”, jawab Roy

“Jam satu…”, keduanya serentak terkejut.

Mario kemudian mengajak Roselina untuk beristirahat, dan ketiganya pun masuk ke dalam rumah. Mario dan Roy tidur di ruang tamu yang sudah berisi dengan laki-laki yang telah pulas tidur. Sedangkan Roselina bergabung dengan wanita lainnya di kamar sebelah yang agak luas.

Suasana pun hening, tak satu pun suara manusia yang terdengar kecuali dengkur ayah Roselina, Andi dan suara-suara binatang malam.

Namun di tempat lain yang agak jauh dari kampung halaman Roselina, yang berada di pinggir Kota Tarutung terdapat sepuluh orang dari beberapa golongan usia, berjenis kelamin pria sedang mengadakan sebuah rencana besar. Semuanya rata-rata mengunakan jaket hitam.

Mereka duduk di kursi mengitari meja panjang segi empat, yang telah berisi berbagai kulit kacang, minuman alkohol, rokok dan lain sebagainya.

“Para anak buahku sekalian, maaf aku terlambat karena aku tadi ada urusan dengan pimpinan mafia dari Malaysia”, katanya yang baru saja datang dan duduk di kursi di lebaran meja segi empat tersebut.

“Kita punya rencana besok, maksudku nanti pagi”, sambungnya dengan meralat ucapannya sambil menghidupkan sigaret kreteknya.

“Omong-omong apa rencana kita nanti bos”, tanya anak buah yang paling muda.

“Kami jadi penasaran…bos”, sambung temannya.

“Kalian belum tahu ya…! Begini, Diamond Tapanuli Hotel tidak memberikan setoran kepada kita”, papar pimpinan mafia tersebut. “Hanya hotel itulah yang belum memberikan upeti kepada kita”, lanjutnya sambil menikmati sigaretnya.

“Jadi, apa yang harus kami lakukan…”, tanya anak buahnya yang lebih dekat duduknya.

“Buat kerusuhan di sana….”, kata si pimpinan dengan membayangkan Diamond Tapanuli Hotelhancur porak poranda.

“Caranya gimana, bos…”.

“Iya, apalagi hotel itu banyak dijaga polisi”, sambung yang paling muda.

“Saya sebagai Jarot pimpinan Rojan Gan’k harus bisa membuat hancur hotel itu, kalau tidak jangan anggap kalian Jarot sebagai bos dan bersiap-siaplah untuk mendapatkan hadiah yang menyakitkan dariku. Bagaimana menurut kalian…”, paparnya sambil berdiri dengan memegang sisi meja sambil memandang anak buahnya satu per satu.

Semuanya tertunduk dan terdiam. Jantung mereka berdegup keras dan tak tahan membalas pandangan bosnya, si Jarot yang penuh dengan kebengisan dan kebencian.

“Rogan…”, panggil Jarot dengan keras.

“Ya…, bos…”, anak buahnya yang paling muda bernama Rogan tersentak kaget dan semakin menunduk.

“Kamu saya tugaskan memimpin misi ini…”.

“Siap, bos. Tapi, gimana dengan polisinya”, jawabnya dengan ketakutan.

“Goblok banget..”, Jarot marah membuat yang lainnya tersentak. “‘Kan ada Letnan Parto yang akan mem-backing kalian…”, ia menunjuk salah satu anak buahnya yang duduk dekat dengannya yang juga seorang perwira polisi.

“Parto…! Bagaimana dengan kamu”, Jarot bertanya pada perwira tersebut. “Apa kamu bisa ikut ambil bagian”, sambungnya kembali dan juga kembali duduk.

“Saya bisa melakukan itu bos. Jangan khawatir, akan saya lakukan semaksimal mungkin”, jawabnya dengan mencoba menenangkan dirinya.

Parto memang satu-satunya polisi yang menjadi anggota Rojan Gan’k. Sejak kecil ia sudah yatim piatu. Entah kenapa Jarot berbaik hati membesarkannya sampai ia bisa mengikuti pendidikan perwira kepolisian. Aneh, penjahat melahirkan polisi yang akhirnya menjadi polisi yang berjiwa penjahat.

“Bagus…”, pujinya. “Sekarang kita ke mobil…”, perintahnya kepada anak buahnya.

“Baik bos…”, jawab anak buahnya serentak.

Pimpinan mafia dan anak buahnya keluar dari ruangan menuju mobil colt diesel berwarna hitam yang mirip dengan model Suzuki APV. Mereka berhenti setiba di samping kiri mobil hitam tersebut.

“Janus…, buka pintu”, perintah Jarot, lalu Janus membuka pintu. “Beritahu apa-apa saja yang akan dipakai untuk melakukan misi ini”, sambungnya kembali.

Lalu Janus mengeluarkan kotak besar dan panjang berbentuk balok dibantu oleh dua orang temannya. Kemudian ia mengambil tas rangsel dan meletakkannya di tanah.

Tampaknya Janus sangat lihai dengan alat-alat tersebut. Maklum saja, ia sudah lama berkecimpung di Kepolisian bidang perlengkapan dan peralatan keamanan, yang akhirnya mengundurkan diri karena menurutnya bawah gajinya tidak sesuai dengan keinginannya.

“Ini namanya MM 45. Cara pakenya begini…”, Janus memperagakan senjata berwarna silver agak kecil.

“Yang ini namanya AK-47, caranya begini…”, sambungnya dengan membidikkan senapan otomatis berlaras panjang ke arah lain.

“Kalau yang ini, apa…”, tanya Rogan dengan mengambil senjata yang mirip dipakai polisi biasanya.

“Ini namanya Pistol Revolver. Cara memakainya sama dengan pistol Baretta”, papar Parto dengan memberi perbandingan pada pistol yang berukuran lebih kecil lagi. Maklum saja, ia sudah paham dengan hal tersebut karena dia adalah perwira polisi yang sudah pernah mencobanya.

“Lha, yang satu ini untuk apa…”, tanya anak buah yang satu dengan logat jawa sembari menunjukkan tas rangsel tadi.

“O…, ini topeng untuk menutup kedok kita”, Janus kembali memberi penjelasan sambil menunjukkan topeng dari rangsel.

Hampir tiga jam Janus memperkenalkan peralatan yang akan dipakai. Berbagai macam senjata ditunjukkan sampai ke Bazooka dan Granade.

“Oke, pilih saja senjata yang kalian sukai dan segeralah istirahat. Kira-kira jam sembilan pagi kita berangkat…”, si komandan memberi perintah.

Tanpa diperintah dua kali, masing-masing anak buah Jarot memilih senjata yang mereka sukai dan kemudian mereka istirahat.

Mentari mulai mengintip di balik gunung, segala jenis unggas yang ada di kampung halaman Roselina menyambut kedatangannya. Aktivitas pun mulai dilakukan oleh para penduduk di seantero desa tersebut.

Semua teman-teman Roy sudah bangun dan segera bergegas. Roselina pun mengajak mereka ke telaga untuk menikmati hangatnya air telaga, sekaligus menghangatkan tubuh dari rasa dingin yang menyelimuti tubuh mereka.

Mereka berangkat ke telaga dengan membawa segala perlengkapan mandi. Roselina merasa Mario sudah ikut. Namun sebaliknya Mario masih tergolek-golek tidur di tikar yang ada dalam ruang tamu.

Mereka berjalan kaki ke telaga. Ricky berusaha mendekatinya agar bisa berdampingan berjalan. Namun hati Roselina merasa ada yang kurang. Dia tanya satu per satu di mana posisi Mario.

“Aduh, nona cantik…! Kamu nggak usah khawatir dengan Mario. Dia mungkin sedang ngopi ama mertuanya, hi…hi…hi…”, Jenny berusaha melucu untuk menghibur Roselina.

“Ah…, kamu ini…”, Roselina mencoba tenang melihat gelagat Ricky yang mulai aneh.

Lahirnya The Crime Buster BAB 6

BAB 6

Hati Pak Anto sedikit agak lega, ternyata patungnya diganti dengan uang sebesar seratus lima puluh ribu rupiah.

“Sudah…sudah, kita tidak perlu lagi membahas itu. Ternyata dia menggantinya dengan duit sebesar seratus lima puluh ribu rupiah…”, seru Pak Anto kepada orang-orang sambil menunjukkan uang.

“Dia memang sudah minta maaf, tapi dia hanya menulis E-Man atau Electric-Man alias Manusia Listrik…”, sambung Bapak kepala Desa.

“Aha…, aku baru ingat. Kemarin aku bermimpi ada orang memakai kostum patungku. Dia menyelamatkan aku. Ia memiliki kekuatan listrik dan bisa terbang”, Pak Anto menceritakan mimpinya kemarin.

“Ah…, ada-ada aja bapak ini…”, celetuk istrinya kepada Pak Anto.

“Bisa jadi, tapi apa bapak ingat wajah si E-Man dalam mimpi bapak”, tanya Bapak Kepala Desa seolah-olah ia peramal mimpi.

“Tidak, pak…! Soalnya dalam mimpiku dia sudah memakai topeng dan kostum patungku…”, jawab Pak Anto.

“Apa bapak masih mempersoalkan patung itu lagi…”, Bapak kepala Desa mencoba menggubris patung yang sudah hilang tersebut.

“Sudahlah pak, nggak usah dipikirin. Dia sudah minta maaf dan sudah menggantinya. Mana tahu mimpiku bisa kenyataan…”, katanya dengan hati senang.

“Baik…, para warga sekalian, kita bubar dan kembali ke rumah masing…”, Bapak Kepala Desa memberi perintah bubar kepada warganya.

Seketika itu juga mereka bubar dan masuk ke rumah masing-masing. Tempat itu pun kembali sunyi dan hening seperti semula.

Di tempat lain, Mario sedang mengudara di melewati awan-awan dingin menuju kampung halaman Roselina.

“Pas banget topeng ini. Bajunya apalagi…! He…he…he…”, gumamnya dengan hati senang.“Yuhhuuu….”, E-Man alias Electric-Man, si Manusia Listrik melaju kecepatan terbangnya.

Sekitar jam 00.30 WIB E-Man tiba di permukaan rumah Roselina. Sambil melayang-layang ia melihat teman-temannya di bawah sedang bernyanyi-nyanyi mengitari api unggun. Tak luput dari perhatiannya, ia melihat Roselina sedang duduk bersama Ricky sambil berpegangan tangan. Mario cemburu karena Ricky tidak hanya duduk bersama saja tapi dia menggandeng Roselina.

“Oh…sial…”, E-Man alias Mario menggerutu.

Dia memperhatikan daratan sambil mencari tempat yang aman untuk mendarat agar tidak mengejutkan mereka. Pendaratan pun berjalan dengan mulus tanpa ada yang melihat. Ia bisa menapakkan kakinya di tanah yang tidak terlalu jauh dari kawasan rumah Roselina. Lalu ia menukarkan pakaiannya dengan sekejap. Beberapa menit kemudian ia berjalan menuju pelataran rumah Roselina.

“Hai kawan-kawan semuanya…, saya datang ni”, sapa Mario kepada teman-temannya.

“Mario…”, semua orang di sekitar tempat itu terkejut termasuk Roy dan Roselina.

Roy segera mendekati Mario dan Roselina melepaskan tangan Ricky dan melangkah menuju Mario.

“Hey…, friend! Aku pikir kamu nggak datang”, sambut Roy dengan menyalaminya dan menepuk-nepuk punggung Mario.

“Thanks God, ternyata Mario datang juga…”, Roselina juga menyambutnya dengan menyalaminya dan menggaet tangannya sehingga Ricky menjadi geram dan cemburu.


“Dari mana aja kamu…, sampe-sampe Roy resah…”, tanya Andi.

“Roselina juga memikirkanmu lho…”, sambung Ani memancing Roselina.

“Plok…plok…plok…”, semua serentak bertepuk tangan dengan riuh..

“Ah…, kamu ini…”, wajah Roselina berwarna merah jambu.

Dari dalam rumah Ayah dan Ibu Roselina keluar, seketika itu juga Roselina memperkenalkan Mario kepada kedua orang tuanya.

“Mario, kenalkan! Ini orang tuaku”.

“Oh…saya Mario, pak…bu…”, Mario pun menyalami kedua orang tua Roselina.

“Lha…, kamu koq belakangan datangnya, nak Mario”, tanya Ayah Roselina.

“Ada kerjaan, ya…”, sambung Ibu Roselina bertanya.

“Iya…bu. Jadi merepotkan teman-teman”, jawab Mario malu-malu karena temannya di belakang membisikkan bahwa orang tua Roselina sebagai calon mertuanya.

“Oh, anak-anak sekalian…kami duluan tidur ya…”, Ayah Roselina mohon pamit untuk istirahat.

“Iya, soalnya nggak enak rasanya kalau nggak permisi dulu untuk tidur…”, sambung Ibu Roselina. “Maklumlah, udah tua”.

“Nggak apa-apa, bu…pa…! ‘Kan, kami masih muda nih”, pungkas Boby.

“Nanti kalau kami sudah letih kami akan beristrihat…”, sambung Roy.

“Jangan khawatir ma…, kami bisa koq menjaga suasana”, kata Roselina sembari mendekati Ibunya dan merangkul tangan kanannya.

“Baiklah…, kami tidur dulu ya…”, Pinta Ayah Roselina kembali.

“Ya…pak…”, teman-teman Roselina serentak menjawab.

Kedua orang tua Roselina akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu depan rumah, dan semua teman-teman Roselina kembali mengitari api unggun, kecuali Mario, Roselina dan Ricky.

Kemudian Ricky mendekati Roselina, akan tetapi Roselina lebih dulu menggandeng Mario dan mengajaknya ke pinggir kolam ikan yang berada tidak jauh dari api unggun. Kelihatannya Roselina tidak peduli dengan Ricky. Ricky pun kesal, cemburu, lalu pergi menuju api unggun.

Kedua pasangan itu pun duduk di bangku panjang di tepi kolam ikan sambil bercerita-cerita dengan santainya.

“Ros…, tumben kamu ngajak aku berduaan. Ada apa”, bisiknya pada Roselina dengan hati yang tak karuan.

“Emang kenapa? Ngakk bisa…”, hati Roselina tergugah dengan pertanyaan Mario dan melepaskan rangkulan tangannya dari lengan kanan Mario.

“Bukan nggak bisa, tapi nggak biasanya kamu seperti ini…”, jelas Mario mencoba untuk melegakan hatinya. “Malah aku berterima kasih kepadamu karena kamu telah mengajak aku ke sini…”.


“Ah…, kamu ini…! Kirain nggak mau, tau-taunya mau…”, Hatinya Roselina pun kembali dan tersenyum sambil mencubit tangan kanan Mario.

“Aduh…, sakit…”.

“Masa segitu aja dibilang sakit, padahal pengen”.

“Tau aja…., hehehe…”, Mario merasa bahagia.

Ternyata adegan ini yang kelihatan mesra, dan terlihat oleh Ricky dari api unggun Hal membuat hatinya semakin panas dan benci kepada Mario.

“Mario, kurang ajar kau…”, gumam Ricky dalam hati dengan kesal bercampur kecewa. Ia mulai merencanakan sesuatu agar bisa mendapatkan Roselina.

Tak terasa waktu pun menunjukkan pukul 01.13 WIB, sementara teman-teman Roselina bergegas untuk istirahat, sedangkan Mario dan Roselina masih bercerita tentang masa lalu mereka ketika mereka masih duduk di bangku SD.

Lahirnya The Crime Buster BAB 5

 BAB 5

“Aku…, aku…sulit untuk melupakan kebaikanmu padaku…”, jawabnya agak terpatah-terpatah.“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membalas kebaikanmu…”, sambungnya dengan mata berair, Christine merasa berutang budi terhadap Mario.


“Ah…, aku menolongmu bukan karena dilatarbelakangi oleh pamrih. Tapi aku menolongmu karena memang patut untuk ditolong…”, sambung Mario merasa tidak ingin penghargaan yang berlebihan.


Tanpa diduga Mario, Christine mendekat dan memeluk Mario dan menyandarkan kepalanya ke dada Mario dengan mata berair.


Jantung Mario berdebar-debar merasakan dekapan Christine. Apalagi Mario merasa baru pertama kali ia dipeluk gadis secantik Christine. Mario tidak mau kalah, ia malah menyambut pelukannya dengan membelai rambut Christine yang panjang dan anggun. Lalu kedua tangan Mario memegang kepala Christine dan mengusap air mata Christine.


“Adik Chris…, kamu tidak perlu berlebihan seperti ini. Kamu tidak perlu khawatir bagaimana cara kamu membalas perbuatanmu. Kamu bilang terima kasih aja aku sudah senang. Kalau kamu tidak dapat membalas, ‘kan ada Tuhan yang membalas…”, Mario menghibur Christine sembari memandang wajah Christine dengan seyuman.


“Terima kasih…, bang”, Balasnya kepada Mario dan dia mencoba untuk menjinjit kakinya serta mencium bibir Mario.


Mario kelabakan atas perbuatan Christine, tapi ia malah membiarkannya dan anehnya malah disambut baik oleh Mario. Kegiatan tersebut agak berlangsung lama.


Mario melepaskan ciuman Christine dan memegang pundaknya dan berkata : “Pulanglah, ayahmu sudah lama menunggu di mobil!”


“Iya…bang, aku akan mengenangmu selama hidupku…”, jawabnya dengan lembut dan mulai melangkahkan kakinya menuju kijang.


Christine pun menjauh dari Mario, kini dia sudah di dalam Mobil yang beberapa menit kemudian melaju menelusuri jalan utama. Christine pun menghayal.



“Mario…, sejak dari awal aku sudah tertarik dan jatuh cinta padamu…tapi…”, Ujarnya dalam hati, sebenarnya dia ingin menyatakan isi hatinya tapi dia tidak bisa melakukannya karena dia masih terikat dengan Kekasihnya yang bernama Rogan.


Jam Mario menunjukkan 11.20 WIB, namun masih berjalan menelusuri jalan raya sambil melihat-lihat toko yang masih buka. Tempat itu sunyi tak satu pun toko yang buka.


“Bah, tak ada satu pun yang buka”, ucapnya dalam hati sambil melihat-lihat kembali. “Hei…, apa itu…”, langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah rumah dengan di atasnya terpasang sebuah patung kayu mengenakan pakaian karet.


Ia melihat tulisan di bawah patung tersebut. Tulisan itu terpampang pada sebuah papan yang berisi : E–MAN (ELECTRIC–MAN); dan di bawahnya lagi pada sebuah papan pamplet tertulis : AHLI/TUKANG INSTALASI LISTRIK. Akhirnya Mario mengerti bahwa Electric-Man itu bukan Manusia Listrik, tapi Ahli/Tukang Instalasi Listrik yang seharusnya ditulis Expert of Electric Instalation. Mario berpikir mungkin itu dibuat supaya keren dilihat dan dibaca orang meski sebenarnya bukan itu yang maksudnya.


“Hehehe, ada-ada aja orang sekarang ya….”, tertawa setelah membaca tulisan tersebut.


Tanpa pikir panjang, Mario melihat sekelilingnya apa kira-kira ada orang. Setelah merasa aman dia langsung melompat ke atap lalu mendekati patung tersebut. Ia tarik patung tersebut dengan hati-hati agar tidak merusak papan pamplet sekaligus tidak mengganggu tidur orang yang punya rumah dan juga orang di sekitarnya. Patung pun dapat ditarik dan dipegang lalu mendarat ke halaman rumah. Kemudian ia meletakan patung itu sementara, lalu ia mengambil pulpen dan secarik kertas dari tasnya.


Ia menulis surat dengan isi :


Sipoholon, …. Juni 2007


Kepada Yth. :


Pimpinan Usaha E-Man


(Ahli/Tukang Instalasi Listrik)


Di Tempat.


Salam sejahtera,


Mohon maaf kepada Bapak, karena saya telah mengambil patung Bapak tanpa permisi atau izin dari Bapak. Saya sangat menginginkan kostum patung itu demi misi menumpas kejahatan. Saya tidak tahu berapa harganya, tapi meski demikian saya akan ganti dengan materi yang bisa saya berikan. Mohon maaf kepada Bapak jika materi itu tidak sesuai dengan harganya.


Kiranya Bapak dapat memaklumi saya, sebelum dan sesudahnya saya mengucapkan terima kasih.


Tertanda,


E–MAN


Electric–Man


(Manusia Listrik)


Mario selesai menulis, kemudian ia merogoh kantongnya untuk mengambil uang seberas seratus lima puluh ribu rupiah dan menyelipkannya dalam lipatan surat tersebut. Lalu Mario memasukkan surat itu ke bawah pintu depan rumah tersebut.


Setelah Mario memasukkan surat, ia bergegas mengambil pantung dan siap untuk terbang. Sebelum ia mengudara ia kepergok beberapa orang dan berteriak.



“Maling…! Maling…”, teriak salah seorang dengan berlari mendekati Mario.


“Maling…! Tangkap…”.


Melihat situasi tidak aman Mario langsung terbang ke langit dan terus lurus ke langit agar orang tersebut tidak bisa menangkapnya. Akibat dari teriakan tersebut seketika orang-orang terbangun dan ke luar dari rumah menuju jalan sampai orang berhamburan.


“Mana malingnya…”, tanya pak tua.


“Udah pada kabur…”, jawab saksi.


“Ke mana kabur…”, sambung Bapak Kepala Desa yang baru saja ke luar dari rumah.


“Ke langit…”, jawab saksi berikutnya sambil menunjuk ke langit.


“Ke langit…”, semua orang serentak terkejut.


“Maksud anda, dia terbang…”, tanya Bapak Kepala Desa semakin penasaran.


“Jangan ngaco…”, seru seseorang dari belakang karena tidak yakin dengan penjelasan mereka.


“Maling apaan bisa terbang…”, sambung warga yang lain.


“Sumpah, pak…! Kami ada lima orang melihatnya”, saksi berusaha meyakinkan Bapak Kepala Desa.


“Iya pak, dia bawa patung dari atap rumah pak Anto”, sambung saksi lain meyakinkan dengan menunjuk rumah pak Anto.


“Patung…”, seorang bapak-bapak yang tidak terlalu tua terperanjat mendengar penjelasan saksi tersebut. Dia langsung ke halaman rumahnya.


“Ha…, patungku diambil…”, spontan terkejut setelah melihat patungnya tidak ada di situ.


Akhirnya semua orang percaya : “Tapi maling yang koq bisa terbang…”, tanya Pak Anto keheranan.


“Kalian masih ingat dengan wajahnya…”, tanya Bapak Kepala Desa kepada saksi-saksi tersebut.


“Kami tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena suasana lokasi ini sangat gelap…”, jawab si saksi dengan penjelasannya.


“Hmm…, pak Anto! Ngomong-ngomong berapa harga patungmu itu ditempah…”, Bapak Kepala Desa bertanya kepada Pak Anto.


“Sembilan puluh ribu rupiah pak, itu pun diskon…”, jawab Pak Anto dengan sedih.



“Pak…! Pak…, ada surat saya temukan di pintu rumah kita…”, istrinya berseru sambil menunjukkan sebuah surat dan memberikannya kepada Pak Anto.


Pak Anto membuka surat tanpa amplop itu dan dibacanya dengan keras. Bapak Kepala Desa pun mencoba mendekatinya untuk melihat surat itu.


“E-Man…? Dia meniru nama usaha Bapak…”, seru saksi.


“Misi Menumpas Kejahatan…? Wow…! Jangan-jangan itu hanya akal-akalan aja…”, sambung yang lain dengan berteriak.


Lahirnya The Crime Buster BAB 4

BAB 4
Malam mulai menunjukkan pukul 10.30 WIB, dari kejauhan terdengar suara wanita minta tolong. Mario bisa mendengarkannya dan mencoba mengikuti arah suara tersebut, dan akhirnya Mario menemukannya.

“Wah…, ini pekerjaan pertamaku, sekalian latihan beladiri. Tapi aku belum punya kostum…”, ia masih di udara tepat di atas para pria bejat yang sedang mengejar dan akan memperkosa wanita itu. Untung saja tidak ada orang melihat Mario melayang-layang di udara, apalagi didukung malam yang gelap.

Akhirnya ia menemukan pendaratan yang cocok yang tidak diketahui orang. Ia tidak mau menunjukkan kehebatannya dengan terang-terangan tanpa kostum.

“Dapat juga kamu nona manis…”, seorang pria berhasil menangkap wanita cantik itu dan memeluk wanita dengan erat.

Dia mencoba untuk melawan tapi tak bisa, pelukan si Bos sangat kuat. Ia hanya bisa berteriak minta tolong.

“Eh…, kalian dua! Pegang tangannya…”, perintahnya kepada anak buahnya sambil menindih tubuh yang indah tersebut.

Kedua temannya pun membantu dia untuk memegang kedua tangan si gadis. Dan satu lagi merebahkan tubuh wanita itu ke tanah secara paksa.

Sebelum dia menikmati kegadisan wanita, dengan penuh nafsu ia menyentuh daerah-daerah yang sensitif pada tubuh gadis tersebut.

Gadis tersebut pasrah, yang bisa dilakukannya hanya merintih akibat sentuhan kasar tersebut dan memohon dengan suara lemah : “Jangan…! Jangan lakukan itu…!”

Si Bos malah bertambah nafsu mendengar suaranya, ia mulai melucuti semua pakaian wanita tersebut dan siap menikmati kegadisannya.

“Bukhh..! Gedebugggg…! Pak..! Bughhh….”.

“Akhh……”, Si Bos terlempar menghempas pohon dan meringis Kesakitan, sama halnya dengan kedua anak buahnya.

“Mario…”.

“Christine…”.

Ternyata keduanya sudah saling mengenal, dan perkenalan itu terjadi pada waktu keduanya berada di bus tadi siang.

“Bah…, bocah ingusan rupanya yang sudah saling kenal”, ia marah dan bangkit berdiri. “Kamu sudah menggangu kegiatan kami. Akan kuberi kau pelajaran keras, ya…”, ancam si brewok pun sambil memberi kode untuk menyerang kepada anak buahnya.

“Kegiatan apaan…, itu namanya tindakan jahat yang merusak hak orang lain…”, balas Mario dengan geram.

“Aku tidak perduli…! Hiaat…rasakan pukulanku ini…”, si Bos dan anak buahnya pun menyerang dengan membabi buta.

Mario tetap pada tempatnya, tidak mundur atau pun maju. Seketika pukulan tangan kanan si Bos ditangkisnya dengan tangan kiri dan juga tendangan kaki anak buahnya ditepis dengan tangan kanan. Dan satu lagi dari belakang mencoba untuk memukul pundak Mario. Tapi dapat dielakkannya. Mario masih tetap di tempat, malahan secara tiba-tiba dia memberikan masing-masing tendangan pelak dengan cara berputar.

“Bug…”.

“Aduh…”.

“Gedebugh…! Bugghhh…”.

“Akhhh…”.

Mereka tidak hanya mendapatkan tendangan saja, tetapi hasil tendangan itu membuat mereka terlempar ke belakang.

Sambil memperbaiki pakaiannya, Christine terkagum-kagum melihat kelihaian Mario dalam beladiri.

Tak hanya sampai di situ saja, si Brewok dan anak buahnya kembali menyerang. Kali ini si Bos mengeluarkan pisau cutter dari saku depan celana jeans-nya. Dan anak buahnya mengambil kayu balok dari tanah.

Christine merasa khawatir melihat serangan balik si Brewok dan anak buahnya karena menggunakan alat untuk menyerang.

Ia tetap berdiri di tempat, tetapi tetap siaga dan tidak menganggap lawan enteng. Mereka pun menyerang Mario. Namun Mario lebih dulu menahan serangan yang lebih dekat dengannya. Dengan cekatan ia menangkap kayu yang anak buah satu dari serangan kanan dan juga menangkap kayu dari kiri yang mencoba menghantamnya kendati kayu masih dipegang erat. Kemudian Mario menyilangkan kedua kayu itu di depannya untuk menahan serangan pisau ke arah perutnya. Pisau pun tertahan, dan kaki kiri Mario menyiku perut si Bos. Lalu kayu itu ditarik berlawanan arah dan memukulkannya ke kepala anak buah tersebut.

Tak ayal lagi, keduanya terlempar ke belakang dan meringis kesakitan. Melihat pertarungan yang tidak seimbang si Bos memberi kode.

“Ayo…, lari…”, si Bos dan kedua anak buahnya melarikan diri dengan kucar-kacir, dan masuk ke mobil Jeep tua berwarna hitam. Dan berangkat…

Christine merasa lega karena Mario dapat mengatasinya. Kemudian Mario mendekatinya.

“Dik…! Kamu koq bisa ada di sini”, tanya Mario penasaran sembari memperhatikan seluruh tubuh yang ditutupi pakaian yang sudah lusuh. “Hampir saja kau diperkosa oleh mereka”, sambungnya.

Christine merasa malu, dan menutup baju bagian atas yang sudah tidak memiliki kancing lagi. Mario sempat melihat bagian atasnya tanpa pembalut pada saat Mario menyerang para penjahat tersebut. Hal itulah yang membuat Christine lebih malu lagi. Mario pun memalingkan perhatiannya.

“Sekitar pukul 20.26 WIB Aku dan papaku berangkat dengan mobil pribadi dari Balige…”, jawab Christine tertunduk.


“Lalu…”, lanjut Mario.

“Lalu, setiba kami di jalan raya sana kami di cegat oleh mereka dengan mobil jeep…”, sambung Christine dengan tangan menunjuk mobil kijang kapsul warna hitam di jalan raya.

“Bagaimana dengan papamu…”, kembali bertanya.

“Aku tidak tahu…, kita liat aja keadaannya di mobil”, ia tiba-tiba teringat dengan keadaan ayahnya.

Christine pun berlari ke arah mobil kijang, dan Mario mengikutinya. Pintu depan mobil bagian kiri dibuka. Tampak pria setengah baya tergeletak di jok mobil.

“Papa.., bangun pa…”, dia membangunkan ayahnya dengan terisak.

“Ukh…apa yang terjadi”, ayahnya siuman dan bertanya.

“Panjang ceritanya pa…”, jawab Christine sambil membantu ayahnya untuk duduk dan membalut tangan kanan ayahnya dengan kain kasa dari kotak P3K. Tangan kanan ayah Christine tergores akibat pisau si brewok.

“Lha.., ini siapa…”, tanya ayah dengan penuh curiga.

“Oh, iya…! Ini Mario, pa…”.

“Mario, pak…”, Mario memperkenalkan diri sambil menyalam Ayah Christine.

“Lalu…, di mana orang-orang jahat itu”, sambung Ayah Christine bertanya.

“Babak belur dihajar bang Mario, habis itu mereka kabur…”, jelas Christine dengan senyum dan melirik Mario.

“Oh…ya…”, kagum. “Terima kasih, nak. Kalau tidak ada kamu nak, hidup kami akan sengsara”.

“Ah…, bapak tidak perlu berkata-kata seperti itu! Itu karena Tuhan masih memperhatikan Bapak dan puteri Bapak…”, potong Mario sambil melirik jam tangannya.

“Bang…, terima kasih ya…”, Christine berterima kasih pada Mario.

“Sama-sama, dik…”, balas Mario. “Aku berangkat dulu, ya…”, mohon pamit.

“Lho, mau ke mana…”, tanya Ayah Christine.

“Iya, abang mau ke mana…”, sambung Christine.

“Aku mau ke sana, mau ke rumah nenek saya…”, Jawab Mario dengan menunjukkan jalan lain di samping kanan mobil kijang.

“Baiklah…, nak. Hati-hati ya…”, balas Ayah Christine.

“Ya…pak…”.

“Bang…, thanks…ya”, sambung Christine sambil menutup pintu mobil.

“Ya…, sama-sama…”, balas Mario dengan melangkahkan kakinya.

Kijang pun dihidupkan, dan siap-siap untuk berangkat.

“Pa…, sebentar pa…”, Christine meminta Ayahnya untuk tidak menjalankan mobil.


“Ada apa…”.

Christine tidak berbicara, malah pintu mobil langsung dibuka lalu mengejar Mario yang sudah agak jauh berjalan.

“Bang…., bang Mario”, panggilnya ke Mario dengan ngos-ngosan. “Tunggu sebentar bang…”.

Mario menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya, yang dari tadi melangkah lurus ke depan.


“Ada apa…”, sambutnya dengan membalikan badannya ke arah Christine. Sedikit Merasa heran.

Christine baru menghentikan langkahnya dan memandang Mario

Wednesday, February 5, 2014

Lahirnya The Crime Buster BAB 3

BAB 3
Mario pun siuman, dan bangkit berdiri. Dia memperhatikan seluruh tubuhnya. Aneh, dia tidak merasakan apa-apa kendati seluruh pakaian yang dikenakannya hangus terbakar.

“Wah…, koq aku masih hidup. Apa ini mimpi”, ia mencubit tangannya. “Auh…, sakit.! Ternyata aku tidak bermimpi.”

Dia melihat tasnya yang tidak jauh darinya. Ia buka tasnya dan mengganti seluruh pakiannya yang sudah hangus.

Cuaca buruk pun tidak dirasakannya lagi. Lalu kaki dilangkahkan menelusuri jalan raya. Mario merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya. Dia rasakan tubuhnya sangat ringan dan tidak merasa lelah.

“Koq badanku ringan sekali? Seharusnya aku capek dan lelah. Ah, aku coba dulu berlari apa badanku tetap ringan…”.

Mario pun berlari menelusuri jalan raya, dan ternyata benar, badannya sangat ringan. Bahkan ia mencoba melompat setinggi mungkin. Lompatannya ternyata melampaui batas lompatan manusia biasa.

“Euy…,” takjub.

“Yuhuuiii….! Lompatan tinggi…”, seru Mario kegirangan.

Akhirnya dia menghentikan kegiatan tersebut. Dia melihat jurang yang terjal dan dalam. Dia ingin mencoba apakah dia bisa melompat melewati jurang tersebut ke daratan yang sama tingginya dengan tempat perpijakannya. Jarak antara perpijakannya dengan daratan tersebut yang dipisah oleh jurang ada sekitar 500 meter, dan ke dalaman jurang sekitar 1000 meter. Sebelum dia melompat, Mario terlebih dahulu berdoa kepada Tuhan.

“Tuhan, semoga ini bukan ajalku…”, ucapnya dengan jantung berdebar, lalu melompat.


“Hiaaat….”


Lompatannya bagaikan peluru yang dimuntahkan dari moncong meriam. Namun, lompatannya tidak sampai atau gagal menyebrang. Malah ia jatuh ke jurang dan menabrak pohon-pohon yang tinggi. Dan sebelum sampai kedaratan ia melentangkan tangannya sambil menutup mata. Namun pendaratan yang ditunggu-tunggu tidak kunjung sampai malah badannya nyaris menyentuh tanah.

“Lho, koq aku nggak nyampai ke darat”, ia buka matanya. “Waw…, badanku bisa tertahan di udara yang hampir menyentuh tanah”, katanya sambil memperhatikan tubuhnya.

“Bup…”, akhirnya tubuhnya mendarat menabrak tanah.

“Aduh…, sakit juga”, meringis kesakitan meski tak seberapa.

Ia bangkit berdiri dan membersihkan tanah dari tubuhnya. Sedikit ia merasa heran, dan berpikir sejenak sambil memandang ke atas.

“Aku rasa aku bisa terbang. Coba dulu, ah…”, gumamnya dalam hati sambil melihat-lihat langit. Dia pun mencoba untuk terbang.

“Satu, dua, tiga…! Huup….”, akhirnya ia terbang melayang tinggi di udara. “Waaw..! Aku bisa terbang….! Aku bisa terbang….! Yuhuu…”, serunya sambil mengudara menembus awan-awan di langit.

“Aku rasa mungkin masih ada kekuatan lain dalam tubuhku…”, kembali penasaran dengan kekuatan lain dalam tubuhnya. Dan dia pun mencoba mendarat. Pendaratannya berjalan dengan mulus.

“Eh…, aku bisa melihat pada malam hari tanpa bantuan cahaya lain”, dia sadar bahwa penglihatannya dapat menembus ruang gelap. Tidak hanya itu saja, pendengarannya pun cukup tajam sampai-sampai ia bisa mendengar ular di belakangnya yang siap menyerang.

“Sisshhh…..”,

“Hup…”, ia berhasil menangkap kepala ular tersebut dan meremasnya dengan sekuat tenaga.“Hahh, koq bisa pecah…”, Mario terkejut melihat hasil remasannya.

“Jangan-jangan aku bisa mengangkat batu sebesar itu atau juga menendangnnya”, Mario pun mendekati batu yang besar di hadapannya lalu mengangkatnya. Ternyata batu besar itu dapat diangkat kemudian diturunkan tanpa merasa keberatan. Lalu ia mencoba meninju batu itu. Batu pun hancur meski tak seluruhnya. Namun ia masih juga penasaran apakah ada kekuatan yang lain lagi.

“Apakah aku bisa menghancurkan batu itu tanpa harus menyentuh”, tanyanya dalam hati. “Aku coba dulu ah…!”

Dia mengerahkan tenaganya sambil mengangkat tangan kanannya dan diarahkan ke batu yang lain.

“Ah…, ternyata tidak ada apa-apa”, sedikit kesal sambil menggoyangkan tangan kanannya ke berbagai arah.

Tanpa disadarinya tiba-tiba tangannya mengeluarkan sinar-sinar berwarna biru dan menghantam sekitarnya dan cahayanya menerangi sekitarnya seketika.


“Zrrrr…! Bus…! Zrr….! Bus…!”

“Ha…”, Mario spontan terkejut atas kejadian tersebut. “Koq bisa, jangan-jangan aku kurang bisa tadi mengendalikannya. Coba lagi, ah…!”

Dengan penuh konsentrasi, dia coba kembali mengeluarkan sinar dari tangannya.

“Zrrrr…! Pis…”, berhasil dilakukan tetapi tidak mengena pada batu. Lalu dicoba lagi.

“Zrrr…! Pis…”, batu pun dihujam seberkas sinar dari tangan kanannya tapi batu tidak hancur. Kembali ia mencoba.

“Zrrr…! Duaarr…”, batu hancur berkeping-keping dan percikan sinar biru itu merusak dedaunan sekitarnya.

“Waow…! Keren…”, tersenyum setelah mengetahui hasil usahanya. “Hmmm, berarti sinar tadi bisa dikendalikan sesuai dengan keinginanku”, ia berpikir dalam hati bahwa pukulan jarak jauhnya juga dapat dikendalikan sesuai dengan tingkatan yang diinginkannya.

“Oh…, aku rasa aku bisa ikut dalam perlombaan. Mungkin aku bisa jadi atlit lari, lompat atau lainnya…”, sembari ia duduk di bawah pohon ia terbayang akan olahraga yang dapat menghasilkan juara dan uang banyak.

“Tidak…! Aku tidak mau melakukan itu kalau hanya karena keinginan belaka saja”, ia menyanggah keinginannya. “Lebih baik aku gunakan kekuatanku untuk membela kebenaran dan menumpas kejahatan”, ucapnya dalam hati sambil mengepalkan tangan kanannya.

Sambil garut-garut kepala, Mario bangkit berdiri lalu berpikir nama samaran apa yang akan digunakannya untuk menumpas kejahatan.

“Blackman…! Bukan…! Superman…! Bukan juga…! Powerman…! Itu juga tidak…”, bingung memikirkan nama samaran.

Dengan melangkahkan kakinya ia kembali ke jalan semula dan tak diduga tiba-tiba angin kencang menghempas kabel-kabel listrik yang sudah putus lama putus serta merta kabel-kabel tersebut terhempas ke arah Mario bagaikan cambuk yang akan menghantamnya.

“Hup…”, dengan sigap ia tangan kanannya menangkap ujung kabel tersebut dan demikian juga tangan kirinya menangkap kabel lain.

Mario merasakan ada sentakan arus di tangannya tapi tidak merasakan apa-apa.

“Wah…! yang kutangkap ‘kan ujung kabel yang masih ada arusnya. Koq aku tidak merasakan apa-apa…”, keheranan atas peristiwa tersebut.

Kedua kabel yang masih memiliki arus ditempelkannya ke lehernya. Mario mersakan sentakan listrik dari kabel-kabel tersebut tetapi tidak juga merasakan apa-apa. Lehernya tetap seperti keadaan semula.

“Electric-Man…, atau E-Man aja…”, akhirnya ia menemukan samaran yang pas baginya.“Bagaimana dengan kostumnya, ya..? Nanti saja deh…”, tukasnya dalam hati sambil menyatukan kabel-kabel listrik tadi dan menegakkan tiang listrik yang sudah tumbang.

“Oh…, Roselina…”, ia teringat akan gadis yang dicintainya. “Aku harus segera ke tempatnya…”, tanpa pikir panjang ia pun terbang menembus langit gelap.

Di saat mengudara Mario berkata-kata dalam hati : “Aku tidak tahu dari mana kekuatan ini datang. Ah…, aku yakinkan saja diriku bahwa kekuatan ini datang dari Tuhan atau suruhan Tuhan. Terima kasih Tuhan…!”

Kekuatan yang didapatnya sebernarnya berasal dari Natan, Malaikat Halilintar. Natan hanya ingin menyelamatkan Mario dari sengatan Api Halilintar Daro dan juga sengatan arus listrik. Dia sebenarnya hanya mencoba untuk menetralisir tubuh Mario dari sengatan sinar dan listrik Daro. Natan merasa khawatir melihat Mario yang nyaris tak bernyawa, maka dia meningkatkan tenaganya agar Mario bisa sembuh dan tetap Hidup. Namun akibat kekuatan yang dikerahkan Natan telah melebihi kapasitas maka Mario mendapatkan kekuatan yang luar biasa dan tak satu pun manusia yang memiliki kekuatan seperti itu, sekali pun manusia itu adalah paranormal.

Lahirnya The Crime Buster BAB 2

BAB 2

Di tempat lain, di kampung halaman Roselina yang dihiasi langit merah tampak Roy dan teman-temannya sedang melakukan kegiatan masing-masing yang sebelumnya mereka sudah tiba pada pukul 14.07 WIB.

“Mario, di mana kau? Ada apa, koq kamu tidak ikut? Padahal kamu sudah berjanji untuk ikut”, Gumam Roy dalam hati yang duduk dekat api unggun.

Demikian juga dengan Roselina, hatinya merasa tidak tenang karena salah satu temannya tidak ikut ke kampung halamannya.

“Mario, kenapa dia tidak ikut, ya…”, tanya dalam hati sambil memperhatikan teman-temannya yang sedang kejar-kejaran.

“Hei…! Melamun, ya…”, tiba-tiba Ricky mengejutkannya.

“Ah…, aku tidak melamun. Cuma aku merasa tidak enak, soalnya kawan-kawan kita tidak lengkap”, jelas Roselina nyaris terkejut.

“Maksudmu, Mario…”.

“Iya…, kenapa”.

“Eh…, jangan-jangan kamu naksir sama dia”, tebak Ricky agak cemburu.

“Ah…, kamu ini! Aku hanya kepikiran kenapa dia nggak ikut. Itu aja. Jadi aku nggak ada hubungan perasaan dengan dia”, jelas Roselina dengan menyanggah.

Acara demi acara yang mereka lakukan berjalan dengan lancar dengan penuh suka cita meski tanpa Mario. Semua teman-teman Roy bersenandung ria kecuali Roy dan Roselina yang masih memikirkan ketidakhadiran Mario.

Malam pun tiba dengan cuaca yang sangat mendukung kegiatan tersebut. Lain di tempat di mana Mario masih menunggu kedatangan bus lain. Cuaca sangat menjengkelkan bagi Mario sampai-sampai dia kedinginan.

“Wah…! Hujan mau turun. Mau balik ke bus tadi tak mungkin. Aku sudah terlalu jauh berjalan”, merasa bingung dan gusar.

Beberapa detik kemudian hujan mengguyur bumi tempat berpijak Mario yang sedang kesulitan mencari tempat teduh. Dengan basah kuyub akhirnya dia menemukan sebatang pohon yang rindang untuk berteduh, dekat dengan tiang listrik yang. Suara petir pun menggelegar bersahut-sahutan dan tak ayal petir pun menghantam-hantam tanah dan pohon lain di sekitar Mario.

Mario tercengang dan menganga atas kejadian tersebut membuat bulu kuduknya berdiri.

“Oh my God, belum pernah kulihat kejadian seperti ini”, gumam Mario ketakutan. “Tuhan, jangan biarkan aku dalam marabahaya! Tuhan, aku mohon dengan sangat…”, dengan penuh ketakutan ia memohon kepada Yang Maha Kuasa.

Aneh dan sangat mengherankan, Mario tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dia hanya bisa melihat dengan kasat mata. Namun di balik semua itu ada dua makhluk yang sedang bertarung, dan tak satu pun manusia biasa yang bisa melihat. Pertarungan tersebut sangat mempengaruhi cuaca dan menghasilkan aliran listrik serta menghantam sekitarnya.

“Natan…! Sekali pun kau malaikat Halilintar aku tidak takut dan menyerah! Karena bukan hanya kau sendiri yang memiliki kekuatan petir..! Ya, aku si Daro, setan petir. Kamulah yang harus tunduk kepada saya”, serunya kepada Natan dengan mata yang berwarna merah menyala-nyala dan kepalanya bertanduk dua layaknya seperti banteng.

“Tidak, aku tidak mau tunduk kepadamu, karena aku ditugaskan oleh pimpinan Malaikat untuk mencegah perbuatanmu dan sekaligus menangkapmu…”, balas Natan, sang Malaikat Halilintar pada Daro yang wajahnya sama dengan manusia biasa.

“Baiklah, kalau kamu tidak mau, akan kuberi pelajaran lagi bagimu, rasakanlah ini…” kembali Daro membalas ucapan Natan dengan disertai serangan jarak jauh.


Sinar api halilintar keluar dari tangannya dan menggulung-gulung mengarah kepada Natan. Namun Natan tidak bergerak sedikit pun. Dia membiarkan sinar tersebut mengarah kepadanya.

“Wess…, zerrr…! Busssshhh…!”

Sinar tersbut menghantam Natan, dan tidak terjadi apa-apa pada tubuh Natan. Hal ini membuat Daro, Setan Petir spontan terkejut. Masalahnya, pada awal pertarungan Natan hanya mengelak dan menghindar dari sinar api halilintar Daro, akan tetapi kali ini berbeda.

“Kenapa, kamu terkejut ya…”, kata Natan dengan seyum.

“Bagaimana mungkin kamu tahan dengan benturan sinar api halilintar saya…”, Daro penasaran.

“O…itu, aku kan Malaikat yang dipercayakan untuk mengendalikan halilintar. Tidak seperti kamu. Kamu menjadi Setan Petir itu karena keinginan hati kamu yang ingin menguasai dunia dan mengganggu hidup manusia”, jelasnya kepada Daro.

Mario terkejut setengah mati. Dia penasaran melihat sinar halilintar tersebut yang menghantam apa saja yang ada di sekitarnya.

“Busyeet…! Dari mana datangnya halilintar tadi? Koq bukan dari langit”, Mario semakin heran dan penasaran.

Daro mulai mundur perlahan-lahan dan mencoba untuk megeluarkan sinar api halilintarnya. Hal itu diketahui Natan.

“Mau coba lagi…? Silahkan!”

“Wess…, zerrr…! Busssshhh…!”


Sama seperti sebelumnya, Natan tidak merasakan apa-apa setelah bertubrukan dengan sinar tersebut.

“Ukh…! Sial”, kecewa atas kegagalannya “Eh.., ada manusia di sana”, Daro melihat Mario yang berada di bawah pohon rindang yang sedang ketakutan.

Daro pun mengangkat tangannya dan siap mengeluarkan seberkas sinar dari tangannya yang seolah-olah menyerang Natan, namun Daro mengarahkan tangannya ke Mario.


“Wess…, zerrr…! Busssshhh…!”

“Akhh….”, Mario tak dapat mengelak karena tidak tahu dari mana datangnya sinar tersebut.

Tiang listrik yang berada dekat pohon tersebut ikut tumbang akibat percikan dan getaran sinar tersebut. Kabel-kabel pun berputusan dan terpental mengarah Mario.

“Aaaakhhh……,” Mario menjerit keras karena kesakitan akibat hantaman sinar dari Daro dan juga kabel-kabel yang menghantamnya, Mario sekarat dan terkapar ke tanah.

Melihat kejadian itu, dengan segera Natan mengangkat tangannya dan mengeluarkan seberkas sinar biru ke arah Mario. Sinar itu dikerahkan untuk menetralisir tubrukan sinar api halilintar Daro pada tubuh Mario yang mengandung aliran listrik yang bisa membunuh Mario.

“Serrr…..! Beshhh…!”


Sinar tersebut menyelimuti tubuh Mario yang sudah terkapar di atas tanah dan menyelimuti seluruh tubuh Mario.

Di saat Natan sedang menetralisir Mario, Daro si Setan Petir langsung kabur ke langit. Ternyata tindakan Daro hanya sebagai umpan saja agar bisa kabur dari Natan.

Setelah selesai menetralisir, Natan langsung mengejar Daro ke langit.