Thursday, February 6, 2014

Lahirnya The Crime Buster BAB 9

BAB 9

Suara keras dari Ricky membuat para rombongan tergugah dan segera berlari ke tempatnya.

“Ricky…Mario…, ada apa ini…? Kalian bertengkar ya…”, tanya Roy dengan keras.

“Aku sendiri juga heran…, tiba-tiba Ricky menyerangku…”, jawab Mario merasa memang tidak tahu kenapa Ricky menyerangnya.

“Hei…kalian semua…! Ini urusanku dengan dia, jadi jangan ikut campur…”, dengan keras ia meminta mereka untuk tidak ikut campur.

“Ricky…! Apa-apaan ini…! Kamu kenapa…”, hati Roselina berubah jadi panas melihat sifat Ricky yang semakin menjadi-jadi.

“Frend…, sebenarnya aku tidak suka berkelahi, tapi kalau kamu memaksa aku ladeni dengan baik…”¸ ujarnya pada Ricky.

“Aku cinta atau tidak sama Rose…sama sekali aku tidak menyatakannya. Tapi kamu terlalu cepat berprasangka buruk bahwa hubungan kami sudah dekat…”, Mario menjelaskan kembali dengan perasaan gundah.

“O…jadi kamu cemburu ya karena kami berduaan…”, Roselina sadar akan apa yang disembunyikan Ricky.

“Eh…, maaf. Memang aku cemburu…tapi Mario telah menghalang-halangi niatku”, jawab Ricky dengan mengkambinghitamkan Mario.

“Hei…! Sejak kapan aku menghalang-halangi kamu”, Hati Mario menjadi mendidih 100 derajat celcius panasnya. “Kau ingin kuberi pelajaran, ya…”, Mario telah mengepalkan tangannya untuk mendaratkan pukulannya ke wajah Ricky.

Ricky sudah tahu apa yang akan direncanakan Mario sebab Ricky sudah paham betul dengan serangan diam-diam. Maklum saja dia itu atlit bela diri Kempo.

“Silahkan aja menyerang…”, Ricky memanas-manasi Mario.

“Tahan…pukulanku…”, Mario menyerang secapat kilat.

“Wushhh..! Bugh…! Degh…! Sregh…”

“Aaaakh…”.

Tak pelak lagi pukulan tangan kanan Mario mendarat di pipi Ricky, dan tendangannya mengenai perutnya. Ricky memang tahu apa yang akan menyerang dirinya, tetapi dia tidak bisa dengan cepat menahan serangan secepat kilat itu, sehingga dirinya terpaksa terlontar jauh dan mengena ke sebuah pohon. Ricky meringis kesakitan.

Setelah melihat kejadian itu semua rombongan terkejut, termasuk Roselina. Roy bertanya-tanya dalam hati : “Sejak kapan Mario jago dalam beladiri…?”.

Roselina memang terkejut tetapi bukan takjub, sebab hatinya terkonsentrasi pada sifat Mario yang tiba-tiba menyerang Ricky.

“Mario….”, serunya penuh dengan amarah.

“Ya…”, jawab Mario mendekat.

“Plak…”.

“Bah…”, Roy dan kawan-kawan terperanjat melihat kejadian itu.

Roselina menampar pipinya meski merasa berat dilakukan, tetapi itu dilakukan karena perubahan sifat Mario. Sebenarnya Mario bisa melihat gerakan tangan Roselina, tetapi ia membiarkan tangan Roselina mendarat di pipinya.


“Aku pikir kamu tetap baik seperti dulu, tetapi kamu jauh beda dengan yang kukenal dulu…”, Roselina berkata-kata dengan nada marah sambil memandang Mario dengan mata menyipit dan sinis, tetapi matanya berkaca-kaca.

Roselina segera menjauh darinya dan berjalan ke arah Ricky yang masih terkapar di atas tanah. Dia mencoba membantu Ricky untuk berdiri.

“Uh…, kenapa jadi begini”, Mario bertanya dalam hati, sadar apa yang telah dilakukannya.

Dengan penuh penyesalan, Mario mendekat ke arah Roselina dan Ricky.

“Rose…, Rick…! Maafkan aku…”, ucapnya merasa bersalah.

Roselina dan Ricky mendengar permohonan maaf Mario namun tak sempat membalas ucapannya karena Mario langsung pergi jauh.

“Eh…, Mario…! Tunggu dulu…”, Rio mengejar Mario tetapi terhenti karena Mario sudah jauh dari pandangannya.

Memang tidak diduga dan tanpa terlihat, setelah jauh berjalan, Mario langsung lari secepat kilat dan tiba di rumah Roselina. Ia segera masuk ke dalam rumah, membenahi segala perlengkapannya.

Dia pun menemui orang tua Roselina di beranda belakang rumah yang sedang duduk-duduk santai.

“Bu…, pak…! Saya permisi dulu…”, Mario mohon pamit.

“Lho, mau ke mana kau, nak…”, tanya ayah Roselina penasaran.

“Tiba-tiba saya ada kerjaan pak, baru aja dihubungi”, dia berbohong.

“Apa kamu sudah permisi kepada teman-temanmu…”, tanya ayah Roselina kembali.

“Nggak sempat pak, nanti saya hubungi mereka…”, jawab Mario dengan tenang.

“Okelah kalau begitu, hati-hati ya…”, balas Ibu Roselina.

“Salam sama rekan-rekan sekerja dan pimpinanmu di sana, ya…”, sambung ayah Roselina.

“Oke, pak…bu…! Terima kasih atas penyambutan bapak dan ibu. Selamat tinggal, bu…pak….”, kembali berkata-kata pamit.

“Ya…, nak! Selamat jalan…”, balas ayah dan Ibu Roselina serentak.

Setelah mohon pamit ia ke luar dari rumah melalui pintu depan dan segera mencari tempat yang tidak dapat dilihat orang lain kecuali dia. Beberapa detik kemudian dia sudah berubah menjadi E-Man dan terbang secepatnya seolah-olah diburu waktu.

“Akh…..”, E-Man beteriak sekeras-keras dengan hati panas dan kesal.

“Duar….duar….!!!”


Teriakan E-Man menghasilkan suara petir yang membahana dan menggelegar membuat orang-orang di bumi terkejut setengah mati.

“Bos….! Perasaanku tidak enak hari ini…, gimana kalau kita gagalkan saja rencana ini”, kata Janus kepada Jarot dengan merinding.

“Ha…, kamu takut ya…”, bentak Jarot.

Suara itu pun juga kedengaran sewaktu Roy dan teman-temannya sedang kembali ke rumah.


“Perasaanku ga’ enak hari ini…”, tukas Roselina kepada Ricky.

“Ah…, itu perasaanmu saja…”, jawab Ricky berusaha menghibur Roselina yang sedang memperhatikan angkasa biru.

Tidak hanya Roselina, semua rombongan juga melihat ke atas dengan penuh keheranan. Roy sendiri keheranan dan bergumam.

“Wah…, suara aneh…! Apa yang akan terjadi nanti…”.

Seantero bumi Tapanuli Utara juga lengang, dan sempat berhenti beraktivitas setelah mendengar suara gelegar tersebut karena jauh berbeda dari suara halilintar yang biasa didengar oleh manusia.

Lahirnya The Crime Buster BAB 8

BAB  8 

Di rumah Roselina, Mario dibangunkan oleh Ibu Roselina.

“Nak…, bangun…! Kamu nggak ikut sama mereka ke telaga…”, Ibu Roselina menepuk-menepuk Mario agar bangun.

“Aduh…! Maaf, bu…! Jadi merepotkan…”, Mario terbangun dan mengucek-ngucek matanya merasa masih ngantuk.

“Nggak apa-apa koq, nak…”, kata Ibu Roselina.

“Eh…, mana mereka bu…”, Mario tekejut melihat situasi tidak ada orang kecuali Orang tua Roselina.

“Mereka lagi ke telaga..! Sruuup…! Ah….”, jawab Ayah Roselina sambil minum kopi.

“Aduh…, aku koq ditinggalin…”, gumamnya kesal. “Maaf…, bu! Aku ke sana dulu ya…”, Ia langsung membuka tas rangselnya lalu mengambil perlengkapan.

“Permisi, bu…pak….”, Mario mohon pamit.

“Ya…”, balas mereka serentak.

Ia segara keluar dari rumah dan menuju semak-semak sambil melihat-lihat sekitarnya. Lalu ia melambung tinggi. Kali ini ia terbang tanpa kostum. Selama terbang ia berusah terbang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah agar tidak dilihat orang-orang.

Dari kejauhan Mario melihat rombongan Roy masih berjalan menuju telaga.

“Wah…, mereka belum sampe…”, ujarnya dalam hati. “Aku lebih dulu, ah…”.

Mario melejit menuju telaga mendahului mereka dan mencoba memperhatikan dari atas apakah ada orang yang mandi. Ternyata tempat itu belum didatangi masyarakat. Ia segera mendarat dan menikmati hangatnya telaga tersebut.

“Masih mencari Mario…”, Ricky mencoba membuka pembicaraan.

“Mmm…, aku rasa di nggak ke mana-mana…”, jawabnya santai.

Di saat berjalan Roselina tidak sengaja memijak batu yang tidak begitu besar. Dia tersandung dan terjatu ke selokan kecil dan tidak terlalu tinggi.

“Aduh…, sakiit”, Roselina meringis kesakitan.

Semua terkejut, Roy ingin mencoba menolong namun terhenti karena di atas kepala Roselina ada ular sawah yang sedang bersiap-siap untuk menggigit Roselina.

“Ros…, harap kamu tenang…! Ada ular di atas kepalamu…”, Boby berusaha menenangkannya agar ular itu tidak menerkamnya.

Mengetahui hal itu Roselina ketakuatan, dan bingung apa yang harus dilakukan.

“Ini kesempatan bagiku….”, Ricky tersenyum. “Jangan khawatir Roselina…! Aku akan menyelamatkanmu…”.

“Eh, apa kamu bisa melakukannya seperti pawang…”, tanya Jenny.

Dia tidak perduli dengan pertanyaan Jenny, ia segara turun ke selokan kecil itu lalu berbicara dengan ular itu.

“Halo…ular manis…! Sssssss….! Sini…, ayo datang ke sini…”, Ia mencoba mengalihkan perhatian sambil mendesis persis seperti ular.

“Hei..! Apa yang kau lakukan? Bunuh diri, ya…”, teriak Roy.

Alhasil ular pun mendekat ke arah Ricky. Mereka terkejut melihat ular tersebut sebab ular itu bukan malah menerkamnya. Sebaliknya ular itu tertunduk di saat Ricky menyentuh kepalanya.

Sebenarnya Ricky masih ketakutan mencoba ilmu yang dipelajarinya dari ayahnya yang adalah seorang pawang ular. Apa salahnya ia mencoba meski masih pemula. Karena merasa masih memiliki ketakutan maka ia memegang kepala dan ekornya. Lalu ia meletakkannya jauh dari jalan setapak.

Ricky kembali datang mendekati Roselina dan membantunya untuk berdiri. Roy dan yang lainnya masih keheranan.

“Terima kasih, Rick…”, pujinya kepada Ricky.

“Ah…, itu belum seberapa…”, balasnya dengan merasa sedikit tenang apalagi tangannya merangkul bahu Roselina.

“Wah…, kamu hebat, Rick…”, Roy jadi penasaran.

“Ah…, sejujurnya aku ketakukan juga lho…, cuma karena teman kita dalam bahaya, ya…spontan aku beranikan diri untuk menolong sekali pun membahayakan diriku…”, paparnya dengan tidak memberitahukan ilmu yang dipelajarinya.

“Iya, ya…”, Roy pun paham. “Oke…, kita ke telaga lagi…”. Pintanya kepada teman-teman.

Mereka pun kembali berjalan menuju telaga.

“Hmmm…., hebat juga dia ya…! Punya keberanian…”, gumamnya terkagum-kagum. “Gimana dengan Mario, ya? Apakah dia punya keberanian”, tertegun sejenak sambil berjalan.

Sebenarnya sudah ada benih cinta dalam Roselina terhadap Mario, tapi dia belum bisa mengungkapnya. Dia ingin mengetahui apa kelebihan Mario. Dia memang sudah mengetahui sifat Mario tetapi dia masih sulit mencari apakah Mario bisa melindunginya.

“Kamu kenapa…”, Ricky bertanya karena melihatnya melamun.

“Nggak kenapa-kenapa…, cuma aku merasa sukacita setelah kamu menolong aku…”, mencoba untuk menyembunyikan hayalannya.

“Eh…, terima kasih…”, Ricky jadi grogi mendengar pujian Roselina.

Akhirnya mereka sampai ke tujuan. Mereka semua terkejut, ternyata Mario sudah lebih dulu mendatangi telaga. Malah dilihatnya Mario sudah berenang-renang di tengah telaga.

“Busyeet…., kapan kau di sini, bro….”, tanya Roy sambil meletakkan perlengkapan mandinya.

Yang lain juga meletakkan perlengkapannya lalu memakai basahan apa adanya, lalu masuk dalam telaga.

“Dua puluh menit yang lalu….”, jawab Mario dengan berteriak sembari menyelam.

“Mario…”, panggil Roselina sambil berusaha berjalan sendiri tanpa bantuan Ricky

“Ya…, ada apa”, balas Mario sambil merapat ke tepi telaga, lalu ia duduk.

“Koq kamu bisa duluan ke sini…”, tanya Roselina sambil membuka bajunya, yang di dalamnya sudah ditutupi basahan.

“Apa kamu terbang…”, tanyanya kembali sembari masuk ke dalam telaga.

“Mungkin….”, jawab Mario apa adanya karena merasa cemburu melihat Ricky berjalan bersamanya.

“Jangan ngawur kamu…”, celetuk Roselina sambil menikmati kehangatan telaga.

“Wow…! Lumayan juga bodynya…”, Mario kagum melihat postur tubuh Roselina yang berbentuk akibat air yang membasahi basahannya.

Tak terkecuali Ricky, dia juga kagum melihat body Roselina.

“Hoii…, kamu ngapain sih memandangi aku terus…”, Roselina jadi merasa tidak enak dipandang-pandangi. Dia menutupi badannya dengan masuk lebih dalam lagi ke tengah telaga.

“Ups…! Apa yang kulakukan…”, gumam Mario merasa bersalah. Ia langsung menjauh dari lokasi telaga.

“Mario…, kamu mau kemana”, Roselina memanggil merasa dirinya telah membuat hati Mario tersinggung.

Memang Mario terseinggung, tapi dia menjauh karena memang merasa bersalah.

“Saatnya membalas sakit hatiku”, bisik hati Ricky.

Ricky ke luar dari telaga, lalu memakai kaos oblongnya. Ia mendekatinya Mario yang masih berada di depan yang semakin lama semakin jauh melangkah. Tanpa pemberitahuan Ricky berlari ke arah Mario dengan menyiapkan tinjunya.

Mario tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, akan tetapi pendengaran Mario alias E-Man sangat tajam sehingga ia bisa mengelak dengan cepat sekali.

“Hiaat…”, tangan kanan Ricky hampir mendarat dengan keras. “Grusak…grusak…”, Namun sebaliknya, Ricky malah meninju angin dan terjerembap ke semak-semak.

“Ukh…, sial…”, Ricky kesal dan meringis kesakitan.

“Kamu, kenapa…”, tanya Mario pura-pura tidak tahu.

Ricky berdiri dan mendekat ke arah Mario sembari berkata dan menuding Mario dengan jari telunjuknya :“Hei Mario…! Jangan sekali-sekali kamu dekati Roselina karena kamu tidak berhak jadi kekasihnya…!”

Lahirnya The Crime Buster BAB 7

BAB 7

Roselina merasa senang atas kehadiran Mario duduk di sampingya, dan ia pun merebahkan kepalanya ke bahu kanan Mario yang semakin lama semakin menjadi-jadi, jantungnya berdebar-debar keras. Mario pun mencoba menenangkan dirinya dengan membelai rambut Roselina.

“Oh…Tuhan, inikah gadis yang Engkau tunjukkan padaku…”, bisiknya dalam hati, dan Roselina mulai tertidur karena belaian tangannya.

“E-hem, e-hem…”, Roy datang mendekat.

Seketika itu juga mereka berdua nyaris terkejut dan bergegas melepaskan rangkulannya masing-masing.

“Maaf, mengganggu…, apa kalian belum tidur”, tanya Roy sambil menggaruk-garuk kepala, pura-pura tidak tahu apa yang ia lihat.

“E…, sebentar lagi kami akan tidur”, jawab Mario dengan ragu.

“Emang uda jam berapa ni…”, Roselina malah bertanya.

“Jam satu non…”, jawab Roy

“Jam satu…”, keduanya serentak terkejut.

Mario kemudian mengajak Roselina untuk beristirahat, dan ketiganya pun masuk ke dalam rumah. Mario dan Roy tidur di ruang tamu yang sudah berisi dengan laki-laki yang telah pulas tidur. Sedangkan Roselina bergabung dengan wanita lainnya di kamar sebelah yang agak luas.

Suasana pun hening, tak satu pun suara manusia yang terdengar kecuali dengkur ayah Roselina, Andi dan suara-suara binatang malam.

Namun di tempat lain yang agak jauh dari kampung halaman Roselina, yang berada di pinggir Kota Tarutung terdapat sepuluh orang dari beberapa golongan usia, berjenis kelamin pria sedang mengadakan sebuah rencana besar. Semuanya rata-rata mengunakan jaket hitam.

Mereka duduk di kursi mengitari meja panjang segi empat, yang telah berisi berbagai kulit kacang, minuman alkohol, rokok dan lain sebagainya.

“Para anak buahku sekalian, maaf aku terlambat karena aku tadi ada urusan dengan pimpinan mafia dari Malaysia”, katanya yang baru saja datang dan duduk di kursi di lebaran meja segi empat tersebut.

“Kita punya rencana besok, maksudku nanti pagi”, sambungnya dengan meralat ucapannya sambil menghidupkan sigaret kreteknya.

“Omong-omong apa rencana kita nanti bos”, tanya anak buah yang paling muda.

“Kami jadi penasaran…bos”, sambung temannya.

“Kalian belum tahu ya…! Begini, Diamond Tapanuli Hotel tidak memberikan setoran kepada kita”, papar pimpinan mafia tersebut. “Hanya hotel itulah yang belum memberikan upeti kepada kita”, lanjutnya sambil menikmati sigaretnya.

“Jadi, apa yang harus kami lakukan…”, tanya anak buahnya yang lebih dekat duduknya.

“Buat kerusuhan di sana….”, kata si pimpinan dengan membayangkan Diamond Tapanuli Hotelhancur porak poranda.

“Caranya gimana, bos…”.

“Iya, apalagi hotel itu banyak dijaga polisi”, sambung yang paling muda.

“Saya sebagai Jarot pimpinan Rojan Gan’k harus bisa membuat hancur hotel itu, kalau tidak jangan anggap kalian Jarot sebagai bos dan bersiap-siaplah untuk mendapatkan hadiah yang menyakitkan dariku. Bagaimana menurut kalian…”, paparnya sambil berdiri dengan memegang sisi meja sambil memandang anak buahnya satu per satu.

Semuanya tertunduk dan terdiam. Jantung mereka berdegup keras dan tak tahan membalas pandangan bosnya, si Jarot yang penuh dengan kebengisan dan kebencian.

“Rogan…”, panggil Jarot dengan keras.

“Ya…, bos…”, anak buahnya yang paling muda bernama Rogan tersentak kaget dan semakin menunduk.

“Kamu saya tugaskan memimpin misi ini…”.

“Siap, bos. Tapi, gimana dengan polisinya”, jawabnya dengan ketakutan.

“Goblok banget..”, Jarot marah membuat yang lainnya tersentak. “‘Kan ada Letnan Parto yang akan mem-backing kalian…”, ia menunjuk salah satu anak buahnya yang duduk dekat dengannya yang juga seorang perwira polisi.

“Parto…! Bagaimana dengan kamu”, Jarot bertanya pada perwira tersebut. “Apa kamu bisa ikut ambil bagian”, sambungnya kembali dan juga kembali duduk.

“Saya bisa melakukan itu bos. Jangan khawatir, akan saya lakukan semaksimal mungkin”, jawabnya dengan mencoba menenangkan dirinya.

Parto memang satu-satunya polisi yang menjadi anggota Rojan Gan’k. Sejak kecil ia sudah yatim piatu. Entah kenapa Jarot berbaik hati membesarkannya sampai ia bisa mengikuti pendidikan perwira kepolisian. Aneh, penjahat melahirkan polisi yang akhirnya menjadi polisi yang berjiwa penjahat.

“Bagus…”, pujinya. “Sekarang kita ke mobil…”, perintahnya kepada anak buahnya.

“Baik bos…”, jawab anak buahnya serentak.

Pimpinan mafia dan anak buahnya keluar dari ruangan menuju mobil colt diesel berwarna hitam yang mirip dengan model Suzuki APV. Mereka berhenti setiba di samping kiri mobil hitam tersebut.

“Janus…, buka pintu”, perintah Jarot, lalu Janus membuka pintu. “Beritahu apa-apa saja yang akan dipakai untuk melakukan misi ini”, sambungnya kembali.

Lalu Janus mengeluarkan kotak besar dan panjang berbentuk balok dibantu oleh dua orang temannya. Kemudian ia mengambil tas rangsel dan meletakkannya di tanah.

Tampaknya Janus sangat lihai dengan alat-alat tersebut. Maklum saja, ia sudah lama berkecimpung di Kepolisian bidang perlengkapan dan peralatan keamanan, yang akhirnya mengundurkan diri karena menurutnya bawah gajinya tidak sesuai dengan keinginannya.

“Ini namanya MM 45. Cara pakenya begini…”, Janus memperagakan senjata berwarna silver agak kecil.

“Yang ini namanya AK-47, caranya begini…”, sambungnya dengan membidikkan senapan otomatis berlaras panjang ke arah lain.

“Kalau yang ini, apa…”, tanya Rogan dengan mengambil senjata yang mirip dipakai polisi biasanya.

“Ini namanya Pistol Revolver. Cara memakainya sama dengan pistol Baretta”, papar Parto dengan memberi perbandingan pada pistol yang berukuran lebih kecil lagi. Maklum saja, ia sudah paham dengan hal tersebut karena dia adalah perwira polisi yang sudah pernah mencobanya.

“Lha, yang satu ini untuk apa…”, tanya anak buah yang satu dengan logat jawa sembari menunjukkan tas rangsel tadi.

“O…, ini topeng untuk menutup kedok kita”, Janus kembali memberi penjelasan sambil menunjukkan topeng dari rangsel.

Hampir tiga jam Janus memperkenalkan peralatan yang akan dipakai. Berbagai macam senjata ditunjukkan sampai ke Bazooka dan Granade.

“Oke, pilih saja senjata yang kalian sukai dan segeralah istirahat. Kira-kira jam sembilan pagi kita berangkat…”, si komandan memberi perintah.

Tanpa diperintah dua kali, masing-masing anak buah Jarot memilih senjata yang mereka sukai dan kemudian mereka istirahat.

Mentari mulai mengintip di balik gunung, segala jenis unggas yang ada di kampung halaman Roselina menyambut kedatangannya. Aktivitas pun mulai dilakukan oleh para penduduk di seantero desa tersebut.

Semua teman-teman Roy sudah bangun dan segera bergegas. Roselina pun mengajak mereka ke telaga untuk menikmati hangatnya air telaga, sekaligus menghangatkan tubuh dari rasa dingin yang menyelimuti tubuh mereka.

Mereka berangkat ke telaga dengan membawa segala perlengkapan mandi. Roselina merasa Mario sudah ikut. Namun sebaliknya Mario masih tergolek-golek tidur di tikar yang ada dalam ruang tamu.

Mereka berjalan kaki ke telaga. Ricky berusaha mendekatinya agar bisa berdampingan berjalan. Namun hati Roselina merasa ada yang kurang. Dia tanya satu per satu di mana posisi Mario.

“Aduh, nona cantik…! Kamu nggak usah khawatir dengan Mario. Dia mungkin sedang ngopi ama mertuanya, hi…hi…hi…”, Jenny berusaha melucu untuk menghibur Roselina.

“Ah…, kamu ini…”, Roselina mencoba tenang melihat gelagat Ricky yang mulai aneh.