Showing posts with label Bab V. Show all posts
Showing posts with label Bab V. Show all posts

Thursday, February 6, 2014

Lahirnya The Cime Buster BAB 15

BAB 15

“Hehehe, kaget ya…”, dengan tertawa sinis Jarot mengejek.

“Apa maumu…”, bentak Komandan KOPASUS.

“Lepaskan para sandera…”, teriak komandan PIN lewat HT.

Kolonel Yanto tak mau kalah, langsung ditariknya HT dari tangan komandan KOPASUS TNI-AD.

“Apa-apan ini…”, teriaknya dengan kesal.

“Hei kamu, menyerahlah. Lepaskan para sandera…”, teriak Yanto ke HT dengan penuh kemarahan.

“Sabar, sabar. Satu-satu dong ngomongnya…”, jawab jarot dengan santai. “Perhatikan baik-baik ke jendela hotel lantai 10, ya. Hehehe…”. Sambunganya dengan santai sambil berjalan menuju jendela dengan menarik lengan kanan sandera sambil menodongkan pistol 45 Mm ke kepalanya.

Tanpa diperintah, Rogan dan Janus membuka jendela yang berkaca. Komandan KOPASUS segera melihat ke jendela hotel di lantai 10.

“Sial…! Semua anggota Tim Jangan ada yang menembak…”, perintahnya kepada semua pasukan pengaman lokasi. “Dia mengancam kita dengan menodongkan pistol ke sandera, yang penting tetap pada posisi”, sambung komandan KOPASUS.

Akhirnya walikota meminta HT dari komandan KOPASUS tersebut dan komandan tersebut memberikan HT-nya.

“Saudaraku, saya walikota Tarutung akan mengabulkan apa yang saudara inginkan asalkan anda lepaskan para sandera”, melalui HT pak walikota memohon dengan sangat kepada Jarot.

Komandan KOPASUS, PIN dan Yanto kaget mendengar permohonan sang walikota. Aksi itu direkam para juru kamera TV, namun dilarang para anggota PIN.

“Oh ya…”, jawab Jarot tersenyum sinis.

“Iya…”, sambung walikota.

“Hmmm, apa bapak bisa mengabulkan permintaanku. Kalau tidak akan kubunuh satu-satu per satu para sandera yang di hotel ini”, ancaman Jarot, sementara sandera yang di sampingnya gemetaran.

“Kumohon, pak. Lepaskan aku. Istri dan anak-anakku masih membutuhkanku…”, pinta sandera dengan memelas.

“Plak..!!!”

“Akhh…!”

“Diam kau…”, bentak Rogan setelah menendang kaki sandera.

Sandera diam seribu bahasa dengan menahan sakit di kakinya, sementara Jarot memandang walikota dari hotel.

“Apa yang kau mau, katakanlah..”, tanya walikota dengan memelas.

“Apa kamu bisa menyediakan uang sebanyak 100 miliyar rupiah…”, jawab Jarot kurang yakin terhadap pernyataan walikota.

“100 miliyar rupiah…!!!”

Walikota dan yang lainnya kaget mendengar permintaan Jarot, dan walikota membalas permintaannya :“Itu terlalu banyak. Apa tidak bisa dikurangi?”

“Dikurangi??? Enak saja. Emang ini jualan ya? Pake menawar segala…”, balas Jarot menolak dengan keras.

“Tolonglah…”, walikota kembali memelas.

“Baiklah, akan kuberi pelajaran pertama untuk kalian semua…”, tanpa basa-basi Jarot menjatuhkan sandera dari jendela hotel lantai 10.


“Eh…, jangan…”, walikota berteriak melihat Jarot menjatuhkan sandera, namun apa hendak dikata, sandera sudah keburu dijatuhkan.

Sandera hanya bisa berteriak keras dan berdoa kepada Tuhan supaya dia mendapat keajaiban.

Pak walikota beserta yang lainnya hanya bisa pasrah dan berharap terjadi suatu keajaiban.

“Whuuussss…..”, tiba-tiba dari langit E-Man melesat begitu cepat menyelamatkan sandera dan membawanya ke darat tepat di lokasi bapak walikota berdiri.

“Anda tidak apa-apa…”, tanya E-Man kepada sandera setalah mendarat.

“Eeee, iiiya….”, sandera menjawab dengan seolah-olah dia baru saja mendapat keajaiban dari langit.

Sekita suasana berubah menjadi bahagia melihat seorang penyelamat berhasil menolong sandera. Yanto, walikota, dan yang lainnya mendekat ke arah E-Man.

“Terima kasih, anda telah menyalahkan sandera”, ucap walikota sambil menyalam E-Man.

“Sama-sama, pak…”, balasnya dengan menyalam. “Maaf, aku harus ke atas…”, sambungnya, langsung terbang dan berdiri di atas udara sekitar 10 meter jaraknya dari jendela hotel lantai 10.

Christine dan Eva juga terpana melihat kejadian tersebut yang sudah dari tadi berada agak jauh di belakang lokasi kejadian, di luar batas garis polisi. Sama halnya dengan ayah Christine, keluarganya yang lain beserta pak Anto dan isrinya. Mereka benar-benar terpana melihat kehebatan E-Man.

“Boss…”, panggil Rogan dengan menyadarkan Jarot yang sedari tadi tersontak kaget dan terpana melihat E-Man menyelamatkan sandera yang dia jatuhkan barusan.


“Ukhhh…”, Jarot langsung sadar.

“Bahaya boss…! Ada superman yang akan menyerang kita…”, teriak Janus gemetaran.

“Superman…”, gumam Roselina dalam hati dengan penuh penasaran, demikian juga Ricky, teman-teman mereka, dan para sandera yang lainnya ikut penasaran. Mereka sepertinya mulai lega melihat para teroris tersebut agak gemetaran.

“Janus! Rogan! Siap-siap dalam posisi untuk menembak makhluk aneh yang satu ini…”, perintah Jarot kepada anak buah.

Janus dan rogan segera mengajak anggota komplotan yang lain menembak E-Man dan sisanya 2 orang lagi menjaga para sandera.

“E-Man…! Selamatkan para sandera…”, teriak pak Anto dengan gembira.

“E-Man…”, ujar Kolonel Yanto, sama halnya dengan walikota dan yang lainnya.

E-Man mendengar hal itu, walau jarak jauh karena dia memiliki kemampuan mendengar jarak jauh.

Akibat teriakan pak Anto, para wartawan dan anggota pers lainnya langsung mewawancarai pak Anto. Pak walikota dan yang lainnya tak mau kalah, langsung menerobos kerumunan para wartawan.

“Apa E-Man…”, tanya walikota.

“Bukan apa, tapi siapa…”, pak Anto memperbaiki pertanyaan walikota.

“E-Man, katanya Electric-Man…ee….”, jawab istri pak Anto namun terputus karena lupa arti E-Man.

“Electric-Man adalah manusia listrik…”, sambung pak Anto memperbaiki jawaban istrinya.

“Euy…! Manusia listrik…”, semua orang yang di sekitar pak Anto terheran-heran mendengar penjelasan pak Anto.

Para komplotan teroris itu sudah berada di posisi yang tepat untuk menembak E-Man. Ada dua orang teroris penembak jitu di lantai terakhir (lantai 11). Jarot, Janus, Rogan dan 5 anggota Rojan Gan’k yang lainnya berada di lantai 10 dekat jendela. Satu di antara 5 anggota Rojan Gan’k tersebut menggunakan bazooka. Walau demikian, 10 orang anggotanya menjaga lantai satu dari berbagai posisi supaya para tim pengaman tidak bisa masuk.

“Hmmm, benar-benar penjagaan ketat. Bagiku tidak…”, gumam E-Man yang ternyata sudah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Rojan Gan’k.

“Tembaak…..”, perintah Jarot dengan berteriak keras.

“Dor…dor..dor…!”

“Kaboom…!”

“Drrrrrrreeet…!”


“Whusss….whuss…!” E-Man langsung berkelit di udara menghindari tembakan bagaikan pemain akrobat saja. Dan E-Man pun segera mengeluarkan sinar listrik dari tangan kanannya untuk mengahancurkan peluru bazooka supaya tidak mengenai para warga yang sedang melihat kejadian.


“Duarrrr….!”


Peluru bazooka pun hancur, dan orang-orang yang melihat pun langsung takjub, namun tembakan tidak berhenti di situ saja.

Lahirnya The Crime Buster BAB 13

BAB 13

Pertarungan pun terjadi, namun tidak seimbang. Ricky memang hebat, sedangkan Janus selalu mendapat pukulan dan tendangan yang keras. Bahkan bantingan yang cukup hebat. Kadang Janus harus mencoba menggunakan benda-benda yang di sekitarnya untuk melawan Ricky. Namun semua itu tidak ada arti, malahan benda-benda itulah yang menghantam dirinya. Ia terpelanting jauh ke dinding akibat tendangan Ricky.

“Hhhh….”, Janus kecapean dan merasa kesakitan. “Hhh, baru kali ini kulawan orang yang tangguh…”, ia terkesima atas kehebatan Ricky.

Roy dan teman-temannya kembali lega, termasuk Roselina. Gadis pun itu datang kepadanya dengan membawa sapu tangan, lalu menghapus peluh yang membasahi wajah Ricky.

“Plok…plok…plok…”.

“Hebat sekali…”, Jarot akhirnya keluar dari pengintaiannya sambil menepuk tangan. “Sang pangeran telah berhasil melawan musuh, dan sang puteri pun datang menghibur”, kata-kata Jarot bukanlah memuji tetapi mengejek.

Para anak buah Jarot pun menolong Janus dan membantunya untuk berdiri.

Mereka kembali ketakutan, dan ketakutan mereka lebih parah dari yang sebelumnya karena mereka didatangi oleh bos mafia yang lebih seram dan kekar serta didampingi oleh beberapa anak buahnya. Roselina berharap agar Ricky bisa melawannya. Apalagi para anak buahnya yang lain sudah kembali siuman dan mengambil senjata mereka.

Sebenarnya Jarot iri melihat Ricky, tetapi keiriannya itu bukan dikarenakan oleh kehabatan Ricky. Melainkan iri melihat Ricky yang sedang didampingi oleh gadis cantik. Ia terkesima melihat kecantikan wajah dan postur Roselina.

“Apa kau ingin seperti dia…”, tantang Ricky sambil menunjukkan Janus yang sedang meringis kesakitan.

“Baik anak muda, kita boleh bermain-main sebentar…”, sambut Jarot dengan tenang. “Ups, aku hampir lupa. Hei, kalian semua…! Senjatanya tolong diturunkan…”, perintahnya kepada semua anak buahnya.

“Kita bertarung secara jantan, oke…”, tantangnya.

“Oke…”, jawab Ricky dengan santai.

Jarot melepaskan jaket dari tubuhnya dan memberikannya kepada anak buahnya. Dua pistol yang masih tersarung di kedua ketiaknya dilepaskan dan diletakkan ke lantai. Bajunya pun ikut dibuka sehingga tampaklah lekuk-lekuk tubuh yang kekar, padat dan berisi. Ricky tak mau kalah. Ia juga membuka kaos oblongnya dan memberikannya ke Roselina. Roy, Roselina, dan juga teman-temannya kagum melihat postur tubuh Ricky yang tak kalah hebat dibanding postur tubuh Jarot.

Akhirnya, pertarungan pun dimulai. Jurus pertama, keduanya masih seimbang. Tak ada yang menang dan tak ada yang kalah. Semua orang yang ada di sekitarnya merasakan berdebar-debar.

Ternyata itu adalah ide Jarot untuk mengetahui sampai di mana kehebatan Ricky. Dia membiarkan Ricky menyerangnya. Namun dipatahkan Jarot, dan Jarot pun membalasnya dengan serangan yang sedikit hebat, dan memang bisa dipatahkan Ricky. Akhirnya Jarot tahu di mana kelemahan. Tapi, Jarot sadar bahwa dia tidak boleh berlama-lama melawannya. Ia merasa khawatir para polisi akan segera menyerang hotel. Dan memang benar polisi telah berada di luar hotel dengan menyerukan agar Jarot mengeluarkan para sandera.

“Bah, hebat juga yang satu ini”, Ricky kesulitan melawan Jarot.

“Hiaat….”

Dengan mengerahkan segala tenaga Ricky mencoba menyerang dengan sebuah tinju. Namun Jarot bisa merasakan bahwa tinju Ricky sangat berbahaya meski belum mengenai dirinya.

“Trap…”

“Aduh…”

“Bugh…”

Ternyata Jarot menyambut tinju tersebut dengan menangkap tangannya. Tentu dibarengi juga dengan tenaga dalam. Kepalan Ricky dikunci lalu tubuhnya didaratkan sebuah tinju. Kemudian Ricky disiksa kembali dengan sebuah tendangan keras, mirip dengan tendangan sepak bola.

“Dugh…”

“Gedebugh…, gubrak…”

“Goolll….”

Ricky terpelanting dan mendarat di belakang meja pendaftaran chek in. Ia meringis kesakitan dan berusaha untuk berdiri. Namun ia tak sanggup. Akhirnya, ia dibantu Roselina dan Roy untuk berdiri dan keluar dari tempat tersebut.

“Oke, bawa semuanya ke lantai lima…”, perintahnya sambil memakaikan baju dan jaketnya kembali serta menyarungkan pistol ke ketiaknya.

Roy dan teman-temannya dipaksa naik melalui tangga menuju lantai lima. Termasuk Ricky yang sedang dibantu Roselina untuk berjalan.

Sebenarnya peristiwa itu tidak diketahui oleh pihak kepolisian namun akhirnya dapat diketahui setelah salah seorang anggota Polisi yang ditugaskan menjaga Diamond Tapanuli Hotel berhasil melarikan diri meski pun tubuhnya telah bersimbah darah.

Kini situasi di luar telah dipadati oleh aparat Kepolisian dilengkapi dengan persenjataan berat. Polisi khusus pun dikerahkan untuk mencari tempat yang bisa dimasuki dengan aman. Para tim dari Dinas Kebakaran pun juga ikut berpartisipasi untuk mewaspadai terjadinya kebakaran, dan juga dibantu oleh tim Satuan Polisi Pamong Praja (Sat. Pol. PP.) Wilayah Kota Tarutung. Para pers dari berbagai media pun ikut ambil bagian untuk meliput situasi tersebut, Bonapit TV pun tak mau ketinggalan.

“Kapten Posman…”, panggil sang komandan ke salah satu bawahannya. “Tolong, jaga sekeliling hotel ini dengan anak buahmu…”, perintahnya dengan sedikit berdebar.

“Siap, pak kolonel…”, segera memanggil dan memerintahkan anak buahnya.


“Oke, semuanya jaga sekeliling hotel…”, perintahnya.

Para anak buah Posman pun segera mengamankan sekitar hotel dari berbagai arah. Dan dari arah lain, sebuah mobil dinas, mobil nomor satu di wilayah Tarutung berhenti, dan keluarlah seorang pejabat dari mobilnya. Ia berjalan mendekati komandan kepolisian tersebut yang sedari tadi sibuk mengatur para pimpinan satuan dan unit yang masih di bawah komandonya.

“Kolonel Yanto…! Apa bisa kira-kira kita selesaikan situasi ini…”, tanyanya kepada komandan.

“Eh, pak walikota….”, sedikit agak terkejut. “Mudah-mudahan saja, pak…”, jawabnya sedikit gemetar.


“Saya tidak yakin anda bisa menyelesaikan situasi ini…”, sanggah walikota. “Jangan kuatir, saya sudah mengubungi Tim KOPASUS TNI-AD dan Pusat Intelejensi Indonesia…”, sambungnya.

“Eh…! Apa….”, Kolonel Yanto Terkejut.

“Kenapa…”, tanyanya.

“Tidak apa-apa, pak…”, jawabnya gelisah.

Seketika itu juga para Tim KOPASUS TNI-AD berdatangan dan mengambil posisi titik-titik tertentu di sekitar hotel tersebut dengan membawa Tank dan senjata berat. Yanto mengernyitkan keningnya melihat kedatangan mereka.

Dari udara, dengan tiga helikopter, Para pasukan tim dari Pusat Intelenjensi Indonesia (PIN) pun turut ambil bagian. Mereka mendarat di lapangan luas yang tidak jauh dari hotel.

Komandan Kopasus dan PIN langsung menemui walikota, dan mereka menyalamnya.

“Syukurlah, akhirnya kalian cepat…”, sambut walikota.

“Itu sudah tugas kami, pak…”, balas komandan kopasus.

“Ya, benar…! Tapi, saya rasa lebih baik Kolonel Yanto dan timmu istirahat saja…”, sambung komandan tim PIN.

“Sial…”, gumam Yanto kesal.

“Semua pasukan mundur…”, Yanto menghubungi pasukannya melalui HT.

Para anggota Tim Polisi khusus terkejut mendengar perintah kolonel Yanto.

“Jangan ada yang masuk atau menembak sebelum saya perintah…”, perintah komandan KOPASUS TNI-AD kepada pasukanya via HT.

Lahirnya The Crime Buster BAB 7

BAB 7

Roselina merasa senang atas kehadiran Mario duduk di sampingya, dan ia pun merebahkan kepalanya ke bahu kanan Mario yang semakin lama semakin menjadi-jadi, jantungnya berdebar-debar keras. Mario pun mencoba menenangkan dirinya dengan membelai rambut Roselina.

“Oh…Tuhan, inikah gadis yang Engkau tunjukkan padaku…”, bisiknya dalam hati, dan Roselina mulai tertidur karena belaian tangannya.

“E-hem, e-hem…”, Roy datang mendekat.

Seketika itu juga mereka berdua nyaris terkejut dan bergegas melepaskan rangkulannya masing-masing.

“Maaf, mengganggu…, apa kalian belum tidur”, tanya Roy sambil menggaruk-garuk kepala, pura-pura tidak tahu apa yang ia lihat.

“E…, sebentar lagi kami akan tidur”, jawab Mario dengan ragu.

“Emang uda jam berapa ni…”, Roselina malah bertanya.

“Jam satu non…”, jawab Roy

“Jam satu…”, keduanya serentak terkejut.

Mario kemudian mengajak Roselina untuk beristirahat, dan ketiganya pun masuk ke dalam rumah. Mario dan Roy tidur di ruang tamu yang sudah berisi dengan laki-laki yang telah pulas tidur. Sedangkan Roselina bergabung dengan wanita lainnya di kamar sebelah yang agak luas.

Suasana pun hening, tak satu pun suara manusia yang terdengar kecuali dengkur ayah Roselina, Andi dan suara-suara binatang malam.

Namun di tempat lain yang agak jauh dari kampung halaman Roselina, yang berada di pinggir Kota Tarutung terdapat sepuluh orang dari beberapa golongan usia, berjenis kelamin pria sedang mengadakan sebuah rencana besar. Semuanya rata-rata mengunakan jaket hitam.

Mereka duduk di kursi mengitari meja panjang segi empat, yang telah berisi berbagai kulit kacang, minuman alkohol, rokok dan lain sebagainya.

“Para anak buahku sekalian, maaf aku terlambat karena aku tadi ada urusan dengan pimpinan mafia dari Malaysia”, katanya yang baru saja datang dan duduk di kursi di lebaran meja segi empat tersebut.

“Kita punya rencana besok, maksudku nanti pagi”, sambungnya dengan meralat ucapannya sambil menghidupkan sigaret kreteknya.

“Omong-omong apa rencana kita nanti bos”, tanya anak buah yang paling muda.

“Kami jadi penasaran…bos”, sambung temannya.

“Kalian belum tahu ya…! Begini, Diamond Tapanuli Hotel tidak memberikan setoran kepada kita”, papar pimpinan mafia tersebut. “Hanya hotel itulah yang belum memberikan upeti kepada kita”, lanjutnya sambil menikmati sigaretnya.

“Jadi, apa yang harus kami lakukan…”, tanya anak buahnya yang lebih dekat duduknya.

“Buat kerusuhan di sana….”, kata si pimpinan dengan membayangkan Diamond Tapanuli Hotelhancur porak poranda.

“Caranya gimana, bos…”.

“Iya, apalagi hotel itu banyak dijaga polisi”, sambung yang paling muda.

“Saya sebagai Jarot pimpinan Rojan Gan’k harus bisa membuat hancur hotel itu, kalau tidak jangan anggap kalian Jarot sebagai bos dan bersiap-siaplah untuk mendapatkan hadiah yang menyakitkan dariku. Bagaimana menurut kalian…”, paparnya sambil berdiri dengan memegang sisi meja sambil memandang anak buahnya satu per satu.

Semuanya tertunduk dan terdiam. Jantung mereka berdegup keras dan tak tahan membalas pandangan bosnya, si Jarot yang penuh dengan kebengisan dan kebencian.

“Rogan…”, panggil Jarot dengan keras.

“Ya…, bos…”, anak buahnya yang paling muda bernama Rogan tersentak kaget dan semakin menunduk.

“Kamu saya tugaskan memimpin misi ini…”.

“Siap, bos. Tapi, gimana dengan polisinya”, jawabnya dengan ketakutan.

“Goblok banget..”, Jarot marah membuat yang lainnya tersentak. “‘Kan ada Letnan Parto yang akan mem-backing kalian…”, ia menunjuk salah satu anak buahnya yang duduk dekat dengannya yang juga seorang perwira polisi.

“Parto…! Bagaimana dengan kamu”, Jarot bertanya pada perwira tersebut. “Apa kamu bisa ikut ambil bagian”, sambungnya kembali dan juga kembali duduk.

“Saya bisa melakukan itu bos. Jangan khawatir, akan saya lakukan semaksimal mungkin”, jawabnya dengan mencoba menenangkan dirinya.

Parto memang satu-satunya polisi yang menjadi anggota Rojan Gan’k. Sejak kecil ia sudah yatim piatu. Entah kenapa Jarot berbaik hati membesarkannya sampai ia bisa mengikuti pendidikan perwira kepolisian. Aneh, penjahat melahirkan polisi yang akhirnya menjadi polisi yang berjiwa penjahat.

“Bagus…”, pujinya. “Sekarang kita ke mobil…”, perintahnya kepada anak buahnya.

“Baik bos…”, jawab anak buahnya serentak.

Pimpinan mafia dan anak buahnya keluar dari ruangan menuju mobil colt diesel berwarna hitam yang mirip dengan model Suzuki APV. Mereka berhenti setiba di samping kiri mobil hitam tersebut.

“Janus…, buka pintu”, perintah Jarot, lalu Janus membuka pintu. “Beritahu apa-apa saja yang akan dipakai untuk melakukan misi ini”, sambungnya kembali.

Lalu Janus mengeluarkan kotak besar dan panjang berbentuk balok dibantu oleh dua orang temannya. Kemudian ia mengambil tas rangsel dan meletakkannya di tanah.

Tampaknya Janus sangat lihai dengan alat-alat tersebut. Maklum saja, ia sudah lama berkecimpung di Kepolisian bidang perlengkapan dan peralatan keamanan, yang akhirnya mengundurkan diri karena menurutnya bawah gajinya tidak sesuai dengan keinginannya.

“Ini namanya MM 45. Cara pakenya begini…”, Janus memperagakan senjata berwarna silver agak kecil.

“Yang ini namanya AK-47, caranya begini…”, sambungnya dengan membidikkan senapan otomatis berlaras panjang ke arah lain.

“Kalau yang ini, apa…”, tanya Rogan dengan mengambil senjata yang mirip dipakai polisi biasanya.

“Ini namanya Pistol Revolver. Cara memakainya sama dengan pistol Baretta”, papar Parto dengan memberi perbandingan pada pistol yang berukuran lebih kecil lagi. Maklum saja, ia sudah paham dengan hal tersebut karena dia adalah perwira polisi yang sudah pernah mencobanya.

“Lha, yang satu ini untuk apa…”, tanya anak buah yang satu dengan logat jawa sembari menunjukkan tas rangsel tadi.

“O…, ini topeng untuk menutup kedok kita”, Janus kembali memberi penjelasan sambil menunjukkan topeng dari rangsel.

Hampir tiga jam Janus memperkenalkan peralatan yang akan dipakai. Berbagai macam senjata ditunjukkan sampai ke Bazooka dan Granade.

“Oke, pilih saja senjata yang kalian sukai dan segeralah istirahat. Kira-kira jam sembilan pagi kita berangkat…”, si komandan memberi perintah.

Tanpa diperintah dua kali, masing-masing anak buah Jarot memilih senjata yang mereka sukai dan kemudian mereka istirahat.

Mentari mulai mengintip di balik gunung, segala jenis unggas yang ada di kampung halaman Roselina menyambut kedatangannya. Aktivitas pun mulai dilakukan oleh para penduduk di seantero desa tersebut.

Semua teman-teman Roy sudah bangun dan segera bergegas. Roselina pun mengajak mereka ke telaga untuk menikmati hangatnya air telaga, sekaligus menghangatkan tubuh dari rasa dingin yang menyelimuti tubuh mereka.

Mereka berangkat ke telaga dengan membawa segala perlengkapan mandi. Roselina merasa Mario sudah ikut. Namun sebaliknya Mario masih tergolek-golek tidur di tikar yang ada dalam ruang tamu.

Mereka berjalan kaki ke telaga. Ricky berusaha mendekatinya agar bisa berdampingan berjalan. Namun hati Roselina merasa ada yang kurang. Dia tanya satu per satu di mana posisi Mario.

“Aduh, nona cantik…! Kamu nggak usah khawatir dengan Mario. Dia mungkin sedang ngopi ama mertuanya, hi…hi…hi…”, Jenny berusaha melucu untuk menghibur Roselina.

“Ah…, kamu ini…”, Roselina mencoba tenang melihat gelagat Ricky yang mulai aneh.

Lahirnya The Crime Buster BAB 6

BAB 6

Hati Pak Anto sedikit agak lega, ternyata patungnya diganti dengan uang sebesar seratus lima puluh ribu rupiah.

“Sudah…sudah, kita tidak perlu lagi membahas itu. Ternyata dia menggantinya dengan duit sebesar seratus lima puluh ribu rupiah…”, seru Pak Anto kepada orang-orang sambil menunjukkan uang.

“Dia memang sudah minta maaf, tapi dia hanya menulis E-Man atau Electric-Man alias Manusia Listrik…”, sambung Bapak kepala Desa.

“Aha…, aku baru ingat. Kemarin aku bermimpi ada orang memakai kostum patungku. Dia menyelamatkan aku. Ia memiliki kekuatan listrik dan bisa terbang”, Pak Anto menceritakan mimpinya kemarin.

“Ah…, ada-ada aja bapak ini…”, celetuk istrinya kepada Pak Anto.

“Bisa jadi, tapi apa bapak ingat wajah si E-Man dalam mimpi bapak”, tanya Bapak Kepala Desa seolah-olah ia peramal mimpi.

“Tidak, pak…! Soalnya dalam mimpiku dia sudah memakai topeng dan kostum patungku…”, jawab Pak Anto.

“Apa bapak masih mempersoalkan patung itu lagi…”, Bapak kepala Desa mencoba menggubris patung yang sudah hilang tersebut.

“Sudahlah pak, nggak usah dipikirin. Dia sudah minta maaf dan sudah menggantinya. Mana tahu mimpiku bisa kenyataan…”, katanya dengan hati senang.

“Baik…, para warga sekalian, kita bubar dan kembali ke rumah masing…”, Bapak Kepala Desa memberi perintah bubar kepada warganya.

Seketika itu juga mereka bubar dan masuk ke rumah masing-masing. Tempat itu pun kembali sunyi dan hening seperti semula.

Di tempat lain, Mario sedang mengudara di melewati awan-awan dingin menuju kampung halaman Roselina.

“Pas banget topeng ini. Bajunya apalagi…! He…he…he…”, gumamnya dengan hati senang.“Yuhhuuu….”, E-Man alias Electric-Man, si Manusia Listrik melaju kecepatan terbangnya.

Sekitar jam 00.30 WIB E-Man tiba di permukaan rumah Roselina. Sambil melayang-layang ia melihat teman-temannya di bawah sedang bernyanyi-nyanyi mengitari api unggun. Tak luput dari perhatiannya, ia melihat Roselina sedang duduk bersama Ricky sambil berpegangan tangan. Mario cemburu karena Ricky tidak hanya duduk bersama saja tapi dia menggandeng Roselina.

“Oh…sial…”, E-Man alias Mario menggerutu.

Dia memperhatikan daratan sambil mencari tempat yang aman untuk mendarat agar tidak mengejutkan mereka. Pendaratan pun berjalan dengan mulus tanpa ada yang melihat. Ia bisa menapakkan kakinya di tanah yang tidak terlalu jauh dari kawasan rumah Roselina. Lalu ia menukarkan pakaiannya dengan sekejap. Beberapa menit kemudian ia berjalan menuju pelataran rumah Roselina.

“Hai kawan-kawan semuanya…, saya datang ni”, sapa Mario kepada teman-temannya.

“Mario…”, semua orang di sekitar tempat itu terkejut termasuk Roy dan Roselina.

Roy segera mendekati Mario dan Roselina melepaskan tangan Ricky dan melangkah menuju Mario.

“Hey…, friend! Aku pikir kamu nggak datang”, sambut Roy dengan menyalaminya dan menepuk-nepuk punggung Mario.

“Thanks God, ternyata Mario datang juga…”, Roselina juga menyambutnya dengan menyalaminya dan menggaet tangannya sehingga Ricky menjadi geram dan cemburu.


“Dari mana aja kamu…, sampe-sampe Roy resah…”, tanya Andi.

“Roselina juga memikirkanmu lho…”, sambung Ani memancing Roselina.

“Plok…plok…plok…”, semua serentak bertepuk tangan dengan riuh..

“Ah…, kamu ini…”, wajah Roselina berwarna merah jambu.

Dari dalam rumah Ayah dan Ibu Roselina keluar, seketika itu juga Roselina memperkenalkan Mario kepada kedua orang tuanya.

“Mario, kenalkan! Ini orang tuaku”.

“Oh…saya Mario, pak…bu…”, Mario pun menyalami kedua orang tua Roselina.

“Lha…, kamu koq belakangan datangnya, nak Mario”, tanya Ayah Roselina.

“Ada kerjaan, ya…”, sambung Ibu Roselina bertanya.

“Iya…bu. Jadi merepotkan teman-teman”, jawab Mario malu-malu karena temannya di belakang membisikkan bahwa orang tua Roselina sebagai calon mertuanya.

“Oh, anak-anak sekalian…kami duluan tidur ya…”, Ayah Roselina mohon pamit untuk istirahat.

“Iya, soalnya nggak enak rasanya kalau nggak permisi dulu untuk tidur…”, sambung Ibu Roselina. “Maklumlah, udah tua”.

“Nggak apa-apa, bu…pa…! ‘Kan, kami masih muda nih”, pungkas Boby.

“Nanti kalau kami sudah letih kami akan beristrihat…”, sambung Roy.

“Jangan khawatir ma…, kami bisa koq menjaga suasana”, kata Roselina sembari mendekati Ibunya dan merangkul tangan kanannya.

“Baiklah…, kami tidur dulu ya…”, Pinta Ayah Roselina kembali.

“Ya…pak…”, teman-teman Roselina serentak menjawab.

Kedua orang tua Roselina akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu depan rumah, dan semua teman-teman Roselina kembali mengitari api unggun, kecuali Mario, Roselina dan Ricky.

Kemudian Ricky mendekati Roselina, akan tetapi Roselina lebih dulu menggandeng Mario dan mengajaknya ke pinggir kolam ikan yang berada tidak jauh dari api unggun. Kelihatannya Roselina tidak peduli dengan Ricky. Ricky pun kesal, cemburu, lalu pergi menuju api unggun.

Kedua pasangan itu pun duduk di bangku panjang di tepi kolam ikan sambil bercerita-cerita dengan santainya.

“Ros…, tumben kamu ngajak aku berduaan. Ada apa”, bisiknya pada Roselina dengan hati yang tak karuan.

“Emang kenapa? Ngakk bisa…”, hati Roselina tergugah dengan pertanyaan Mario dan melepaskan rangkulan tangannya dari lengan kanan Mario.

“Bukan nggak bisa, tapi nggak biasanya kamu seperti ini…”, jelas Mario mencoba untuk melegakan hatinya. “Malah aku berterima kasih kepadamu karena kamu telah mengajak aku ke sini…”.


“Ah…, kamu ini…! Kirain nggak mau, tau-taunya mau…”, Hatinya Roselina pun kembali dan tersenyum sambil mencubit tangan kanan Mario.

“Aduh…, sakit…”.

“Masa segitu aja dibilang sakit, padahal pengen”.

“Tau aja…., hehehe…”, Mario merasa bahagia.

Ternyata adegan ini yang kelihatan mesra, dan terlihat oleh Ricky dari api unggun Hal membuat hatinya semakin panas dan benci kepada Mario.

“Mario, kurang ajar kau…”, gumam Ricky dalam hati dengan kesal bercampur kecewa. Ia mulai merencanakan sesuatu agar bisa mendapatkan Roselina.

Tak terasa waktu pun menunjukkan pukul 01.13 WIB, sementara teman-teman Roselina bergegas untuk istirahat, sedangkan Mario dan Roselina masih bercerita tentang masa lalu mereka ketika mereka masih duduk di bangku SD.

Lahirnya The Crime Buster BAB 5

 BAB 5

“Aku…, aku…sulit untuk melupakan kebaikanmu padaku…”, jawabnya agak terpatah-terpatah.“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membalas kebaikanmu…”, sambungnya dengan mata berair, Christine merasa berutang budi terhadap Mario.


“Ah…, aku menolongmu bukan karena dilatarbelakangi oleh pamrih. Tapi aku menolongmu karena memang patut untuk ditolong…”, sambung Mario merasa tidak ingin penghargaan yang berlebihan.


Tanpa diduga Mario, Christine mendekat dan memeluk Mario dan menyandarkan kepalanya ke dada Mario dengan mata berair.


Jantung Mario berdebar-debar merasakan dekapan Christine. Apalagi Mario merasa baru pertama kali ia dipeluk gadis secantik Christine. Mario tidak mau kalah, ia malah menyambut pelukannya dengan membelai rambut Christine yang panjang dan anggun. Lalu kedua tangan Mario memegang kepala Christine dan mengusap air mata Christine.


“Adik Chris…, kamu tidak perlu berlebihan seperti ini. Kamu tidak perlu khawatir bagaimana cara kamu membalas perbuatanmu. Kamu bilang terima kasih aja aku sudah senang. Kalau kamu tidak dapat membalas, ‘kan ada Tuhan yang membalas…”, Mario menghibur Christine sembari memandang wajah Christine dengan seyuman.


“Terima kasih…, bang”, Balasnya kepada Mario dan dia mencoba untuk menjinjit kakinya serta mencium bibir Mario.


Mario kelabakan atas perbuatan Christine, tapi ia malah membiarkannya dan anehnya malah disambut baik oleh Mario. Kegiatan tersebut agak berlangsung lama.


Mario melepaskan ciuman Christine dan memegang pundaknya dan berkata : “Pulanglah, ayahmu sudah lama menunggu di mobil!”


“Iya…bang, aku akan mengenangmu selama hidupku…”, jawabnya dengan lembut dan mulai melangkahkan kakinya menuju kijang.


Christine pun menjauh dari Mario, kini dia sudah di dalam Mobil yang beberapa menit kemudian melaju menelusuri jalan utama. Christine pun menghayal.



“Mario…, sejak dari awal aku sudah tertarik dan jatuh cinta padamu…tapi…”, Ujarnya dalam hati, sebenarnya dia ingin menyatakan isi hatinya tapi dia tidak bisa melakukannya karena dia masih terikat dengan Kekasihnya yang bernama Rogan.


Jam Mario menunjukkan 11.20 WIB, namun masih berjalan menelusuri jalan raya sambil melihat-lihat toko yang masih buka. Tempat itu sunyi tak satu pun toko yang buka.


“Bah, tak ada satu pun yang buka”, ucapnya dalam hati sambil melihat-lihat kembali. “Hei…, apa itu…”, langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah rumah dengan di atasnya terpasang sebuah patung kayu mengenakan pakaian karet.


Ia melihat tulisan di bawah patung tersebut. Tulisan itu terpampang pada sebuah papan yang berisi : E–MAN (ELECTRIC–MAN); dan di bawahnya lagi pada sebuah papan pamplet tertulis : AHLI/TUKANG INSTALASI LISTRIK. Akhirnya Mario mengerti bahwa Electric-Man itu bukan Manusia Listrik, tapi Ahli/Tukang Instalasi Listrik yang seharusnya ditulis Expert of Electric Instalation. Mario berpikir mungkin itu dibuat supaya keren dilihat dan dibaca orang meski sebenarnya bukan itu yang maksudnya.


“Hehehe, ada-ada aja orang sekarang ya….”, tertawa setelah membaca tulisan tersebut.


Tanpa pikir panjang, Mario melihat sekelilingnya apa kira-kira ada orang. Setelah merasa aman dia langsung melompat ke atap lalu mendekati patung tersebut. Ia tarik patung tersebut dengan hati-hati agar tidak merusak papan pamplet sekaligus tidak mengganggu tidur orang yang punya rumah dan juga orang di sekitarnya. Patung pun dapat ditarik dan dipegang lalu mendarat ke halaman rumah. Kemudian ia meletakan patung itu sementara, lalu ia mengambil pulpen dan secarik kertas dari tasnya.


Ia menulis surat dengan isi :


Sipoholon, …. Juni 2007


Kepada Yth. :


Pimpinan Usaha E-Man


(Ahli/Tukang Instalasi Listrik)


Di Tempat.


Salam sejahtera,


Mohon maaf kepada Bapak, karena saya telah mengambil patung Bapak tanpa permisi atau izin dari Bapak. Saya sangat menginginkan kostum patung itu demi misi menumpas kejahatan. Saya tidak tahu berapa harganya, tapi meski demikian saya akan ganti dengan materi yang bisa saya berikan. Mohon maaf kepada Bapak jika materi itu tidak sesuai dengan harganya.


Kiranya Bapak dapat memaklumi saya, sebelum dan sesudahnya saya mengucapkan terima kasih.


Tertanda,


E–MAN


Electric–Man


(Manusia Listrik)


Mario selesai menulis, kemudian ia merogoh kantongnya untuk mengambil uang seberas seratus lima puluh ribu rupiah dan menyelipkannya dalam lipatan surat tersebut. Lalu Mario memasukkan surat itu ke bawah pintu depan rumah tersebut.


Setelah Mario memasukkan surat, ia bergegas mengambil pantung dan siap untuk terbang. Sebelum ia mengudara ia kepergok beberapa orang dan berteriak.



“Maling…! Maling…”, teriak salah seorang dengan berlari mendekati Mario.


“Maling…! Tangkap…”.


Melihat situasi tidak aman Mario langsung terbang ke langit dan terus lurus ke langit agar orang tersebut tidak bisa menangkapnya. Akibat dari teriakan tersebut seketika orang-orang terbangun dan ke luar dari rumah menuju jalan sampai orang berhamburan.


“Mana malingnya…”, tanya pak tua.


“Udah pada kabur…”, jawab saksi.


“Ke mana kabur…”, sambung Bapak Kepala Desa yang baru saja ke luar dari rumah.


“Ke langit…”, jawab saksi berikutnya sambil menunjuk ke langit.


“Ke langit…”, semua orang serentak terkejut.


“Maksud anda, dia terbang…”, tanya Bapak Kepala Desa semakin penasaran.


“Jangan ngaco…”, seru seseorang dari belakang karena tidak yakin dengan penjelasan mereka.


“Maling apaan bisa terbang…”, sambung warga yang lain.


“Sumpah, pak…! Kami ada lima orang melihatnya”, saksi berusaha meyakinkan Bapak Kepala Desa.


“Iya pak, dia bawa patung dari atap rumah pak Anto”, sambung saksi lain meyakinkan dengan menunjuk rumah pak Anto.


“Patung…”, seorang bapak-bapak yang tidak terlalu tua terperanjat mendengar penjelasan saksi tersebut. Dia langsung ke halaman rumahnya.


“Ha…, patungku diambil…”, spontan terkejut setelah melihat patungnya tidak ada di situ.


Akhirnya semua orang percaya : “Tapi maling yang koq bisa terbang…”, tanya Pak Anto keheranan.


“Kalian masih ingat dengan wajahnya…”, tanya Bapak Kepala Desa kepada saksi-saksi tersebut.


“Kami tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena suasana lokasi ini sangat gelap…”, jawab si saksi dengan penjelasannya.


“Hmm…, pak Anto! Ngomong-ngomong berapa harga patungmu itu ditempah…”, Bapak Kepala Desa bertanya kepada Pak Anto.


“Sembilan puluh ribu rupiah pak, itu pun diskon…”, jawab Pak Anto dengan sedih.



“Pak…! Pak…, ada surat saya temukan di pintu rumah kita…”, istrinya berseru sambil menunjukkan sebuah surat dan memberikannya kepada Pak Anto.


Pak Anto membuka surat tanpa amplop itu dan dibacanya dengan keras. Bapak Kepala Desa pun mencoba mendekatinya untuk melihat surat itu.


“E-Man…? Dia meniru nama usaha Bapak…”, seru saksi.


“Misi Menumpas Kejahatan…? Wow…! Jangan-jangan itu hanya akal-akalan aja…”, sambung yang lain dengan berteriak.